Apakah kalian yang tidak berjilbab sering dianggap wanita tak benar?

Dan kalian yg berjilbab lantas sudah merasa paling benar?
Aku merasa kasihan dengan wanita yg di cap sebagai wanita tidak baik hanya karna gak pakai Jilbab.

Tak semua wanita berjilbab itu adalah wanita yg baik, alim, suci. Banyak yg suka bermaksiat, jahat, licik, nakal tukang zinah.
Dan tak semua wanita yg tidak berjilbab adalah wanita yg buruk. Banyak dari mereka yg malah menolak saat diajak berhubungan seks atau masih punya harga diri saat diajak bermaksiat.


Jilbab adalah penutup kepala yg cuma dikenal di Indonesia.
Sedangkan di Negara lain, ada sebutan sendiri untuk Jilbab ini. Kalau di Iran dikenal dengan Chador, di India dan Pakistan disebut pardeh, di Libya disebut milayat,
kalau di Turki namanya charshaf, dan dipanggil Hijab di Negara Arab-Afrika macam Mesir, Sudan, atau Yaman.

Hijab pun bukan hanya dikenal di Islam, di dalam kitab Tauratnya Agama Yahudi, ada juga istilah yg maknanya sama seperti hijab, yaitu, tif’eret.
Hal yg sama pun ada di Kitab Injilnya orang Nasrani, ada istilah yg makannya sama dengan Hijab, yaitu zammah, re’alah, zaif atau mitpahat.

Di Indonesia, banyak wanita nya yg memakai Jilbab hanya untuk fashion dan estetika. Mereka lupa esensi dan makna Jilbab, Hijab itu sendiri.
“Hijab dan akhlak memang dua hal yg berbeda, Hijab adalah perintah Tuhan...”,
bla bla bla, ya ya, Mainstream.
“Salahkan Akhlak nya, jangan Jilbabnya..”
Hmm..
Karna pendapat ini banyak orang yg berjilbab merasa boleh seenaknya berbuat bodoh padahal kepalanya dilapisi kerudung.
Kita gak pernah menyalahkan Jilbabnya, kita hanya bilang kalau, gak semua yg berjilbab itu adalah wanita baik dan alim.
Suka atau tidak suka, harus kita akui kalau memang banyak wanita berjilbab yg kurang terdidik akal dan moralnya.
Jadi, mungkin kita bisa berhenti memberi stereotip bahwa,
“Wanita berjilbab adalah wanita suci.”
dan, “Wanita tidak berjilbab adalah wanita buruk, pendosa.”
Ini stereotip bodoh yg berat sebelah, gak fair.
Kita gak bisa menjustifikasi etika dan sifat baik/buruk seseorang hanya dari pakaian yg mereka kenakan.

Pelacur itu banyak yg memakai Jilbab saat tengah, tidak “bekerja”.
Wanita yg memberi sumbangan kepada yayasan yatim piatu, tidak semuanya memakai Jilbab. 
Itu contoh kecil.

Ada wanita berjilbab yg mengatakan,
“Jangan samakan Jilbab dan akhlak.
Salahkan orangnya, jangan Jilbabnya.
Karna Jilbab tidak bisa dijadik
an tolok ukur sikap seseorang. Jilbab itu kewajiban, salahkan akhlak nya dong.”

Saat ada wanita “tidak religius” atau Non-Muslim yg mengkritik Muslimah berjilbab tetapi berpacaran, tetapi berzinah, tetapi suka menggosip, tetapi otaknya bejat dan nakal.
Tapi anehnya Akhwat ini akan menyerang wanita “tidak religius” atau Non-Muslim tadi
sebagai wanita rendahan, wanita buruk, bukan wanita baik-baik, bahkan lonte hanya karna memakai pakaian terbuka, atau tidak memakai Jilbab.
Perempuan² berjilbab ini menghakimi wanita-wanita yg tidak berjilbab sebagai wanita buruk hanya karna pakaiannya, hanya karna wanita-wanita itu gak memakai Jilbab atau imannya gak sama.

Ada apa ini? Ini kah yg dinamakan standar ganda? Hipokrit?

Di satu sisi dia bilang jangan menghakimi orang lain hanya karna pakaian yg dipakai, tapi di satu sisi dia juga menghakimi orang lain hanya karna pakaiannya.

Itu semua hanyalah al-mutabadir fi al-fahm (yg tersirat dalam pikiran) mereka saja, jadi apapun yg gak mereka setujui dalam otaknya, akan menjadi sebuah kesalahan.
Bagi mereka, berbuat jahat it's okay asal memakai Jilbab. Tapi kalau gak pakai Jilbab, sekalipun kamu wanita baik-baik akan dianggap sebagai lonte.

Pemaksaan beribadah (dalam konteks ini berjilbab) seperti ini cuma akan menciptakan hipokrisi atau kemunafikan massal. Memakai Jilbab itu adalah tindakan sukarela. Gak bisa dipaksakan.

Nasihati boleh, paksa jangan. Yang masuk Neraka toh dia, kamu juga bisa terseret masuk Neraka loh, karna memaksa orang untuk beragama.

Forced worship stinks in God’s nostrils, kata Roger Williams, seorang teolog Amerika dari New England.

Atau, Ibadah yg dipaksakan, akan berbau busuk di hidung Tuhan.
Memakai Jilbab hanya karna takut cemoohan manusia adalah menutup aurat yg munafik. Harus ikhlas dari hati.

Dasar dari beribadah adalah voluntarism, kesukarelaan.
Ikhlas, kalau dalam bahasa Quran. 

Dan jangan apa-apa itu dianggap sebagai hal yg cabul atau jorok. Dikit-dikit cabul.
Ada cewek pakai pakaian terbuka sedikit aja, dikatakan cabul, mesum dan rendahan.
Ada kitab berjudul, Raudlatul Mu'aththar, atau The Perfumed Garden, atau Kebun Wewangian, yg adalah kitab Bahasa Arab tapi isinya tata cara bersetubuh dengan 189 gaya dan posisi berbeda. Ada juga kitab Kamasutra.

Apakah semua kitab itu dibilang cabul?

Kalau iya, maka kamu perlu mendalami definisi “cabul” itu sendiri.
Wanita yg berpakaian terbuka itu gak semuanya cabul, itu hanya hobi mereka atau mode fashion saja.

Erotisme sendiri adalah sesuatu yg akan selalu mendampingi manusia, dari dulu sampai sekarang.

Dan untuk mengantisipasi dampak dari erotisme itu, dibuatlah pandangan soal moral. Dan makna moralitas berganti dari waktu ke waktu. Dulu, di zaman nenek kita muda, cewek yg pakai rok mini itu dianggap cabul. Perempuan harus pakai kain sarung panjang sampai menutupi mata kaki.

Sekarang, standar moralitas pun berubah.
Cewek yg pakai rok pendek gak lagi cabul, karna sepertinya udah dianggap biasa saja di jaman ini.

Karna itu, kalau kalian mau menerapkan suatu ukuran atau standar untuk semua hal sesuka hati kalian, itu adalah pemaksaan.
Sikap ini harus ditolak.
Karna, ukuran moral satu pihak bisa aja gak cocok bagi pihak lain.
Biarlah cewek berpakaian semau mereka tanpa ada stereotip apapun.
Karna, aku kenal banyak cewek berjilbab tetapi pacaran. Ada juga wanita yg selalu memakai Jilbab tapi jarang sholat, hamil di luar nikah, ada yg suka ngomong jorok, bergosip, bahkan berjudi atau melawan orangtua nya.

Tapi ada cewek yg gak memakai Jilbab tapi sholat nya gak pernah tinggal, dia baik, sopan, dan jangankan berhubungan seks, ciuman aja gak pernah.

Jadi hilangkan lah stereotip kalau setiap wanita berjilbab sudah tentu baik, dan wanita yg gak pakai Jilbab sudah tentu buruk dari otak kita. Karna itu gak benar.

Dan buat kalian wanita berjilbab standar ganda, Agama adalah kerangka orientasi individu untuk memahami dunia. Memahami manusia. Bukan menyalahi dan memaki manusia lain, lalu merasa paling suci di dunia. Ada korelasi antara struktur sosial dan watak sosial dengan cara kalian beragama.

Terakhir, mungkin ada benarnya quotes ini,
“Don't Judge a book by it's cover.”
Memang, manusia diberi satu organ yg cukup penting. Yaitu mata. Karna organ ini, Manusia bebas melihat lalu menilai orang lain seenak jidatnya saja, tanpa mengenal lebih dalam orang tersebut.

Sangat mudah bagi kita untuk menilai seseorang tampak aneh, bodoh, gak sopan, kurang ajar dan sebagainya. Tapi apakah semua itu membuat kalian lebih baik dari mereka? Belum tentu.

Tidak ada manusia yg 100% baik dan sempurna, tapi juga tidak semua manusia itu 100% jahat dan laknat. Penampilan luar gak selalu mencerminkan apa yg ada di dalamnya. Kita selalu berfikir kalau kita itu selalu tau, apa yg terjadi sama semua hal dan semua orang. Tapi bisa jadi kita ini malah sebenarnya gak tau sama sekali. Hikmah aja bisa bersembunyi dibalik musibah, apalagi penampilan seseorang.

Jadilah manusia bermental pemikir, bukan manusia bermental penghakim dan penilai.

Penulis: Angga Prasetya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel