Belajar bertoleransi lewat serial animasi, Upin dan Ipin

Kenapa Upin dan Ipin adalah tontonan yg baik bagi anak, bahkan orang dewasa?
Karna ada banyak filosofi dibalik kartun ini. Kartun ini bisa menjadi contoh betapa toleransi itu sangat indah, bukan hanya contoh yg baik bagi masa² perkembangan anak yg masih suka meniru, tapi juga orang dewasa yg sifatnya mengalahkan anak kecil karna sudah mabuk Agama.

Islam di serial animasi ini digambarkan sangat mencintai budaya sendiri seperti yg diajarkan Nabi, bukan melulu mencintai budaya Arab.


Islam di serial animasi ini digambarkan sangat cintai damai dan menghargai saudara yg berbeda budaya dan iman seperti yg diajarkan Nabi, bukan menjauhi, mengutuk, mengumpat mereka yg berbeda budaya, suku, dan iman.

Upin dan Ipin adalah animasi asal Malaysia yg termasuk
dalam sastra anak.

Sastra anak adalah karya sastra yg tema, ide, dan ruang lingkupnya adalah seputaran
kehidupan cerita yg berkorelasi dengan dunia anak², bahasa yg dipakai sesuai dengan perkembangan intelektual dan emosional anak.

Ada banyak hal yg bisa anak kecil, bahkan orang dewasa sekalipun tiru baik secara kognitif maupun afektif dari Upin dan Ipin.

Seperti, meniru sifat mandiri Upin dan Ipin.

Mereka yatim piatu. Tinggal bersama Opa mereka yg sudah tua (tapi sepertinya sedikit alay ala teenager), and the most beautiful “monster” I've ever seen (Kak Ros).

Pernah beberapa kali mereka merajuk memang karna tak dibelikan mobil²an, sementara teman mereka punya mobil²an yg keren terutama si gendut kikir bernama Ehsan (anak manja). Lalu setelah sadar kondisi Opa mereka yg tak selalu punya banyak uang dan dapat bully sekaligus ceramah ketus dari Kak Ros – yang akan saya nikahi bila saja bukan karakter fiksi – ini, Upin Ipin akhirnya mencari uang sendiri untuk membeli apa yg mereka mau. Mandiri sedari kecil, sesudah besar pasti akan menjadi orang hebat. Bukan hanya sekali, sering kali dua bocah kembar ini terlihat mencari uang sendiri, mulai dari membantu guru mereka, membantu Tok Dalang (seorang tua penyendiri yg menjadi raja anak²), membantu Mail (kang ayam goreng yg bossy, perfectionist, introvert, karakter paling keren di Upin Ipin), jualan rambutan, sampai jualan barang bekas ke Ahok, eh, Ah Tong (pria Cina botak yg kembali punya rambut di season² baru Upin Ipin).

Meniru sikap Nasionalisme dan cinta Budaya Lokal dari Upin Ipin. Ada banyak episode dalam Upin Ipin yg menjelaskan betapa cintanya warga Kampung Durian Runtuh kepada Malaysia dan Budaya mereka dalam cara yg keren dan tidak monoton. Mereka bangga pada Budaya mereka, hingga Negara lain menjadi kenal dan ikut tertarik dengan Budaya mereka. Bukan terus keranjingan sama budaya Timur Tengah sampai lupa kalau budaya sendiri itu luar biasa keren dan banyak warna juga corak.

Meniru kepedulian dan rasa setia kawan dari Upin Ipin. Seperti saat Ijat rumahnya terbakar, kedua tuyul ini rela panas²an bahkan hujan²an hanya demi mengumpulkan uang untuk sahabat mereka, Ijat. Dan banyak lagi contoh heroik yg epik dari mereka dalam berkawan.

Dan yg paling keren dari Animasi ini yg tak banyak disadari orang selain tanggung jawab, kemandirian, tolong-menolong, kepatuhan tehadap agama Islam, orang tua, dan guru serta menyisipkan pesan² lainnya adalah, meniru sikap saling toleransi antar manusia yg berbeda Suku dan Agama di kampung Durian Runtuh. 

Di Kampung itu sudah pasti mayoritas Melayu asli. Tapi mereka sadar, mereka hidup bukan hanya dalam kelompok mereka sendiri. Ada kelompok lain yg ikut menjadi bagian dan kekuarga baru mereka, seperti orang² Cina, India, bahkan Indonesia yg disana menjadi minoritas tapi tidak ditindas seperti di Negeri kita ini.

Ada banyak contoh betapa indahnya toleransi dalam animasi ini, seperti saat adanya pertunjukan Opera China. Acara tahunan yg biasa diselenggarakan untuk memperkenalkan kultur dan Budaya China ke orang² Melayu di Malaysia, karna sama seperti di Indonesia, disana etnis Tionghoa juga cukup banyak. Tapi mereka sama sekali tidak keberatan, tidak marah dan menganggap kalau Cina sedang berusaha menginvasi Negara mereka dan menganggap Pemerintah mereka antek China. Mereka sama² menikmati acara itu.

Upin Ipin, beserta keluarga, teman dan ratusan warga lainnya ikut meramaikan acara tersebut bahkan mengenakan pakaian khas China dalam acara China lainnya tanpa ada satupun warganya yg latah mengutip Hadits, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum..”
Dan Mei Mei (calon istri Mail) pun dengan bijaknya melarang Upin Ipin memakan sate Babi saat perayaan Opera China karna dia tau dalam Islam, dilarang makan babi.

Atau saat perayaan² Khas India, karna ada banyak orang Tamil (saya juga keturunan Tamil loh 😌) di Malaysia yg sudah pasti mereka juga akan merayakan hari² besar mereka di Malaysia karna mereka sudah menjadi bagian dari Malaysia. Upin Ipin beserta warga lainnya bukan hanya ikut meramaikan acara itu, bahkan membantu persiapan acara tersebut.

Hal yg sama juga dilakukan para Non-Muslim dan Non-Melayu disana, mereka ikut berpartisipasi dalam perayaan lebaran Islam. Ikut membantu, memberi, dan ikut bermaaf-maafan.

Mereka sadar, dengan menghormati keyakinan dan hak orang lain, maka takkan ada ribut di sana-sini. Masyarakat Indonesia bisa mencontoh mereka, dan dalam ijin Tuhan Yang Satu, niscaya Negeri kita tercinta ini akan aman, damai, sentosa, dan semakin maju karna Masyarakat nya fokus untuk menata Negara, bukan sibuk membenci dan mengkafirkan.
Karna Toleransi adalah substansi dari falsafah dan nilai² Pancasila serta UUD tahun 1945 yg merupakan dasar Negara kita.

Penulis: Angga Prasetya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel