Hijrahlah Yang Benar dan Kaffah!

Bagaimana kalau saya katakan di jaman sekarang pemakaian cadar untuk menutupi diri bukan lagi dianggap sebagai prioritas? tapi hanya untuk trend dan gaya²an dan ikut²an? Apalagi oleh perempuan² baru Hijrah di Negara kita yg belakangan ini memang lagi banyak ABG yg kemaruk bergaya dan berbahasa kearab-araban, padahal Arab sendiri saja sudah sangat liberal dan moderat. Hingga kita tidak bisa lagi membedakan antara akhwat “shalihah” dengan cadar mereka, dengan ABG² alay ADM.
Mungkin tidak terlalu salah.

Karna faktanya, memang pemakaian cadar di jaman ini, di Negara ini, kebanyakan hanya untuk ajang pamer. Entah apa yg mereka pamerkan. Mungkin mereka kira setelah bercadar, mereka otomatis alim dan paham Agama. Salah. Banyak yg memakai cadar ilmu Agamanya minim, jarang sholat, pacaran, bahkan tak bisa baca Qur'an.


Anda bisa buktikan sendiri kalau tak percaya. Karna apa? karna mereka pakai cadar hanya untuk pamer akibat ikut-ikutan. Karna manusia memang adalah mahluk peniru (Homo Mimesis). Manusia adalah mahluk yg multidimensi.

Salah satu dimensi yg tertanam dalam otak dan kodratnya adalah adanya hasrat untuk meniru (mimesis).

Mereka terpengaruh untuk ikutan memakai cadar karna dia liat cadar lagi trend nih sekarang, tapi tak paham konsep dan sistem nya. Hanya IKUT-IKUTAN.
Ada yg bercadar tapi malah pakai aplikasi tikt-tok, bercadar tapi hobi selfie - lengkap dengan atribut tambahan seperti topi, kacamata ala Harry Potter diatas kepala, bercadar tapi masih hobi kumpul dengan lelaki, foto pakai skateboard. Ada juga yg bercadar tapi cuma hijrah di dunia maya.

Di dunia maya teriak-teriak pacaran itu haram tapi stalk ikhwan-ikhwan shalih tiap detik (foto nya juga di save), lantang menyiarkan nikah muda karna terlena dengan video-video soal nikah muda di grup kaya ITP atau Motivasi hijrah. Tapi di dunia nyata? malah pacaran, mau nikah muda.. tapi pemalas. Bangun siang, masak gak bisa.
Ini akibat pakai cadar hanya ikut-ikutan.

Saya tidak membenci kalian yg bercadar, saya seratus persen mendukung siapapun yg bercadar selama mereka paham fungsinya. Saya cuma kasihan dengan mereka yg bercadar tapi di cap sebagai teroris hanya karna secuil wanita bercadar yg menjadi teroris. Di cap sebagai tukang pamer - sombong - antisosial - dan sok alim, hanya karna sebagian kecil wanita yg memakai cadar tingkahnya seperti itu.

Dan sekarang.. Cadar gaul. Perempuan bercadar tapi mirip anak alay. Hingga cadar yg suci kehilangan esensinya kemudian berubah makna.
Dimana ada aksi (stimulus) pasti ada reaksi (respon).
Postingan ini hanya, predisposisi saya mengenai cadar gaul.
Saya tidak tidak ada niat sedikitpun merendahkan kalian yg bercadar, apalagi kalian sudah pernah membaca postingan-postinganku yg terlebih dahulu ada mengenai cadar. Saya pro cadar. Dan saya siap membela siapapun yg bercadar tapi mendapatkan diskriminasi.
Tapi satu hal yg perlu kalian ingat, ketika memutuskan untuk memakai cadar, berarti kalian juga sudah siap dengan segala resikonya. 

Karna memakai cadar adalah suatu langkah yg besar dan agung. Tidak boleh main-main. Sama seperti sains, untuk memakai cadar maka kalian perlu terlebih dahulu tau pengetahuan (knowledge) dan pemahaman (comprehention) yg baik mengenai cadar, barulah bisa melakukan penerapan (aplication) yg baik pula.

Perlu adanya kognitif (keyakinan dan kesadaran) yg penuh akan cadar, supaya ada afektif (perasaan) dan konatif (perilaku) yg baik pula setelah kalian memakai cadar.
Dan itu, tidak akan kalian dapatkan kalau memakai cadar karna ikut-ikutan trend, percaya sama saya.

Kalau memakai cadar cuma karna ikut-ikutan, ujungnya kalian cuma akan menjadi, cadar gaul. Kalau mau gaul boleh, silahkan jadi anak alay, tapi buat apa pakai cadar?
Jangan dipaksa kalau belum mampu, apalagi niatmu pakai cadar bukan untuk hijrah, tapi cuma untuk pamer dan ikut trend.

Tambahan:
Perlu kita ketahui dulu disini bahwa, hukum bercadar adalah Sunnah.
Gak ada alasan dan dalil yg cukup komprehensif untuk memberikan legalitas atas wajibnya pemakaian cadar.
Anjuran memakai cadar ini bersifat fleksibel dan relatif dalam aktivitas sehari-hari kalian yg sedang atau ingin memakai cadar.

Harus bisa kalian sesuaikan dengan kondisi - situasi - profesi tertentu, memakai cadar sebagai penutup wajah itu sifatnya situasional.

Kalian gak berdosa kalau cuma karna gak pakai cadar, apalagi yg memakai cadar cuma untuk menyombongkan diri karna ingin dianggap sudah sangat Shalihah, atau untuk selfie pakai cadar.

Kalau orangtua melarang memakai cadar walaupun sudah berulangkali kalian jelaskan, maka turuti perintah mereka untuk tak memakai cadar.

Kita pakai kaidah ini,
“Menolak mafsadat lebih didahulukan daripada mendatangkan mashlahat.”
Kalau dia pakai cadar maka dapat mashlahat yaitu melaksanakan Sunnah, dan kalau dia gak pakai cadar maka menolak mafsadat yaitu tidak ridhonya orangtua dan putus Silaturrahmi.

Maka dengan kaidah ini, dia harus menolak mafsadat dengan tidak memakai cadar. Selain itu hukum wajib didahulukan dari hukum sunnah. Apa itu hukum wajibnya? Berbakti kepada orangtua.

“Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak…..” (QS. An-Nisa: 36).
Dalam hal ini, Birrul Walidain (berbuat baik kepada orangtua) lebih diutamakan karna wajib, dibanding melakukan Sunnah memakai cadar.

Mayoritas ulama mengatakan cadar ini Sunnah, bukan wajib.
Jangan cuma gara² terlalu pingin memakai cadar, hubungan sama orangtua, keluarga bahkan teman jadi rusak.

Cadar/burqa adalah kain penutup wajah yg berfungsi sebagai alat pencegah fitnah dan zinah dari Ajnabi (pria Non-mahram).

Dalam risalah kitab, “niqab adatan wa laisa ‘ibadatun” (cadar adalah adat, bukan ibadah) yg diterbitkan Darul Kutub al-Mishriyyah, dimana kitab ini adalah kompilasi dari makalah yg di tulis sama 4 ulama terkenal asal Mesir yaitu Syekh Mahmud Hamdi Zaqzuq, Syekh Muhammad Sayyid Thantawi, Syekh Abdul Halim Abu Syaqah, dan Mufti Jumhur Syekh Ali Jumu’ah, bahkan juga ada pandangan Syekh Mohammed al-Ghazali al-Saqqa atas cadar.
Di kitab itu dikatakan kalau cadar/burqa/niqab bukanlah sesuatu yg wajib.
Maka karna itu, perempuan boleh gak memakai cadar ataupun membuka cadarnya karna cadar adalah Sunnah, pendapat ini juga di dukung mayoritas ulama madzhab Hanifiyah, Malikiyyah, Syafi’iyah, dan ulama seperti Imam Mardawi dari golongan madzhab Imam Ahmad, Imam Auza’i, atau Abi Tsaur dari golongan mujtahid Salaf.

Malah dalam nash madzhab Malikiyyah, perempuan yg memakai cadar itu hukumnya jadi makruh, kalau pemakaian cadar bukanlah adat/kebiasaan di wilayahnya, karna termasuk perbuatan ghuluw dalam beragama.

Maka aku dalam hal ini, aku mendukung dan menghormati siapapun yg memakai cadar, asal sadar diri, seperti tidak memandang remeh dan rendah perempuan lain yg tidak bercadar/menutup aurat dan merasa paling paham Agama, serta bijak dalam memakainya. Bukan hanya untuk dipakai selfie, tapi semoga ikut diaplikasikan di dunia nyata, mengikuti kajian yg ada dan mempelajari Islam lebih dalam. Jadilah Muslimah yg berperilaku humanis, fleksibel, dan relevan dengan segala kondisi zaman.

Penulis: Angga Prasetya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel