Apakah Anal Seks Halal?

Kenapa istri terkadang sulit diajak berhubungan seks? Bagaimana Islam memandang Oral Seks dan Doggy Style?
Apakah Anal Seks Halal?

Ada jutaan pertanyaan dalam kepalaku mengenai, seks yg begitu membuatku penasaran (maklum, masih lajang dan sedang tidak ingin ber-seks ria pra nikah).
Terlebih lagi saat mendengar ratusan curhatan dari teman-teman ku yg kebanyakan sudah menikah mengenai kehidupan ranjang mereka (jangan ditiru), sampai aku sering membaca beberapa kitab-kitab yg membahas seksualitas mulai dari Kitab Fathul Izzar dan Qurratul ‘Uyun sampai Kamasutra yg ditulis oleh Pendeta Hindu dari India yg kita kenal dengan Mallanaga Vatsyayana.


Ada dua hal yg gak akan pernah lepas dari otak manusia, terutama pria, yaitu kekuasaan dan seks. Dan kalau kita berbicara soal cara agar peradaban kita terbentuk, dua elemen penting itu menjadi penggerak utama yg mendorong perubahan.
Begitulah yg disampaikan Michel Foucault, seorang Filsuf bijak dari Prancis. Atau tepatnya dari Poitiers, sebuah kota kecil di barat daya Prancis. Kota indah yg (semoga)
suatu saat dapat ku pijak.

Kekuasaan adalah seks, seks adalah kekuasaan, kata Foucault.
Foucault pun menguraikan secara rinci tentang sejarah seksualitas di peradaban daerah Barat, tentang bagaimana kronik kehidupan manusia gak akan pernah terlepas dari pemahaman mengenai, seks dan seksualitas.

Tapi lucunya, Foucault ikut menjelaskan kalau seks bisa berada dalam dua definisi, yaitu seks yg dipahami oleh peradaban Barat, dan seks yg dipahami peradaban Timur. Simpelnya, pengertian soal seksualitas agaknya dapat diinterpretasikan dengan berbeda sesuai budaya setempat. 

Di Timur misalnya, termasuk Indonesia yg mengatakan kalau seks adalah tabu dan bukan topik yg pantas di bicarakan secara publik apalagi anak bau kencur, tapi di Barat sana, seks adalah hal yg lumrah, bahkan orangtua para remaja disana tidak terlalu terkejut kalau anaknya melakukan hubungan seks sebelum menikah, dan ada pula budaya yg menyatakan kalau seks adalah bagian paling fundamental dari kehidupan manusia.

Sekarang, pertanyaan pertama,

Kenapa kadang istri begitu sulit dimintai berhubungan seks?
Sampai menimbulkan banyak asumsi di diri para laki-laki, salah satunya,
“Apakah selama ini saya tidak bisa memuaskan nya?”

Atau.. apakah karna si Istri adalah penderita Aseksual, bisa jadi malah dia pernah menjalani sumpah Celibacy (sumpah untuk tidak akan pernah berhubungan intim)?
Hmm, entahlah. Yang pasti istri yg menolak untuk diajak “begituan”, lebih baik jangan dipaksa agar tidak membangunkan singa betina yg tertidur.

Tapi ternyata, seorang terapis seks dan pengarang buku berjudul Sex Matters®, Louanne Cole Weston, PhD, mengatakan,
Wanita yg punya SHBG (sex hormone binding globulin) dengan jumlah yg tinggi, biasanya sering gak bergairah untuk melakukan hubungan seks.
SHBG sendiri sebenarnya adalah protein yg membalut testosteron dan membuatnya menjadi tidak tersedia bagi kebutuhan tubuh wanita. Inilah yg akan menurunkan libido atau hasrat seksual wanita.

Gairah seksual (libido) juga tergantung beberapa hal, seperti kesehatan fisik, kesehatan organ reproduksi, keadaan psikologis, dan pengalaman-pengalaman seksual sebelumnya.
Secara umum, gairah seksual pria sangat cepat. Dimulai dengan respons seksual, lalu muncullah hasrat, gairah dan nafsu yg kemudian mencapai klimaks bernama orgasme. 

Tapi pada wanita, gairah dan hasrat seksual itu naik perlahan-lahan juga sangat berhubungan dengan emosional, adanya rasa nyaman karna merasa disayang, baru lah libido itu akan muncul. Kita harus lebih dulu memberi semacam, stimulasi, seperti belai-belai rambut dan wajahnya sembari memujinya dengan lembut, lalu lanjut dengan mencumbu nya dengan mesra. Wanita memang sulit dipahami. Bukan rahasia umum, Stephen Hawking lah yg mengilhami ku untuk memberi statement ini.

Darimana aku tau padahal aku jalang, eh.. lajang? Lagi-lagi, terimakasih kepada teman-teman ku tadi.

Dalam sisi medis, yg membuat istri susah untuk dimintai berhubungan seks adalah karna adanya beberapa hormon yg tidak pada kadar normal, karna itu wanita jadi malas untuk berhubungan seks.
Seperti, saat wanita kekurangan hormon testosteron, libidonya jadi berkurang.
Kekurangan hormon tiroid juga membuat wanita malas berhubungan seks.
Sementara, kekurangan hormon progesteron akan menyebabkan wanita mengalami masalah psikologis secara umum.

Pertanyaan kedua,

Bolehkah bersetubuh dengan istri dengan gaya.. ANJING!!!
Sorry.. Doggy style. Atau bahasa Arabnya adalah Ijba'/Tajbiyah.
Dulu beberapa wanita Madinah yg menikah dengan kaum muhajirin pernah mengadu kepada Baginda Nabi Muhammad, karna suami mereka ingin melakukan hubungan seks dengan posisi Tajbiyah (Doggy style). 

Kenapa pula mereka mengadu? Karna dulu juga sempat ada rumor dari perempuan-perempuan Yahudi yg mengatakan, “Barangsiapa yg berjima’ (berhubungan seks) dengan cara ijba’ (Doggy style) maka anaknya kelak akan bermata juling.”
Sampai turunlah ayat 223 Surah Al-Baqarah. “istri-istrimu adalah ladangmu, maka datangilah ladangmu itu dari mana saja kamu inginkan.”
Umar Bin Khattab, Sahabat Nabi yg paling ku idolakan pun pernah memberi klarifikasi akan hal ini. Beliau pernah bertanya kepada Nabi Muhammad,
“Wahai Rasulullah, aku telah binasa.” Rasulullah pun bertanya,
“Apakah yg membinasakanmu?”
Umar menjawab,
“Tadi malam aku memutar kendaraanku (ini hanyalah khiasan, maksudnya adalah menyetubuhi istri dari belakang)”.
Lalu Nabi bersabda,
“Setubuhilah dari depan atau dari belakang, dan hindarilah
pada waktu haid dan di dubur.”
(HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Dari penjelasan di atas, jelas lah kalau menyetubuhi istri pakai gaya Doggy style hukumnya Mubah, diperbolehkan, asalkan yg “ditusuk” adalah kemaluan, bukan dubur.
Soal Anal seks, sudah jelas haram dalam Islam. Ya, mungkin hanya beberapa kelompok Syi'ah yg membolehkan.

Walaupun kadang ada rasa pingin karna penasaran 😩
Rasulullah bersabda,
“Janganlah kamu menyetubuhi istrimu di duburnya.”
(HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah).
Dan Nabi juga mengatakan,
“Itu adalah liwath (homoseks) kecil.”
(HR. Ahmad dan Nasa’i).

Pertanyaan ketiga,

Bolehkah Oral Seks dalam Islam?
Sebenarnya agak ragu membahas ini, karna akunku pasti akan di bombardir oleh Netizen Wahabi yg begitu membenci akun ini.

Dalam Islam sebelum melakukan hubungan seks, umatnya dianjurkan untuk melakukan Mula'abah (foreplay) atau pemanasan sebelum berperang menggoyang ranjang.
“Janganlah sekali-kali seseorang di antara kalian menyenggamai istrinya seperti cara binatang, tetapi hendaklah ada pengantarnya.”
(HR. Ad-Dailami).

Ini dianjurkan supaya hubungan seksual yg dilakukan gak mirip dengan hubungan seks yang dilakukan seperti halnya binatang.

Tanpa pemanasan.

Dan salah satu cara foreplay yg paling sakral dan digemari dalam pengetahuan seksualitas modern adalah, Oral Seks.
Oral Seks adalah mencium dan menjilati farj (kemaluan) pasangan baik istri kepada suaminya dan sebaliknya.
Oral Seks sendiri ada banyak gaya, yg paling terkenal adalah gaya 69.
Oral seks sendiri aku yakin boleh, karna menurut ilmu fiqih, segala sesuatu itu boleh (mubah) kecuali ada dalil yg melarangnya. Dan oral seks, belum ada dalil yg melarang.
Gak bisa dihukumi sebagai perbuatan yg haram, karna gak ada dalil yg secara eksplisit melarang dan mengharamkannya.

“Diperbolehkan bagi seorang suami untuk bersenang-senang dengan isteri dengan semua model kesenangan (melakukan semua jenis aktivitas seksual) kecuali lingkaran di sekitar anusnya, walaupun dengan menghisap klitorisnya.”

(Zainudin Al-Malibari, Fathul Mu’in, Jakarta-Dar al-Kutub al-Islamiyyah).
Pembolehan Oral Seks juga ikut didukung oleh seorang Ulama dari kalangan madzhab Maliki bernama Asbagh. Beliau menyatakan kalau suami boleh menjilati kemaluan isterinya, dan juga sebaliknya.

Seperti yg dikemukakan Al-Qurthubi dalam tafsirnya

“Ashbagh salah satu ulama dari kalangan kami (Madzhab Maliki) telah berpendapat, boleh bagi seorang suami untuk menjilati kemaluan isteri dengan lidahnya.”
(Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, Kairo-Darul Hadits).
Tapi menurut Qadli Abu Ya’la, salah satu Ulama dari kalangan madzhab Hambali mengatakan kalau aktivitas Oral Seks sebaiknya dilakukan sebelum melakukan hubungan seks (jima’).

Seperti keterangan yg ada di Kitab Kasyful Mukhdirat war Riyadlul Muzhhirat li Syarhi Akhsaril Mukhtasharat yg ditulis Abdurrahman bin Abdullah al-Ba’ali.
“Al-Qadli Abu Ya’la al-Kabir berkata, boleh mencium vagina isteri sebelum melakukan hubungan badan dan dimakruhkan setelahnya.”

(Abdurrahman bin Abdullah al-Ba’li al-Hanbali, Kasyful Mukhdirat, Bairut-Dar al-Basya`ir al-Islamiyyah).
Allah lebih mengetahui.

Penulis: Angga Prasetya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel