Membahas soal bahaya Rasisme dan Bully (perundungan).



Rasisme (((BEBERAPA))) orang Korea memang sudah terkenal, terlebih lagi kepada orang kulit hitam dan orang-orang Asia Tenggara.

Kemarin-kemarin pernah viral kasus Lisa Manoban di bully oleh masyarakat Korsel hanya karna dia orang Thailand selain di bully orang Indonesia yg menjadi hatersnya Lisa.
Bisa kau bayangkan kalau kau adalah gadis kecil berumur 14 tahun yg sedang merantau ke Negeri orang, lalu dibully dan dianggap remeh, tapi demi cita² untuk membanggakan Negara dan keluarga kau tetap tegar?


Bagi saya orang hebat adalah yg bukan hanya berani bermimpi, tapi berani mewujudkan mimpi itu. Lalisa Manoban adalah salah satunya. Perjuangan dia untuk sampai di posisi yg sekarang, tidaklah semudah seperti saat haters-nya mengetik komentar untuk membuatnya down, apalagi yg bernada rasisme, itu sangat menjijikkan dan tidak bermoral.

Perlu digaris-bawahi bahwa saya bukanlah seorang penggemar K-pop. Saya tidak suka K-pop, dan saya tidak mengidolakan satupun member K-pop. Tapi mungkin, pengecualian untuk Lisa BLACKPINK. Bagi saya dia adalah idol K-pop yg paling viral, paling terkenal, dan paling manis. Kenapa saya sebut dia yg paling manis? Karna sebelum²nya saya gak bisa membedakan wajah² cewek Korea karna semua sama aja, mirip.

Bisa dibilang dibanding member BLACKPINK lainnya, Lisa adalah yg paling menonjol. Apanya yg menonjol? 

Lisa adalah maknae (member termuda), usianya baru 21 tahun, tapi yg paling disorot di grup Blackberry, BLACKPINK, sorry.

Lisa juga adalah member BLACKPINK yg paling tinggi. Dengan tinggi 168 cm, bobotnya cuma 46 kg.

Selain fisiknya yg luar biasa indah, sebelas duabelas dengan ibu Maimon, Lisa juga adalah seorang pekerja keras. Dan kesukaan saya adalah mengikuti perjuangan hidup orang lain saat menggapai impian mereka, karna bisa dijadikan motivasi.

Lisa ikut audisi YG Entertainment di Thailand di tahun 2010 kemarin.
Lisa mendapat posisi pertama di ajang itu, lalu menjadi satu²nya kontestan yg diterima sebagai trainee di YG Entertainment.

Dan di awal tahun 2011, Lisa hijrah ke Korea Selatan sebagai orang asing yg dianggap remeh. 14 tahun udah merantau dan hidup mandiri di Negara orang itu gak bisa dilakukan oleh semua anak. Butuh mental baja dan tahan banting I swear. Tapi walaupun sudah lolos audisi, jalan bagi Lisa untuk ada di posisi sekarang tidak semulus ketiak Sasaki Nozomi atau paha Chloe Moretz. Tidak semudah bacotmu saat membully Lisa di sosial media.
Banyak yg ingin dan berusasa mati²an berjuang untuk ada di posisi Lisa tapi mereka semua gagal. Lisa berhasil karna dia pantang menyerah dan ambisius.

Walaupun saat itu udah lolos audisi, nyatanya Lisa butuh waktu lima tahun 3 bulan training sebelum akhirnya didebutkan.

Masa² training (pelatihan) tidak melulu suka bagi Lisa, ada lebih banyak duka.
Selain menahan rindu akan keluarga dan kampung halaman, atau dianggap sebagai orang asing Non-Korea yg dipandang sebelah mata, semasa training, Lisa bukan hanya belajar menari dan bernyanyi dengan keras, telaten dan membuat stres. Masih banyak hal yg harus Lisa kecil pelajari, terutama soal bahasa.

Lisa adalah gadis Thailand yg saat itu tidak bisa berbahasa Korea. Jadi dia butuh waktu dan pendalaman yg serius agar dapat berbicara “Sawasdee” menjadi “Annyeong haseyo”. 
Dulu Lisa belajar bahasa Korea setiap hari selama 2 jam, dan dalam waktu 5 tahun 6 bulan, Lisa bukan lagi pandai berbicara Korea, tapi nge-Rap pakai bahasa Korea. 

Dan selain mahir berbahasa Korea, si jenius tapi manis Lisa, menguasai bahasa Jepang dan Inggris.

Sekarang, rasisme. Beberapa waktu kemarin Lisa habis²an kena cyberbullying oleh Netizen Korea yg menyerang personalitasnya sebagai orang Thailand yg sudah pasti Non-Korea.
karena saya bukan protégé-nya Mahatma Gandhi dan saya tidak sebijak beliau, maka soal rasisme saya bahas seadanya.

Rasisme adalah masalah rasial yg mendarah daging di tengah kehidupan masyarakat multikultur di berbagai belahan dunia.

It is biologically induced behavior in that our brains are predisposed to be xenophobic/Xenofobia. Xenofobia adalah ketidaksukaan, kebencian dan ketakutan yg tidak rasional kepada orang² dari Negara, Suku, Ras atau kelompok lain.

Penyakit superioritas yg menganggap bahwa ras/suku/kelompoknya jauh lebih baik dibanding ras/suku/kelompok manusia lain bahkan menganggap ras/suku/kelompok manusia lain itu sebagai budak, orang miskin yg menjijikkan, dan bau.

Rasisme di Korea Selatan memang gak bisa kita anggap tidak ada. Banyak masyarakat Korsel yg sangat rasis terutama kepada orang Negro (kulit hitam) dan orang² Asia Tenggara. Mereka menganggap bahwa orang² Asia Tenggara itu adalah orang² miskin yg kotor, dan orang Negro itu jelek dan bau. Wtf, mereka mungkin belum kenal dengan Pamela Bowie, Eufrasia Vieira, Juliana Evans, atau Liza Soberano kali ya.

Orang² rasis Korsel juga menganggap bahwa Thailand dan Negara Asia Tenggara lainnya sebagai Negara budak dan perempuan²nya jelek makanya butuh operasi plastik untuk mempercantik diri. Hmmm.. Excuse me, what the fuck?

Bagi orang² rasis Korsel, kalau tanpa makeup, wajah Lisa akan seperti cewek-cewek Thailand lainnya, alias standar dan tidak menarik.

Makanya mereka sangat marah dan benci saat Lisa yg dari Thailand lebih terkenal dan lebih menarik dibanding idol K-pop asli Korea Selatan.

Orang² rasis Korsel menganggap kalau mereka, dengan warna kulit mereka yg putih, adalah ras perempuan tercantik di bumi.

Mereka terlalu memuja kulit putih mereka dan berpikir kalau orang² Asia Tenggara dan India - Africa itu kotor dan miskin dan stereotip di otak mereka akan orang² Asia Tenggara, India dan Afrika selalu sama dari dulu, mereka adalah ras inferior/kelas bawah, miskin, bau, kotor, dan jelek.

Fenomena rasisme sebagian orang Korsel ini macam Outsiders Theory – orang Negro dibenci karena mereka berbeda dari semua orang. Mereka pikir cuma mereka ras yg hidup dan membuat bumi berkembang.

Atau Teori Kambing Hitam (Scapegoat Theory) – mereka benci orang² Asia Tenggara karena mereka menganggap bahwa orang² Asia Tenggara adalah penyebab dari banyak kemiskinan di dunia.

Saya gak bilang Korea Selatan itu Negara rasis, no. Saya cuma bilang beberapa masyarakat nya ada yg sangat rasis.

Kita gak bisa bilang Korea Selatan sebagai Negara rasis, karna rasisme ada di berbagai belahan bumi termasuk di Nusantara Indonesia.

Banyak masyarakat dari Negara berkembang ini (Indonesia) yg rasis kepada orang Cina terutama dari kelompok bigot Agama.

Bahkan sesama masyarakat Indonesia saling ejek-mengejek hanya karna beda suku.
Jadi, bukan berarti dari segelintir orang² rasis itu lalu dijadikan patokan bahwa Negara itu emang orangnya pada rasis.

Tidak semua orang Korea Selatan rasis, dan tidak semua orang Indonesia rasis.
Apapun alasannya, rasisme adalah perbuatan dan sikap yg tidak manusiawi, tidak bertoleransi, tidak siap dengan persatuan dan perdamaian. Saya percaya orang² rasis adalah pembuat ancaman nomer satu di dunia selain fanatik Agama macam Teroris. Contohnya adalah Hitler (ras Arya), dia punya penyakit chauvinisme (paham membesarkan ras sendiri), yg antisemitisme (Anti Yahudi). 

Karna itu dia melakukan genosida kepada orang² Yahudi, bahkan ras lain di dunia karna dia ingin hanya ras Arya yg berkuasa di bumi, ras lain dijadikan budak. Benih² sifat keji Hitler ini ternyata menular kepada sebagian masyarakat Korea Selatan yg jijik kepada ras lain dan menganggap mereka budak miskin.

Hanya orang yg dengki dan closed mindedness yg punya sisi rasisme.Tidak siap dengan kohesi sosial dan kemajuan bersama. Tidak ada manusia bermoral yg rasis, orang rasis pantas dibenci karna membunuh kemanusiaan.

Penulis: Angga Prasetya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel