Jadi perempuan itu harus pintar dan realistis

Jadi perempuan itu harus pintar dan realistis. Jaman sekarang kamu gak akan bisa bahagia hanya bermodalkan cinta. Gak ada salahnya mencari pria yg beruang, pandai mencari uang, atau minimal.. tidak pelit lah.

Pria yg tahu bagaimana cara menyenangkan dirimu dengan sering memberimu hadiah, makanan, bahkan alat² make up. Bukan cuma janji, gombal, atau
Jangan jadi perempuan bodoh yg cuma mengangguk dengan janji² palsu pria.


Saya sendiri melihat ada perbedaan antara adik perempuan saya yg sekarang dengan calon suaminya yg mapan, dengan pacarnya yg cuma pekerja serabutan saat dia sekolah dulu. Adik saya lebih terlihat bahagia, lebih terlihat berkelas, lebih cantik dan lebih terawat. Karna calon suaminya saya lihat selain mapan juga tidak pelit. 

Sering saya lihat dia belikan adik saya alat make up dan skincare yg harganya ratusan ribu, sampai perhiasan bahkan belum menikah (mereka sudah tunangan dan menikah bulan 10 besok). Berbanding terbalik dengan saat dia dulu pacaran sama cowoknya yg pekerja serabutan dan pemalas itu. Tukang ngatur pula, pelit, overprotektif, kasar. Dia putus karna saya yg turun tangan dengan cowoknya itu.

Perempuan yg mata duitan, ingin mendapatkan pria yg mapan secara finansial, menuntut kebutuhan rumah tangga ini itu, alat make up yg harus ada, saya tidak ingin menyebut mereka dengan materialistic women (gold digger), tapi lebih ke, perempuan realistis.
Ada perbedaan antara perempuan matre dengan perempuan realistis.

Materialistis adalah sikap yg berorientasi dan berkiblat hanya pada harta.
Dia bahkan hampir tidak mencintai pasangannya sama sekali, kecuali hanya tertarik dengan hartanya.

Sedangkan realistis adalah suatu cara padang berpikir yg selalu penuh perhitungan akan segala sesuatu, jadi apapun yg calon pasangannya coba gagaskan atau ajukan, semaksimal mungkin dia buat bukan hanya menjadi angan² semu atau mimpi belaka tetapi menjadi sebuah kenyataan.

Bukankah tampil cantik butuh modal? 

Pasangan mu pun begitu. Dia butuh uang untuk membeli alat make up, supaya kamu tidak malu mempunyai pasangan yg jelek dan selalu tampil urak²an, tapi dia juga merasa bangga bila kamu bangga, memiliki pasangan yg cantik.

Karna memang sudah kodrat dan tuntutan sosial kalau perempuan itu harus cantik dan menarik, karna itu tidak salah kalau mereka suka dengan shopping, membeli alat make up dan skincare, membeli tas, pakaian, dll.

Dia juga tidak salah ingin mendapatkan pria yg mapan, karna di jaman sekarang gombal tidak lagi dibutuhkan bagi perempuan yg cerdas, karna dia sadar, dia dan anaknya tidak akan kenyang makan gombal.

Mengisi pulsa pasangan karna dia minta,
traktir makan dia sekali seminggu atau membelikan nya boneka dan coklat murah bukan berarti dia matre. Itu hanya sekedar, ungkapan sayang, kepedulian, sekali lagi..
bukan karna dia cewek matre.

Walaupun sebenarnya tidak (belum) ada kewajiban kita melakukan hal diatas karna masih berstatus pacaran, tapi juga tidak ada salahnya kita melakukan nya. Karna setelah kita membelikan dia pulsa, rasa sayangnya juga pasti bertambah, kita traktir dia makan, rasa nyaman nya ke kita semakin menumpuk, kita belikan dia hadiah walaupun jarang² maka rasa cinta nya akan semakin besar. Bukankah semua hal butuh setidaknya sedikit pengorbanan? Apalagi sedikit berkorban untuk orang yg mencintai dan kau cintai.

Saya tidak tahu kenapa kata matre selalu diidentikan dengan kaum Perempuan, padahal setiap manusia di bumi ini adalah makhluk materil.

Dan benarkah Perempuan matre itu tidak ada? Hanya pria kere yg mengatakan Perempuan matre? Salah.

Perempuan matre itu ada. Banyak.

Pria matre pun banyak.
Ciri² orang matre dalam urusan asmara adalah, mereka akan dengan senang hati menggadaikan harga diri dan menjual kata cinta dan sayang mereka untuk mendapatkan apa yg mereka mau, seperti uang, perhiasan, HP, bahkan mobil dan rumah.
Mereka hanya peduli pada harta dari “pasangan” mereka.
Mereka juga biasanya langsung kepo bahkan pada saat baru saja jadian akan urusan finansial pasangannya.

Kalau dia bertanya soal pekerjaan pasangannya, adalah hal yg wajar.
Tapi ketika dia mulai mengorek-ngorek info masalah gaji, tabungan, bahkan investasi yg pasangannya padahal belum menikah, ini bukan lah sesuatu yg wajar.
Apalagi dia seringkali mengemis minta dibelikan barang² yg mahal, padahal dia tahu kamu tidak sanggup membelikan nya, ini ciri orang matre.

Orang matre juga biasanya sangat anti untuk mentraktir balik pasangannya, apalagi ikut menabung demi pernikahan.
Perempuan juga sesekali bisa mentraktir atau bahkan membantu menabung untuk pernikahan, kalau tidak, dimana letak emansipasi yg belakangan ini lantang kaum ini teriakan?

Saya gak memojokkan pria² miskin di luar sana, tapi ini lebih ke motivasi bagi kalian dan saya pribadi. Sebagai pria gentle, pria dewasa, bukan cowok rendahan yg cuma bisa having sex gratisan dengan pacar, kita harus beruang dan punya masa depan yg jelas dulu sebelum mendekati seorang perempuan. Karna kebahagian perempuan itu, kebahagian kita, kebahagian bersama, ada diantara uang dan masa depan yg jelas.
"Tapi tidak semua perempuan butuh pria kaya, yg penting tulus. Karna uang tidak bisa menjamin kebahagiaan".

Bitch, listen to me.. kalian ngomong begitu karna belum merasakan gimana susahnya hidup miskin setelah menikah. Susu anak gak ada, beras gak ada, apalagi buat senang² dan refreshing walaupun cuma sesekali? Penyebab bunuh diri terbesar di dunia adalah kemiskinan. 

Salah satu alasan kenapa banyak ibu muda di India yg bunuh diri juga karna tidak kuat dengan kemiskinan. Banyak juga akhwat yg gila sendiri lalu menyalahkan Presiden karna jadi miskin saat memutuskan untuk nikah muda.

Kalian yakin bisa hidup cuma dengan modal cinta dan ketulusan? Kamu terlalu polos untuk dunia yg kejam ini sayang.

Penulis: Angga Prasetya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel