Kadang muncul rasa iri, sama mereka yang keluarganya normal



Kadang juga kangen, suasana hangatnya keluarga. Suasana seperti dulu.
Makan bareng, nonton bareng, tertawa bareng. Ya, hal indah yang.. Hehe, ahh, sudah gak lagi kurasa sejak kelas 6 SD, dan gak akan pernah mungkin lagi kurasakan.
Ketahuilah... Menjadi broken home itu sakit.

Rumahku istanaku gak berlaku bagi anak broken home, karna istana kami sudah hancur, rubuh.


Rumah adalah, dimana orang-orang yg kau cinta ada untuk menunggu mu. Tempat untuk pulang. Tapi anak broken home kini gak punya tujuan untuk pulang.
Karna orang-orang yg mereka cinta, kini punya jalan masing-masing.
Pernahkah kalian merasakan saat dimana kalian harus dipaksa, untuk memilih lebih berpihak kepada ibu, atau kepada ayah?

Tidak? Rasanya sangat menyakitkan. Rasanya aneh. Rasanya... Kesepian.
Banyak anak broken home yg hidupnya terkesan mellow atau.. Kau tau, dilebih-lebihkan. Dramatisir. Seolah dia yg paling menderita.

Faktanya, anak broken home itu memang suka mellow dan kadang melebih-lebihkan sesuatu, apalagi kalau itu soal keluarga dan kesepian.

Karna kami, rindu dimanja oleh orangtua, diberi perhatian, dimarahi ibu 😂demi Tuhan aku rindu kena marah sama ibu. Sekarang? Jangankan dimarahi, untuk bisa bertemu ibu saja, paling setahun sekali, malah tak jarang bertahun-tahun baru ketemu.
Kalian yg keluarga nya normal-normal saja, pasti pernah mellow atau bahkan koar-koar di media sosial mengeluhkan hidup kalian, atau mengatakan kalau ibu sudah tak sayang karna memarahi kalian, apalagi kami yg gak punya tempat mengadu.

Kalian yg punya orangtua lengkap di sisi kalian saja mungkin juga pernah mengeluh soal keluarga. Yang ayah terlalu sibuk kerja lah, ibu yg cerewet dan larang ini itu lah.
Apalagi kami. Yang bahkan gak tau sebenarnya mengeluh pada apa dan siapa.
Aku ingin mengajak kalian untuk memaklumi kami anak-anak broken home akan tindakan kami yg mungkin, kalian anggap terlalu over.Lebay.

Kalian mungkin jengkel dan berkata,
“Dasar cengeng! Bodoh betul kalian mau meneng
gelamkan diri sendiri. Terus terpuruk. Wake up! Jangan terlalu dipikirkanlah, jangan terlalu nganggep diri paling menderita. Kita semua punya masalah!”
Ya.. Aku tau. Berkata memang mudah. Aku broken home sudah dari kelas 6 SD, sekarang umurku sudah 21 tahun.

Yang artinya sudah bertahun-tahun aku broken home.
Tapi kenangan buruk itu masih saja menjadi mimpi terburuk ku sampai detik ini.
Sangat sulit untuk melupakan nya. Semakin aku berusaha melupakan saat-saat dimana ayah dan ibuku bertengkar bahkan sampai membanting barang, saat dimana ibu hampir bunuh diri dengan membakar dirinya sendiri, saat dimana.. rumah menjadi begitu sepi, tak ada lagi canda tawa atau obrolan keluarga yg hangat, hanya ada kekosongan. Hampa.
Semakin aku berusaha melupakan itu semua, rasanya semakin sakit.
Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal berat yg kurasakan selama menjadi anak broken home ini, tapi itu aib, biarlah menjadi memori pembunuh saja.
Kami yg broken home gak mau masalah kami dibanding-bandingkan dengan orang lain.
Kami gak menganggap bahwa kami yg paling menderita di dunia ini.
Hanya saja…

Kami gak tau harus mengadu pada siapa.
Kami hanya rindu keluarga kami yg dulu.
Kami iri dengan kalian.

Ayah atau Ibu kami mungkin masih ada secara fisik, tapi mereka cukup melukai hati. Ketika masih bersama mereka bertengkar terus-menerus, ada pula yg ayahnya selingkuh, ada yg ayah nya kasar dan suka main tangan ke Ibu. Membuat kami, anak-anak broken home menjadi sedikit kurang percaya pada orangtua.
Malah beberapa anak broken home lainnya benar-benar kehilangan kedua orangtuanya. Kalau sudah begini…

Teman jadi sandaran.

Gak bisa curhat ke ortu, akhirnya ya curhat ke teman. Syukur kalau dapat teman yg ‘baik’. Sayangnya, ada beberapa anak broken home yg malah bergaul dengan teman-teman yg kurang baik. Akhirnya dia ikutan menjadi kurang baik. Malah bejat. Seperti memakai narkoba, seks bebas, minum-minum, klubing. Jatuh ke lubang yg lebih kelam daripada hidupnya yg dia jalani karna menjadi anak broken home.
Atau yg lain malah jatuh ke pelukan pacar brengsek.

Walaupun memiliki teman terbaik sekalipun atau orang dewasa yg ibarat orangtua, kadang mereka gak sepenuhnya mengerti keadaan kita. Bisa jadi dia gak paham akan kondisi kita atau dia juga dalam masalah yg sama atau masalah yg lain. Meski dikelilingi teman-teman yg baik, ada kalanya, anak broken home benar-benar merasa kesepian.
Ini yg setiap hari kualami. Kesepian.

Kasih sayang dan arahan orangtua gak kami rasakan.
Alkohol, obat-obatan dan pesta jadi pengalihan. Beberapa diantara kami bahkan menjadi badung dan senang berkelahi.
Ada pula yg berubah menjadi pendiam dan sulit percaya pada siapapun seperti ku.
Menjadi sangat tertutup.
Bahkan kini aku menjadi pengidap Bipolar. Karna memang kejadian ketika perpisahan orangtua ku masih terus membayangi ku sampai sekarang.

Percayalah, anak broken home itu rapuh.

Di saat-saat kesepian itu, alkohol mungkin jadi teman paling mengerti. Yang paling parah, ketika sayangnya ada yg malah menghibur diri dengan party habis-habisan, bahkan sampe mengonsumsi obat-obatan haram itu. Ayolah, akui saja, kita pernah jatuh ke kubangan dosa. Roh, sebenarnya penurut tetapi jasad yg lemah.
Mereka yg punya orangtua dan keluarga lengkap pun bisa jadi begitu, apalagi anak broken home.

Akhirnya, apapun yg anak broken home lakukan, mereka tetap harus hadapi kenyataan. Sayangnya, kenyataan tetap pahit seakan ingin membuat mereka harus mengeluarkan air mata sejadi-jadinya dan berteriak sekencang-kencangnya, tapi gak bisa. Menyakiti diri sendiri ntah dengan menyayat kulit tubuh mungkin bisa mengekspresikan kesakitan hati itu. Anak lain masih waras alias masih punya rasa takut untuk mati, sekali lagi alkohol dan mendekam diri, menangis dalam hati, tidur… Jadi pelampiasan terbaik. Atau, mungkin ngomel-ngomel sendiri di media sosial.

Had a face like an angel, but inside my heart was as black as a broke movie screen.
Kalian yg orangtua dan keluarga nya masih bersama, sayangi lah mereka. Syukuri lah keadaan keluarga kalian saat ini.
Jangan sampai kalian menjadi broken home, sahabatku, baru kalian akan paham, betapa berharganya keluarga.

Penulis: Angga Prasetya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel