Indonesia Anti Pacaran ?

ANTI INDONESIA TANPA PACARAN
Salah satu sisi positif gerakan Indonesia Tanpa Pacaran adalah, menghindari terjadinya kemungkinan seks bebas.

Ini pasti sangat disetujui semua manusia Indonesia yg menjunjung tinggi adab ketimuran kecuali Atheis sok liberal yg berpikir kebarat-baratan.


Tapi ada banyak sisi negatif dari gerakan ini. Seperti bisnis yg berbalut Agama, ya kita semua tau apapun yg dibalut dalam Agama pasti akan laku keras, termasuk politik.
Makin hari gerakan Indonesia Tanpa Pacaran malah terasa sangat komersial.
Seperti penjualan aksesori seperti topi, buku, dll bahkan untuk bergabung dengan grup Whatsapp aja harus bayar 180.000 ribu.



Jadi jomblo aja harus bayar lu 😆


Dan ini uang semua, bukan daun. Bagaimana cara member ITP yg kebanyakan adalah siswi dibawah umur yg baru memulai hijrah dan masih sekolah mendapatkan uang itu?
Bisa dibayangkan kan kalau anggotanya ada 10.000 orang, berapa duit tuh yg di dapat?
Belum lagi nanti para member akan diundang soal seminar nikah muda dan ceramah tanpa pacaran yg lagi-lagi kalau member mau datang juga harus bayar.

Yang mendirikan gerakan/program ITP ini, harus kita akui bahwa dia pintar.
Dia tahu target dan psikologis sasaran (member) nya. Yaitu remaja² labil yg tengah galau dan dalan proses mencari jatidiri.

Yang baru kenal hijrah, makanya mereka gampang terbuai dan “high” saat melihat video² Islami yg bikin baper dari grup ITP.

Selain menyebarkan ideologi, mereka juga memanfaatkan itu untuk monetisasi.
Jadi, ITP sebenarnya tak murni cuma sekedar menyebarkan sebuah paham dan prinsip Anti Pacaran (karna bagi mereka pacaran itu sudah pasti merusak, tanpa meneliti lebih jauh soal pacaran) tapi juga dipakai untuk mengeruk keuntungan.

Seperti yg kutulis diatas, syarat menjadi anggota adalah kita perlu mendaftar ke admin grup dan bayar Rp 180.000 (untuk pendaftaran dan buku) bisa lewat transfer bank, lalu konfirmasi ke adminnya.

Dan perlu waktu sekitar seminggu untuk akhirn
ya diterima jadi anggota baru.
Mungkin kedepannya saya akan buat gerakan Anti Poligami dimana target saya adalah kaum emak dan kaum feminis, dimana biaya adminnya adalah 69 ribu untuk bisa jadi anggota + dapat sebuah kondom. 

Seperempat dari harga ITP, berarti saya lebih manusiawi 😁.
Selain bisnis berkedok Agama, gerakan ini sayangnya terlalu bersemangat menyemarakkan nikah muda tanpa berpikir panjang akan bahaya dan efeknya untuk orang lain.
Seolah-olah pilihannya hanya ada dua, tak boleh pacaran atau menikah muda.
Mereka pikir remaja² dan ABG di Indonesia itu berotak mesum semua kurangajar mereka ini ya. Padahal kan, cuma mesum sedikit 😕.

Bagi saya, Ada beberapa tipe orang yg menikah muda,
1. Karna gak punya pikiran akan masa depannya sendiri apalagi keluarga.
2. Karna faktor Ekonomi.
3. Karna hamil diluar nikah. Dan,
4. Karna mabuk Agama sampai otaknya terdoktrin akan sesuatu yg tak dipahami.

Dan yg paling berbahaya adalah yg nomer 4.
Pernikahan adalah hal yg sangat sakral.
Tak bisa main². Apalagi tujuannya cuma hanya untuk menghindari pacaran.
Dibutuhkan kedewasaan sikap dan kesiapan untuk melakukannya. Salah satu kesiapan yg dibutuhkan adalah mental dan finansial.
Bukan anak bau kencur yg pingin nikah cuma karna baper liat video² akhwat bercadar dan ikhwan bergamis di ITP.

Kita bisa contoh Negara Jepang. Sama² Negara dengan adab ketimuran.
Negara Jepang sangat melarang yg namanya nikah muda. Karna bagi mereka, itu merugikan anak cucu mereka. Mereka harus fokus kerja keras dahulu, kalau segalanya sudah siap dengan matang, baru menikah.

Bahkan disana ada fenomena Karoshi, para pekerja yg meninggal dunia mendadak akibat terlalu lama bekerja, karna fokus utama masyarakat Jepang memang adalah bekerja supaya hidupnya dan hidup keluarganya makmur terjamin.

Tidak seperti Indonesia, kerja malas, tapi demo demi nasi bungkus dan punya banyak istri itu wajib 😆.
Masyarakat Jepang sadar, masalah finansial adalah problem utama bagi yg ingin menikah. Bagi mereka, kemapanan secara finansial adalah hal utama yg harus mereka persiapkan sebelum menikah.

Kalau finansial belum siap sama saja dengan menderita setelah menikah bukan hanya untuk dirinya tapi untuk pasangan dan anaknya nanti.
Banyak pendukung gerakan ITP yg mengatakan kalau nikah muda adalah suatu keharusan dalam Islam. Benarkah?

Islam adalah wujud konkret dari fleksibelitas, universalitas, rasional, dan juga Agama yg dapat menyesuaikan diri di segala tempat dan zaman serta mudah diterima khalayak, baik yg berkaitan masalah ibadah, akhlak, muamalat, bahkan yg berkaitan dengan hukum perkawinan sudah pasti total dijawab oleh Islam.

Isu nikah muda yg belakangan disuarakan oleh ITP sering mendapatkan banyak pro tapi lebih banyak yg kontra dan menjadi polemik serta kontroversi bagi masyarakat Indonesia karna pendukung gerakan nikah muda ini berasumsi kalau hal ini dianjurkan Islam.
Sebenarnya tak ada batasan tertentu dalam Islam, kapan umur yg pantas untuk menikah. Tapi kalau kita telaah salah satu Hadits, maka dikatakan menikah lah bagi yg mampu. Bagi yg mampu. Mampu secara finansial, sifat, sikap dan mental.

Kalau kita lihat dari sudut psikologis, kasusnya beda-beda, tergantung karakter si pengantin muda. Kalau dia introvert, dia akan menarik diri dari pergaulan. Dia jadi pendiam, gak mau bergaul, bahkan jadi seorang yg schizoprenia. Kalau dia ekstrovert, dia akan terdorong melakukan hal² aneh untuk melampiaskan amarahnya.
Seperti melempari piring, bahkan tega mencekik anak sendiri.

Dan kalau kita mempertimbangkan argumentasi ilmiah, secara biologis organ reproduksi wanita yg terlalu muda belum siap untuk mengandung janin.

Dimana dampaknya akan berbahaya bagi keselamatan si ibu juga janin yg dikandungnya. Padahal, Islam dengan jelas melarang umatnya untuk menzalimi diri sendiri.

Kestabilan emosi juga akan jadi gak labil kalau mereka yg menikah muda gak bisa mengontrol rumah tangganya, lalu terjadi pertengkaran yg bisa berujung ke perceraian. Hal mubah yg paling dibenci Tuhan. Seperti kasus Taqy Malik dan istrinya, dimana video nikah mereka dulu bikin cemburu, marah, iri, dan menggila para akhwat apalagi para member ITP.
Kestabilan emosi terjadi di usia 24 tahun, karna saat itulah orang mulai memasuki usia dewasa. Sedangkan masa remaja, baru berhenti di usia 19 tahun. Dan di usia 20 – 24 tahun dalam psikologi, dikatakan sebagai usia dewasa muda atau lead edolesen.
Di masa ini lah biasanya mulai timbul transisi dari gejolak remaja ke masa dewasa yg lebih stabil.

Dan soal ekonomi, remaja yg menikah muda, perekonomian yg mereka punya sangat minim, hingga cenderung gak bisa mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Lain cerita kalau kamu anak orang kaya, jadi gak masalah mau nikah muda sekalipun seperti putra Ustadz Arifin Ilham.

Bahkan ada data dari Unicef bahwa menikah di usia dini menyebabkan kemiskinan.

Bagaimana nasib anak yg dipaksa nikah muda?

Dia akan kehilangan masa mudanya untuk bermain. Gak bisa merasakan bangku pendidikan, dan gak bisa menuntaskan cita-cita nya. Dia hidup dalam paksaan, stres, bahkan bunuh diri. Kan gak sedikit kasus orang bunuh diri karna stres dalam urusan pernikahan, tapi bagi mereka yg ingin menikah muda, mereka cuma tau dan membayangkan yg enak-enaknya doang.

Semoga para pendiri, ketua, dan siapapun dalang yg “menghasut” adik² kita yg baru hijrah untuk kawin muda tidak terkena qaidah sebagian santri yg berbunyi,
“Quthi‘al ilmu bi fakhidzaihâ (terputusnya ilmu akibat paha yg dua).
Atau maknanya adalah, semangat mencari ilmu akan mengendur jika sudah memikirikan wanita.

Tapi haruslah qaidah usul fiqh,
“dar-ul mafasid muqaddamun min jalbil mashalih (menghindari kerusakan lebih prioritas ketimbang menarik kemanfaatan”.

Karna mempertimbangkan maslahat nikah muda ini, beberapa ulama memakruhkan praktik pernikahan usia dini.

Makruh artinya boleh dilakukan tapi lebih baik ditinggalkan. Remaja perempuan yg masih dibawah umur belum siap secara fisik, psikologis, dan mental untuk memikul tugas sebagai istri dan ibu rumah tangga, walaupun dia sudah aqil karna dapat menimbulkan mafsadah (kerusakan) bagi dirinya, keluarga, dan masa depan nya.

Pertimbangan maslahat-mafsadah ini juga diterima dalam madzab Syafii.
BKKBN sendiri menilai usia ideal menikah untuk perempuan Indonesia seharusnya adalah minimal 21 tahun.
Pendapat ini diamini oleh sejumlah penelitian mancanegara, dan sebuah studi terbitan Journal of Social and Personal Relationship tahun 2012 mengatakan kalau 25 tahun adalah usia untuk menikah yg paling ideal.

Jadi, kalau niat ITP adalah murni untuk melarang praktik pacaran tak sehat, seks bebas, maka saya mendukung ITP. Tapi kalau ITP juga melegalkan praktik nikah muda, mendukung nikah muda, dan menyuarakan nikah muda tanpa berpikir panjang terlebih dahulu, tanpa memikirkan masa depan mereka yg menikah muda, maka saya.. Anti ITP.

Penulis: Angga Prasetya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel