Istrimu Adalah ratu, bukan PEMBANTU!

"Kamu harus rajin kalau udah nikah nanti. Harus pandai masak. Pandai bersih-bersih rumah.

Kalau udah jadi istri, kamu harus patuh sama suami. Layani dia dengan baik." Biasanya itu adalah omongan yg keluar hampir dari setiap ibu kepada anak gadisnya sebagai petuah saat si perawan mau menikah. Omongan itu gak salah, tapi juga gak sepenuhnya benar. Menikah itu adalah suatu kebahagiaan, bukan pengekangan. Perempuan menjadi budak dalam penjara yg disebut rumah saat sudah menikah, itu salah.

Jangan sampai perempuan yg awalnya bahagia karna menikah, akhirnya menjadi menderita karna hidup sudah seperti di penjara.


Dan kalau budaya kita terus berpikir bahwa istri adalah budak yg harus selalu patuh pada suami dan tukang bersih-bersih rumah, maka jangan heran kenapa KDRT terus meningkat. Karna si suami berpikir kalau dia bisa seenaknya menghajar istri saat dia tidak patuh atau malas, dan ibu si perempuan terlebih ibu si pria ikut membenarkan tindakan si suami dan menyalahkan si istri yg tidak patuh atau malas.

Padahal saat menjadi istri, perempuan masih punya kebebasan menjadi manusia.
Kalau budaya kita terus seperti ini, apa bedanya dengan Eropa jadul saat orang kulit putih memperbudak orang kulit hitam?
Your wives are your partners, not your servants.
Istri adalah ratu dalam rumah, bukan pembantu.

Dari jaman dulu sampai jaman sekarang, pemikiran orang-orang masih saja sama, bahwa, istri sudah seharusnya menjadi "pembantu" di rumah yg harus sepenuh hati melayani Raja (suami) dan anehnya hal ini dianggap wajar bahkan harus.

Hal ini ikut dijelaskan secara gamblang sama filsuf asal Perancis, Simone Beauvoir.
Bagi sang kekasih Sartre ini, kaum perempuan udah sejak dulu dianggap sebagai “the others” atau “The Second Sex (gender kedua/kelas bawah)” (1949).

Mayoritas manusia, bahkan beberapa perempuan pun dengan bodohnya mengakui kalau, kaum pria itu selalu harus diutamakan, yg perkasa, kuat, berwibawa, memberi nafkah, posisi harus selalu di atas dan kaum perempuan wajib patuh pada mereka.
Dan sebaliknya, kaum perempuan dituntut untuk selalu mengalah, menerima, mengerti kaum laki-laki, merawat rumah, dan menduduki posisi subordinat di bawah kaki laki-laki.

Banyak pria yg salah tanggap menganggap bahwa saat ada perempuan yg mereka nikahi, maka kewajiban si perempuan sehari-harinya berubah, menjadi melulu urusan dapur, sumur, dan kasur. Mereka seperti dipaksa untuk melakukan itu, dan banyak orang yg menganggap bahwa mencuci, menggosok, memasak, beres² rumah, adalah KEWAJIBAN istri dalam Islam, padahal ini salah.
Makanya banyak perempuan yg awalnya montok, beberapa bulan menikah badannya jadi kurus. Karna dipaksa bekerja terus pagi, siang, malam. Apalagi kamu yg memang sudah kurus, jadi lah macam penderita Anoreksia.

Mereka seolah dipenjara dalam kewajiban² yg menguras tenaga itu.
Sehingga membuat mereka bukannya bahagia saat sudah menikah, tapi menderita.

Karna memang budaya kita yg salah dari dahulu mengenai posisi perempuan. Posisi istri. Dalam format berpikir masyarakat kita, posisi seorang istri lebih condong ke abdi/pembantu, bahasa kasarnya babu, untuk si suami. Dan sialnya, banyak dari kita yg berpikir bahwa semua itu berasal dari ajaran Islam. Seolah-olah kita mengatakan kalau Islam lah yg mewajibkan para istri untuk melakukan ratusan pekerjaan rumah tangga seperti seorang babu, padahal bukan.

Dalam Islam, sejatinya pekerjaan rumah tangga itu bukan kewajiban sang istri, tapi kewajiban sang suami.

Contoh di Negara² mayoritas Muslim Timur Tengah dan Arab sana. Kita jarang melihat kaum perempuan yg bekerja di dapur seperti pembantu. Seperti para istri di Negara ini. Bahkan yang pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga pun bukan ibu-ibu seperti di negeri kita, melainkan kaum Bapak. Suami.

Akan lebih mengejutkan saat kalian sadar bahwa sebenarnya dalam Islam, kewajiban² mengurus rumah – selain kewajiban mencari nafkah – memang adalah kewajiban suami. Ini karna Islam sangat menghormati kaum Wanita.
Ini adalah makna tersirat dari janji² pernikahan yg diucapkan suami saat aqad menikah/Ijab qobul.
Semua urusan rumah tangga menjadi kewajiban suami. Kewajiban istri hanya taat kepada suami, tapi bukan berarti bebas dieksploitasi, dijadikan babu untuk mengerjakan dan bekerja di sana sini.
Istri tak harus disuruh untuk mengerjakan ini itu untuk suaminya.

Al-Kasani di kitab Badai’ush-Shanai’ (Mazhab Al-Hanafiyah) berkata,
“Seandainya suami pulang membawa bahan pangan yg masih harus dimasak dan diolah, namun istrinya enggan memasak atau mengolahnya, maka istri itu tidak boleh dipaksa. Suaminya diperintahkan untuk pulang membawa makanan yang siap santap.”
Makna yg sama macam diatas juga ada di mazhab yg sama tapi di kitab berbeda, kitab Al-Fatawa Al-Hindiyah fi Fiqhil Hanafiyah.

Begitupun Al-Imam Asy-Syairazi (Mazhab Syafi'iyah) di kitab Al-Muhadzdzab mengatakan,
“Tidak wajib bagi istri membuat roti, memasak, mencuci dan bentuk khidmat lainnya untuk suaminya Karena yg ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual (istimta’), sedangkan pelayanan lainnya tidak termasuk kewajiban.”
Ad-Dardir dalam kitab Asy-Syarhu Al-Kabir lebih ekstrim menurut saya, beliau menyebutkan, kalau suami harus memberi si istri pembantu.

Imam Ahmad bin-Hanbal pun sepakat kalau tugas istri bukanlah tugas macam pembantu. Karena aqad istri hanya kewajiban pelayanan seksual (dimana hal ini pun tidak boleh dipaksa kalau istri sedang tidak mood untuk berperang di ranjang), bukan aqad menjadi pembantu dengan mengerjakan ini itu yg bisa membuat dia stres.

Lalu bagaimana dengan istri yg memasak, menggosok baju, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah atas kemauan nya sendiri dan bukan karna paksaan atau embel² kewajiban dalam Islam?
Kalau si istri dengan suka rela melakukan semua tugas itu, maka hal itu hanya nilai tambah (added vallue).

Para istri melakukannya karna rasa cinta dan kasih sayang kepada suaminya.
Si Istri menyadari kalau sang suami gak akan sanggup mengerjakan semuanya sendiri, apalagi kalau si suami punya banyak pekerjaan dalam masalah mencari rezeki, maka dengan keikhlasan dan cinta, si istri pun membantu suaminya.

Dan menurut saya pribadi, akan lebih baik dan romantis kalau segala urusan rumah tangga termasuk di dalamnya mencuci pakaian, mencuci piring, mencuci otak.. Eh, bukan. Menggosok, memasak, menyapu dan mengepel rumah, sampai mencari rezeki itu dilakukan bersama-sama antara si Suami dan Istri.

Suami dan istri, mereka sejatinya adalah belahan jiwa yg saling melengkapi setelah lama berpisah. Dalam bahasa Jawa adalah garwo atau sigaran nyowo.

Suami dan Istri adalah manusia yg saling mengisi dan melengkapi.
Karnanya, gak ada klasifikasi kalau seluruh pekerjaan rumah tangga yg membosankan, memuakkan, dan menguras tenaga itu adalah pekerjaan istri.

Idealnya, pekerjaan² itu ditanggung dan dilakukan berdua, dibagi di antara mereka berdua, mana yg sanggup dilakukan si Suami dan mana yg bisa dilakukan sang Istri.

No matter how much you spent marrying your wife, it doesn't still justify you objectifying her; treating her like your property.

She is human, and her opinions and contributions are highly important as far as your marriage with her is concerned.

Sayangi istrimu, karna dia adalah sustermu disaat kamu sakit.
Kasihi istrimu, karna dia adalah psikiatermu disaat kamu depresi.
Cintai istrimu, karna dia adalah sahabatmu sampai hari tua.
Dan diberkati lah seluruh istri, calon istri, dan seluruh ibu di dunia ini.
Mereka adalah makhluk-makhluk tegar, hebat, dan luar biasa.

Penulis: Angga Prasetya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel