Mari Membenci Tuhan

Dalam menghadapi kenyataan dilema dia yg berat, bajingan laknat, yaitu kehidupan.
Mungkin kita pernah bertanya,
“Tuhan, kenapa orang baik selalu dipecundangi dunia, dan yg jahat selalu bahagia?”
“Tuhan, kenapa aku Kau ciptakan kalau hanya merasakan getir duka kehidupan?”
“Tuhan, apakah Kau benci padaku?”
Pertanyaan-pertanyaan diatas mungkin, sering muncul secara refleks di dalam hati kita semua. Dilontarkan oleh kita, seorang Theis yg baru menyadari kalau dunia ini memang “tidak adil”.


Hingga membuat kita membenci Tuhan.
Atau mungkin saja, Tuhan yg benci pada kita?
Tuhan membenci makhluknya. Lucu sekali Tuhan.

And, let me say to those who are asking this question, if God doesn't hate you. He really doesn't. I know exactly how it feels when life is crashing all around you and you see a glimmer of hope that somehow vanishes into thin air.

Seringkali hati kecil kita mengadu sakit, jiwa meratap hiba. Problem dan ujian yg bertimpa-timpa yg diberikan Tuhan, kadang menewaskan semangat yg ada.

Kita pernah merasa jatuh sejatuh-jatuhnya. Pernah dikhianati yg dicinta, masalah klasik.
Masalah asmara, ekonomi, dan sosial yg kadang membuat kita, ingin mati saja.
Atau, ingin terus abadi dalam sosok lucu ketika masih kecil, yg hidup tanpa ada masalah. Hanya bermain, menikmati hidup.

Gak jarang kita juga merasa kesepian, sendirian dan.. terasa betapa kita dipinggirkan oleh manusia lain. Sendiri berjuang melawan takdir.
Kita menyangka sudah gak ada lagi yg bernilai dalam kehidupan kita, apa yg ada didepan kita lihat hanyalah jalan suram.
In such situations, it's easy to turn and blame God for not rescuing you. After all, he has the power to do so.

Lalu, kita pun kecewa, marah kepada Tuhan, kecewa dengan ketentuan yg Dia buat.
Kita menyalahkan takdir satir dan ironi ketir yg Tuhan buat, pada saat yg sama sendu airmata mengaburkan kewarasan.

Kemudian kita hilang pertimbangan, di antara sisa Iman dan rayuan Iblis.
Kita hanya ingin jalan mudah untuk melepaskan diri dari semuanya, gak sedikit yg seringkali memilih kematian sebagai penyelesaian.

Ketika kita sangat marah dengan Tuhan, kita sama sekali gak mampu mengerti kenapa, hal-hal buruk itu bisa terjadi dalam hidup. Kenapa hal buruk malah sering terjadi sama orang-orang yg baik? Apa yg menyebabkan hidup kita begitu menderita padahal kita benar-benar sudah sangat dekat dengan Tuhan?

Penderitaan hidup yg kita alami, bisa dengan mudah membuat kita kecewa dengan Tuhan. Ini hal yg wajar. Bukan hanya kepada kita, zaman dahulu, Nabi Ayub pernah ditimpa malapetaka yg bertubi-tubi. Adam yg kesepian sesama ratusan tahun ditinggalkan cinta sejatinya.

Ibrahim dan Musa yg dipermalukan. Kesepian Yunus. Dicacinya Muhammad. Pengkhianatan yg dialami Isa. Dan masih banyak lagi. Mereka orang-orang suci, kenapa itu juga terjadi pada mereka?

Karna masalah memang akan selalu ada mewarnai setiap langkah makhluk biadab, sombong dan cengeng bernama manusia.
Hidup dan masalah bagaikan bumbu dan masakan yg saling melengkapi satu sama lain. Gak ada manusia yg tidak pernah punya masalah.

Aku pernah mengatakan kalau aku menganggap masalah sebagai “Frenemy”.
Friend and enemy. Teman dan musuh.

Karna kalau kita cerdas, bijak dan kreatif untuk mengatasi masalah-masalah kita, dia itu mudah diselesaikan seperti saat kita merangkul seorang teman. Aku teringat sebuah quotes bijak untuk menanangani setiap masalah yg ada.

“If you only have a hammer, you tend to see every problem as a nail.”
Kata Abraham Maslow.

Tapi kalau kita terlalu kaku, bodoh, dan lekas putus asa dengan setiap masalah kita, maka cepat atau lambat, masalah itu akan membinasakan kita sampai ke liang lahat.
Memukul telak tepat di pikiran dan hati terdalam.
Kembali kepada Tuhan,
lalu kita tanya dalam hati,
“Apakah Tuhan benar-benar ingin Manusia menderita?”

Kita harus berfikir jernih untuk dapat memahami segala hal. Termasuk ujian dan pahit hidup yg Tuhan beri. Itu bukan ejekan dari Tuhan, percaya padaku. Tuhan punya selera humor yg jauh lebih bagus dari itu.

Bagaimana kita bisa mendapatkan kejernihan berfikir? kejernihan berfikir justru bisa kita peroleh, ketika kita melepaskan fikiran itu sendiri. Kita sapu bersih semua bentuk pikiran buruk tentang Tuhan yg muncul, dan kembali ke kesadaran akan keadaan diri kita disini dan saat ini. Kenikmatan dan lagi lagi berkah yg Tuhan beri. Kesadaran itu akan menjadi dasar hidup kita. Di titik ini, kita memperoleh kejernihan fikiran yg sesungguhnya. Kita pun dapat memahami keadaan yg kita alami apa adanya. 

Kita gak lagi hidup dari prasangka ataupun kesalahan berpikir. Edmund Husserl, filsuf Jerman, menyebutnya sebagai hidup yg fenomenologis, hidup dengan kembali pada kenyataan itu sendiri apa adanya (zurück zu den Sachen selbst).
Lalu kita bisa memulai bertanya kembali, sahabatku,
“Mengapa Tuhan hadirkan pelangi megah sehabis hujan gelap yg menyeramkan?”
“Mengapa Tuhan menumbuhkan bunga indah warna-warni selepas kering-kontang?”
Tuhan, Dia Maha Cinta. Tuhan sangat, sangat, sangat menyayangi kita kawan. Mari kita berterimakasih dan memeluk-Nya lewat ibadah dan syukur. Selalu ada makna baik yg tersimpan rapi dibalik masalah yg Dia beri.

Kita selalu menganggap kalau itu adalah simbol rasa bencinya pada kita, padahal bukan.
Benih hitam yg kusam, apabila disirami hujan dia akan berbunga cantik.
Maka tersenyumlah alam. Betapa indahnya aturan Tuhan.
Kenapa tidak ada hujan berpanjangan agar kita dapat terus melihat pelangi?
Agar sinar mentari dapat menyinari alam.

Matahari itu mewah dan berguna, kenapa harus ada putaran waktu?
Agar hitam malam dapat dihiasi bintang yg tak kalah indah dan juga bulan megah.
Dan.. Kenapa harus ada masalah hidup yg dibenci manusia, padahal nikmat itu lebih disukai semua orang?

Agar kita memperbanyak bersyukur, dan sadar akan nikmat yg sedang kita nikmati.
Walau manusia adalah ciptaan Tuhan yg paling sempurna, faktanya memang gak ada kehidupan yg sempurna untuk manusia. Selalu ada kekurangan. Justru karena memiliki kekurangan itulah, sebagai manusia kita harus memperbanyak rasa syukur.
“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.”
(Q.S An-Nisa: 147).

“Tuhan tak akan pernah membiarkan setiap orang merasakan luka sepanjang hidupnya. Sebaliknya, Ia adalah pribadi yang sangat dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”
(Mazmur 34: 18).

Dengan bersyukur, kita akan selalu merasa cukup. Gak akan dibebani rasa ingin yg rakus dan tamak, dan gak akan banyak menuntut pada Tuhan. Nikmati saja hidup ini.
Dengan merasa cukup dan selalu bersyukur akan membuat hidup kita lebih tenang. Dengan hidup yg tenang, maka kebahagiaan akan terus ada di sekitar kita.

Percayalah padaku sekali lagi. Tuhan sayang kamu. Tuhan sayang semua Makhluk-Nya.
Kalau hanya karna masalah hidup kau membenci Tuhan, maka kau tidak pantas untuk hidup. Mati lah. Susul manusia lemah lainnya. Hidup hanya untuk kaum yg kuat. Pemimpi. Pemikir. Pecinta.

Penulis: Angga Prasetya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel