Kisah Hidupku



Ada satu dari beberapa hal menyakitkan yg cuma anak broken yg tau rasanya. Yaitu, saat mereka harus memilih, untuk memihak kepada Ibu atau Ayah dalam suatu "perang" yg bahkan tidak mereka ketahui.

Dan saya ingin bercerita sedikit tentang hidup saya.
Saya, yg dari kecil sudah ditempa Tuhan untuk mengenal apa itu rasa sakit yg sebenarnya. Depresi yg sesungguhnya.


Sebelumnya keluarga kami baik² saja, sama seperti keluarga lain yg harmonis. Sama seperti keluarga kalian saat ini. Kami makan bersama di ruang makan, menonton acara keluarga di ruang tamu, dan rekreasi seminggu sekali, sampai tibalah kejadian mengerikan itu.

Ayah saya selingkuh. Awal dari semua petaka yg ada.
Saya tidak habis pikir dengan logika ayah saat itu, kenapa dia harus mengkhianati Ibu saya? Padahal ibu adalah perempuan yg lahir dari keluarga berada.
Dia juga sangat cantik di masa mudanya. Banyak Pria yg jatuh hati padanya.
Dia, kakak² dan adik²nya dikuliahkan oleh kakek, tidak ada yg tidak. Tapi hanya ibu yg bahkan rela menggadaikan pendidikannya demi ayah. Lelaki bajingan yg kelak akan mengkhianati dirinya.

Harusnya ibu bisa dapat pekerjaan yg baik, menikah dengan pria baik, lalu hidup dalam keluarga yg baik dan bahagia. Tapi Ibu, saat itu, dengan ketulusan cintanya akan ayah, lebih memilih membuang pendidikannya dan menikah dengan Ayah walaupun Kakek marah.

Tapi apa balasan ayah? Dia selingkuh. Itu benar² pukulan telak atas keluarga Ibu, bahkan jauh lebih menyakitkan dibanding hanya saat Ibu tidak lagi mempedulikan pendidikannya. Kejadian memalukan itu menjadi beban pikiran Kakek yg sudah tua tapi wibawanya masih sangat tinggi. Karna selain dihormati mantan kolega²nya, Kakek juga salah satu tetua di kampung yg punya banyak "murid". Fisik kakek yg sudah tidak kuat karna usia, akhirnya wafat secara tidak langsung karna tingkah Ayah kepada salah satu anak perempuan yg begitu dicintainya.

Sampai berita itu tersebar, keluarga Ibu sangat marah. 
Adik² ibu yg saya panggil om naik darah. Gimana tidak? Kakak yg mereka sayangi, diperlakukan seperti itu.

Ayah mereka juga sampai harus menderita diujung usianya karna Ayah.
Mereka —yg walaupun tindakan mereka itu salah —mencoba ikut campur urusan keluarga kami. Sudah sangat sering mereka adu fisik dengan Ayah. Bahkan salah satunya hampir saja membunuh ayah.

Hari² berlalu. Walaupun (katanya) Ayah sudah menyesal. Meminta maaf dengan Ibu, dan bersumpah tidak akan mengulanginya. Tapi apa lacur, omongan, janji bahkan sumpah yg keluar dari pria sampah memang tidak bisa dipercaya.

Ayah ternyata masih belum kapok untuk terus dekat dengan perempuan selingkuhannya.
Tiap ayah keluar rumah dan telat pulang bahkan tidak pulang berhari-hari dengan alasan pekerjaan, tentu membuat isi kepala dan hati ibu menjadi berantakan.
 
Belum selesai pikiran soal masalah di Barat, pikiran ibu sudah jauh terbang ke Timur sedetik kemudian.

Apa yg dilakukan suamiku di luaran sana?
Siapa perempuan yg menghangatkan tidurnya malam ini?
Bagaimana nasib anak²ku ini?

Tubuh ibu semakin kurus hari demi hari.

Saat itu saya dan adik² masih SD. Kami tidak tahu apa yg sebenarnya terjadi, tapi kami tahu satu hal. Ibu sedang tidak baik² saja, dan Ayah adalah penyebabnya.
Berhari-hari Ibu cuma mengurung diri di kamar. Menangis.

Bahkan.. ini adalah kejadian yg tidak akan pernah saya lupaka
n seumur hidup. Ibu mencoba bunuh diri dengan menuangkan bensin ke tubuhnya. Satu langkah lagi saja, Ibu pasti sudah mampus di makan api. Tapi, Tuhan itu adil.

Ibu lupa membawa korek di kamar, dan minta tolong adik saya yg perempuan untuk mengambilkan korek di dapur.

Tapi adik saya cerdik, dia heran.. Kenapa pula ibu harus bermandikan bensin? Lalu adik mengadukan itu ke saya.

Saya gak masuk ke kamar untuk melihat kondisi Ibu, karna saya tahu.. masalah dewasa cuma orang dewasa yg tahu cara mengendalikannya.
Saya lapor ke tetangga.

Buk Eli namanya. Buk Eli ini lah yg sering membantu dan menemani ibu saya untuk "menginvestigasi" ayah dan selingkuhannya. Dan kalau kalian penasaran, anak buk Eli ini lah cinta pertama saya. Perempuan berinisial "L", yg kemarin² pernah saya jadikan postingan. Liza. Sekarang dia sudah menikah dan punya anak. Lah, kok jadi bahas ini?

Setelah saya melapor ke Buk Eli, tentu beliau kaget. Dengan cepat beliau masuk ke kamar kami dan berteriak melihat ibu. Tetangga lain berdatangan hingga membuat heboh satu RT. Kemudian Ibu diberi nasihat, petuah dari Ustadz disini, dan dukungan moral dari tetangga yg lain. 

Inilah sebabnya kenapa kita harus baik dan menghormati tetangga. Karna kalau kita ada masalah, tetangga lah harapan kita untuk datang membantu dan dimintai pertolongan.
Saya sangat sedih melihat kondisi ibu saat itu. Ibu semakin depresi. Matanya sayu dan kosong. Dan saya sangat membenci ayah. Kalau saja saat itu Ibu benar² meninggal karna bunuh diri, saya sudah bersumpah pada diri sendiri untuk balas dendam dengan membunuh ayah dan selingkuhannya dengan tangan saya sendiri walaupun saat itu saya masih SD kelas 6.

Apa yg sudah terjadi, tidak juga membuat ayah kapok.
Dia masih terus main gila dengan selingkuhannya.

Sampai Tuhan turun tangan. Karma benar² melakukan tugasnya dengan baik ke Ayah... Tapi imbasnya juga ke kami. Tapi saya yakin, ini cuma "jalan keluar" dari Tuhan.
Entah karna alasan apa, Ayah dipecat dari pekerjaannya.
Perlahan-lahan segala nasib buruk mulai menimpanya.

Keluarga kami jatuh miskin. Sampai kami saat itu harus bolak-balik pindah rumah dan mengontrak karna tak mampu beli rumah. Ayah memang dapat pesangon dari pekerjaan lamanya. Tapi sialnya, dia habiskan pesangon itu untuk hura-hura dan main gila.
Ayah masih saja sama. Pria bajingan yg sampai hati bukan hanya melukai batin istrinya, tapi juga menelantarkan anak²nya.

Sampai suatu hari.. Ibu benar² sudah tidak tahan dengan semua omong-kosong yg mematikan hidupnya.

Ibu memilih bercerai dengan Ayah. Dan pergi ke Aceh dijemput oleh adiknya, Om kami yg kaya raya itu.

Lalu bagaimana nasib saya dan adik² saya? Kami ditinggalkan oleh Ibu, untuk hidup dan tinggal bersama Ayah.

Kenapa saya dan adik² harus ditinggalkan dengan Ayah?
Kenapa Ibu tidak membawa kami, justru meninggalkan kami?
Kemudian saat itu saya juga membenci Ibu, karna saya anggap dia bersikap tidak adil. Hanya mementingkan diri sendiri.

Tak lama setelah bercerai, Ayah menikah dengan selingkuhannya. Kami (saya dan adik²) mau tak mau harus tinggal dengan Ayah dan Ibu tiri kami itu. Perempuan jahat yg telah merusak keluarga kami. Benar² Neraka dunia yg kami rasakan. Hidup, makan, dan tinggal satu atap dengan para pengkhianat. Ayah dan Ibu sama saja jahatnya pikir saya saat itu.

Keadaan tak membaik sama sekali setelah Ayah menikah lagi dan kami tinggal bersamanya. Karma itu masih tetap betah tinggal di nasib Ayah. Kami semakin miskin. Rumah pun terus ngontrak. Bahkan saya sering dipermalukan di depan kelas karna selalu telat bayar SPP. Nasib yg sama juga dirasakan adik² saya. Ayah yg sudah dipecat dari pekerjaannya dan tidak bisa diterima lagi di PT. Manapun karna adanya "blacklist", akhirnya banting tulang kesana kemari menghidupi kami.

Setiap hari dia ribut dengan istri barunya karna masalah ekonomi yg membuat Ayah stres setiap harinya.

Karma memang benar² ada, dan dia hebat dalam memberi pelajaran.
Setelah beberapa tahun, saya dan adik² tumbuh dewasa.
Kami tumbuh sebagai anak² tangguh yg tahu bagaimana merombak nasib dan belajar dari pengalaman.

Kemudian Ibu mengajak kami tinggal di Aceh bersamanya setelah sekian tahun tak berjumpa karna Ibu seolah menutup diri dengan kami.

Ternyata Ibu juga sudah menikah dengan orang baik yg saat ini saya panggil Bapak.
Ibu bercerita kalau Bapak lah, orang yg menemaninya untuk bangkit. Kini kehidupan Ibu dan Bapak sangat layak bahkan bahagia. Bapak punya 30-an Sapi dan Kerbau, dan masih terus bertambah sampai sekarang sampai dijuluki juragan Sapi di kampung kami. Ibu tinggal menikmati hasil dengan makan, tidur, nonton dan rekreasi sembari melihat-lihat kebun kopinya (kopi Gayo) yg juga menjadi omset tambahan, hingga saya yakin, tanpa anak²nya pun, Bapak dan Ibu bisa bahagia di hari tua.

Saya dan adik juga berhasil survive dari kejamnya hidup.
Kami berhasil menjadi orang.
Adik saya yg perempuan hidup bahagia dengan menjadi perempuan pekerja yg punya posisi di pekerjaannya, dan 2 bulan lagi In shaa Allah dia akan menikah dengan pria yg juga mapan.

Bagaimana dengan Ayah dan Istri barunya?

Mereka sudah punya anak juga. 3 gadis kecil yg saya panggil adik. Adik lain ibu, tapi saya sangat menyayangi mereka.

Hidup mereka sangat menderita, bahkan sampai saat ini. Detik ini. Kalau bukan saya dan adik yg membantu mereka, mungkin untuk makan saja mereka tak mampu.
Padahal Ayah sudah semakin tua, tapi masih bekerja serabutan. Tiap hari masih terus ribut dengan istrinya karna masalah ekonomi.

Saja jadi teringat salah satu ucapan orang,
"Kalau ingin melihat siapa yg salah dalam suatu keluarga yg rusak. Maka lihat saja, hidup siapa yg menderita, dan hidup siapa yg bahagia".
Untuk alasan kenapa Ibu meninggalkan kami saat kecil dulu dan tak membawa kami bersamanya. Baru kami tahu setelah dewasa. Bahwa, tidak mudah untuk ada di posisinya. 
Kenapa dia harus memilih bercerai?

Kenapa pula harus mempertahankan suatu hubungan cuma karna alasan, "demi anak" dengan mempertaruhkan kebahagiaannya sendiri? Anak² pun tahu bahwa keluarga mereka sudah hancur dan tidak baik untuk dipaksa. Keluarga yg dipaksa baik² saja padahal tidak baik² saja, justru akan membawa dampak negatif kepada psikologi Ibu yg menjadi korban dan anak² itu sendiri.

Kenapa Ibu tidak membawa kami bersamanya?

Karna dia tidak ingin kami menjadi anak² manja yg cengeng kedepannya. Dia tahu bahwa kehidupan Ayah akan menderita, karna itu dia ingin kami tinggal bersama Ayah. Padahal ketika di Aceh, kata Ibu, tidak terlewat satu detikpun tanpa memikirkan kami. Keadaan kami. Dll. Karna itu Ibu sering mengirim uang dengan berat hati. Berat hati bukan karna pelit dengan kami, tapi karna Ibu juga tahu bahwa uang itu akan dipakai oleh Ayah dan istri barunya.

Apa yg sudah terjadi, biarlah terjadi. Semua sudah suratan dari Tuhan. Allah Al-'Alim, Al-Khabiir, Sang Maha Mengetahui. Apa yg sudah berlalu, bukan untuk disesalkan, tapi untuk bahan renungan agar dijadikan pelajaran kedepannya.

Setelah apa yg saya alami beberapa tahun kebelakang, saya pun bersumpah.. agar kelak memperlakukan istri dan anak² saya dengan sebaik mungkin. Jangan sampai mereka merasakan apa yg Ayah mereka pernah rasakan.

Penulis: Angga Prasetya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel