Banyak dari kita yang bermimpi bisa punya jodoh yang Alim

Banyak dari kita yg bermimpi bisa punya jodoh yg Alim, berilmu Agama tinggi, juga Shalih/Shalihah.

Yang pria, sering berkhayal punya pasangan wanita bercadar yg punya Akhlakul Karimah, Zuhud, Tawadhu dan Tawakal di masa² Jomblo nya yg menyedihkan karna kesepian.
Wanita bercadar yg imut², yg kalau liat dia jalan aja bikin hati adem, apalagi kalau dia adalah calon istri yg seperti disebutkan dalam Hadits Rasulullah soal memilih calon istri (Mukhtar al-hadits an-nabawi).


Wanita bercadar yg bisa mendidik anaknya menjadi pribadi yg santun macam dia, karna dia sadar kalau, Al-Ummu madrasah Al-ula (Ibu adalah sekolah pertama bagi anak- anaknya).
Wanita bercadar yg bisa menjadi calon istri yg patuh pada suami, pintar masak, selalu bersyukur atas apa yg diberi suami.

Uang belanja sehari cuma 20 ribu aja dia gak ngeluh. Malah senyum dan memberi semangat ke suaminya. Bayangin kalau istrimu anak alay, pasti kepalamu itu udah dilempar piring kalau ngasih duit belanja cuma segitu. Dia akan marah² satu harian, apalagi kalau tengah datang bulan. Kalau sudah begini, ya kita sebagai suami cuma bisa diam mengalah, suami takut istri, melawan pun nanti malah makin parah.

Macam Amirul Mukminin, Khulafaur Rasyidin, Sayyidina tercinta, Umar bin Khattab (Sahabat yg paling ku idolakan), Beliau ini kalau dimarahi istrinya lebih memilih diam, walaupun di luar sana orang² pada takut setengah mati sama dia.

Itulah untungnya punya istri bercadar yg paham Agama, apalagi kalau wajahnya itu manis, enak dipandang, seperti yg dijelaskan sama Imam sufistik tercinta kita, Al-Ghazali sang mahaguru filsafat Islam dalam kitabnya yg berjudul, “Ihya’ Ulumuddin (The Revival of the Religious Sciences)”, wanita cantik adalah wanita yg punya wajah dengan paras cantik, menawan, dan elok untuk dilihat.

Atau yg wanita, mereka juga punya persyaratan maksimal (al-hadd al-a’la) dalam memilih suami. Kalau dia bilang fisik adalah tidak penting, atau fisik menjadi persyaratan minimal (al-hadd al-adna), saya pastikan itu omong kosong, wanita juga pasti melihat fisik calon pasangannya.

Mereka bermimpi bisa punya suami yg gagah, tampan, berwawasan luas akan Islam, seperti saya contohnya (Selfclaim yg tidak pada tempatnya, hingga membuat muntah satu dunia).

Yang paham Agama, baik, santun, tinggi, berjenggot, ganteng (macam saya *plak*) serta bisa menjadi Imam yg baik lagi sempurna untuk menuntun anak istrinya menuju Jannah.
Yang cerdas seperti Imam Ali, yg gagah berani macam Umar bin Khattab, yg kuat macam Khalid bin Walid, yg tegas macam Abu Bakar ash-Shiddiq, dan kalau bisa yg banyak duit tapi dermawan, tidak sombong, dan rajin menabung seperti Utsman Bin Affan.
Tentu, kita semua baik yg laki² maupun yg perempuan, sangat ingin, punya istri/suami macam yg diatas. Apalagi Tuhan sendiri sudah menjanjikan, kalau kita pasti akan punya pasangan dalam Surah Ar-Rum: 21.
Menikah. Dalam hukum Islam, pernikahan adalah akad yg sangat kuat. 

Mitsaaqan gholiidhan, untuk menaati perintah Allah dan juga adalah salah satu bentuk ibadah pula.
Di dalam kitab al-Minhaj as-Sawi dikutib beberapa niat yg baik untuk menikah, salah satunya adalah untuk menjaga farji (kemaluan) dari zinah.
Tapi tentu juga, itu gak gratis dan sesimpel itu. Ada “sacrifice” yg harus kita lakukan kalau ingin punya calon istri/suami seperti yg diatas.

Seperti, kita harus lebih dulu punya modal untuk menikah dan sesudah menikah.
Karna anak istrimu nanti kan juga perlu dikasih makan, bukan cuma harapan 😠
Gak kenyang kalau cuma makan janji dan harapan. Dan gak mungkin juga kau kasih dia makan rumput dan tanah, karna istrimu bukan lembu.
Lalu, coba kita tengok Surah An Nur: 26, disitu diterangkan kalau jodoh adalah cerminan diri. Pria baik, istrinya baik. Istri baik, istrinya baik. Eh, suaminya baik (maaf, kebanyakan nonton Yuri).

Nah, jadi, kita terlalu fokus dan sibuk berharap agar bisa dapat jodoh seperti yg diatas, sementara kita sendiri lupa memantaskan diri, memperbaiki diri.
Kita juga harus sering mengukur kualitas individu, kalau mau dapat jodoh pria yg Shalih, maka kamu sendiri pun harus jadi wanita Shalihah. Begitupun sebaliknya, mau dapat istri Shalihah, ya jadi lah pria Shalih agar bisa menjadi imam yg baik.

Ingin dapat yg terbaik, maka jadi lah yg terbaik. Bukan begitu?

Selagi masih sendiri ini lah, harusnya kita sibuk memperbaiki diri. Hijrah.
Hijrah memperbaiki diri itu wajib dalam Islam dan bagimu, karna Hijrah adalah bagian dari Agama yg juga adalah keniscayaan hidup (min lawazim al-hayah).
Muhasabah (introspeksi) diri sendiri bagi umat Islam juga dapat menumbuhkan semangat kosmopolit, berkeadaban, dan beriman yg lebih baik lagi. I assure you.
Keluar dari “darul kufur” menuju “darul Islam”.
Keluar dari kekufuran menuju keimanan.

Hijrah Sulukiyyah (merubah akhlak menjadi lebih baik). Dan Hijrah menuju Tuhan (al-hijratu ila-l-Lah).
Bukan sibuk menghayal bisa dapat istri Shalihah bercadar, atau suami Shalih berjanggut dan berwawasan Agama luas.

Instropeksi dulu diri kita, baru niat kan untuk memperbaiki diri (berhijrah) lalu kita harus punya rencana untuk mau, untuk harus berubah. Kalau sudah ada niat, mulai lah dekat kan diri kita dengan Tuhan, seperti lebih aktif dalam memperdalam ilmu Agama, bersedekah, Tadarus Al-Qur'an, sholat dan puasa Sunnah juga kita lakukan selain yg wajib, perbanyak baca Al-Qur'an dan Al-hadits lalu amalkan, jangan lagi kita tinggalkan sholat, dan berteman dengan orang² Shalih juga sangat membantu. 

Percaya lah pada saya, orang ganteng ini.
Setelah kita terbiasa dan nyaman dengan semuanya, lalu kita evaluasi, kemudian istiqomah. Inshaa Allah, Hijrah itu sebenarnya gampang. Tapi niat kita gak ada.

Kalau kita sudah terbiasa hidup dalam lingkaran pendekatan Agama seperti itu, maka jodoh yg Shalih/shalihah yg kita idam²kan pun Inshaa Allah, Allah kasih.
Karna Allah tahu, kita sudah siap.
Aamiin.

Kita pun dapat banyak keuntungan, kita jadi pribadi yg lebih baik lagi dari yg sebelum nya, dan akan banyak akhwat dan ikhwan yg kepincut sama kita.

Penulis: Angga Prasetya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel