Curhat Di Facebook ? Awas di Bully!

Di Indonesia kalau ada penderita depresi yg curhat di Facebook pasti dianggap remeh, dibully, ditertawakan, dihina.

Jangan. Karna bisa jadi mereka akan berakhir seperti Jang Ja Yeon, Jonghyun SHINee, Kurt Cobain, Chester Bennington atau Robin Williams.

Beberapa dari kita memang memakai topeng di media sosial, tapi tak sedikit juga orang yg justru menjadikan sosial media sebagai cerminan diri yg sesungguhnya.



Mereka senang untuk sharing bukan hanya apa yg mereka pikirkan, tapi apa yg mereka rasakan dan alami. Karna mereka butuh nasihat dan dukungan.
“Halah, yg suka curhat sok suicidal dan depressed di Facebook itu cuma caper. Kalau benar² mereka penderita depresi pasti mereka malu dan gak mau curhat apalagi di Facebook. Pansos aja.”

Nope. My friend. Biasanya memang penderita depresi akan menarik diri dari lingkungan. Menjadi ansos. Tapi ada juga yg sebaliknya. Mereka ingin orang tahu soal penderitaan nya, dan bukan karna dia cari perhatian, dia cuma ingin dukungan dan nasihat dari orang lain yg peduli pada mereka, karna mungkin saja di dunia nyata tak ada yg peduli dengan masalah mereka.

Intinya kalau kita melihat ada postingan yg berbau depresi di media sosial, jangan di abaikan apalagi dibully dan dimaki. Tapi dirangkul. Nasihati dia baik², dukung dia. Beri semangat. Apalagi menurut surat kabar Guardian, kita yg merupakan generasi Z, atau yg lahir di rentang tahun 1995-2015 punya kecenderungan untuk terkena depresi dan bunuh diri dibanding generasi² sebelumnya.

Karna depresi bukanlah penyakit mental yg main². Depresi adalah gangguan mental yg dapat mempengaruhi pola pikir, suasana hati, dan aktivitas sehari-hari akibat rasa sedih, rasa sakit berkepanjangan yg membuat si penderita tidak punya semangat hidup lagi. Alasannya bermacam-macam. Ada yg karna sering dibully di sekolah, karna masalah keluarga, Asmara, Ekonomi, atau bahkan Agama.. dimana beberapa ciri penderita depresi adalah,

-Emosi yg mudah terpancing.
-Sering merendahkan dan menyalahkan diri sendiri akan apapun.
-Nafsu makan hilang tiba².
-Gampang panik, cemas, dan kelelahan.
-Insomnia dan banyak pikiran.
-Tak punya semangat hidup, selalu merenung, dan berpikir negatif akan hidupnya.
-Antisosial dan susah untuk ramah dengan orang lain.

Daripada menghakimi dan menganggap orang yang melakukan bunuh diri adalah orang yang lemah, lebih baik kita mencari tahu dulu alasan apa yang mendasari seseorang sampai memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Karna kalian yg membully kami tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya dibully di sekolah 😊 sampai trauma, dan selalu ingin bolos sekolah karna malas melewati hari² itu lagi. Tidak akan pernah tahu rasanya menjadi broken home. Kesepian. Atau ada juga yg punya fisik yg jelek sehingga selalu menjadi bahan caci maki.

They deserve some help. Dengan menceritakan sedikit beban hidup mereka di sosial media, mungkin akan bisa sedikit menekan rasa depresi dan pikiran yg mulai tak rasional.
Tanpa bisa kita ukur dan rasakan, mereka telah menjalani penderitaan jauh di dalam hatinya dan menutupinya dengan senyuman lebar di wajah mereka. Semangati mereka, nasihati, dan ceritakan bahwa mereka masih sangat dibutuhkan di dunia ini.

And always remember, suicide isn't the only way out, the only way to escape the pain.
There are many effective ways to reduce depression symptoms and get better.
These terrible feelings and thoughts are not constant and will pass.

Penulis: Angga Prasetya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel