Kecantikan Di Ukur dari apanya?

Kalau kecantikan diukur lewat putihnya kulit, lalu bagaimana nasib perempuan² manis dari Ambon, Maluku, atau Papua yg berkulit hitam tapi juga banyak yg cantik?
Kalau kecantikan diukur hanya dari kurus dan langsing tubuh, lalu bagaimana dengan perempuan² yg sangat pantas disebut cantik tapi berbadan gemuk di luar sana? seperti Adele misalnya.

Kalau kecantikan hanya untuk mereka yg berhidung mancung, lalu kita sebut apa perempuan² pesek tapi cantik nya begitu terlihat seperti perempuan² Cina, Dayak dan Nias?
Kalau hanya perempuan bertubuh tinggi yg pantas disebut cantik, lalu bagaimana dengan perempuan² mungil, lucu, dan luar biasa imut bertubuh pendek itu?


Selama ini kita mengira bahwa perempuan yg berkulit putih, bertubuh kurus, berhidung mancung adalah pihak yg superior, berkuasa. Lambang dan tujuan kecantikan itu sendiri. Kita salah. It's just ridiculous beauty standards. Cantik itu relatif.

Kita tak bisa mendidefinisikan secara pasti apa itu kecantikan, karna kecantikan itu sekali lagi, bersifat tentatif-relatif-subjektif bagi setiap individu. Perempuan berkulit putih sudah pasti cantik, perempuan bertubuh gemuk dan pendek pasti jelek, tak lain hanyalah sebuah persepsi, persepsi yg datang gak dengan sendirinya, tapi lewat suatu proses bentukan pemahaman yg sudah mendarah daging dalam otak manusia. Stereotip.

Apa itu “cantik” hanyalah sebuah aposteriori personal, yg lalu dikontemplasikan ke dalam hakikat kecantikan. Kecantikan bukanlah kategori kualitas yg ada secara indenpenden. Eksistensi kecantikan adalah contingent, bergantung pada mata siapa yang memandanganya.

Bagi kaum subjektivis esensi dari kecantikan akan terefleksi lewat pepatah ini,
“Beauty is in the eye of the beholder”. Kecantikan hanya ada dalam mata yg memandang.
Jadi, bisa kita tekankan kalau kecantikan yg bersifat stereotip hanya berlaku secara literal: kecantikan memang ada di mata.

Mayoritas perempuan sering merasa kalau dia itu tak cantik, hanya ingin menyenangkan mata yg melihat pribadi nya. Merasa bahwa tak ada kecantikan dalam dirinya sendiri, kaum perempuan yakin kecantikan itu hanya ada ketika ada yg melihatnya, lalu memuji nya. Karna itu kaum perempuan akan selalu merasa ada yg kurang, walaupun kulitnya sudah sangat putih bersih, langsing seksi, hidung pun mancung berwajah sempurna.
Karna dia tak pernah merasa puas untuk
memamerkan kecantikan dan keindahan tubuh nya hanya untuk memenuhi “social pressure”, menyenangkan orang lain, publik.

Padahal itu adalah cara berpikir yg salah.
Kaum perempuan menjadi sangat “rakus” dan tak pernah puas.
Sampai melakukan diet ketat yg bahkan bisa menyebabkan penyakit bahkan kematian.
Kecanduan memakai krim pemutih padahal kebanyakan krim pemutih itu mengandung hydrochinon yg bisa memicu kanker.
Atau operasi plastik untuk memancungkan hidung, mempertebal bibir dengan biaya super mahal belum lagi risiko lainnya.

Itu semua tak perlu. Kalian sudah cantik, tanpa perlu pujian dari orang lain, kalian tak akan dapat apapun selain hanya pujian yg sifatnya semu.
It's not up to someone else to tell you if you're beautiful or not. All women get to define what being beautiful means to them.

Tak ada dan tidak akan pernah ada patokan atau standarisasi atas apa yg pantas disebut cantik dan tidak cantik.
Sesungguhnya segala sesuatu sudah cantik adanya. Tanpa perduli omongan orang lain, yakinkan dalam diri sendiri kalau kalian yg bertubuh gemuk, cantik.
Berhidung pesek, cantik.
Bertubuh pendek, cantik.
Berkulit hitam, cantik.
Because beauty comes in all different shapes, sizes, ages, and forms.

I hope when you woke up and looked in the mirror this morning, you loved what you saw. I hope that you know how beautiful you are, no matter how hard society tries to tell you otherwise.

Penulis: Angga Prasetya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel