Pelacur hanya karna berpakaian terbuka?



Kalian yg berpakaian terbuka gerah disebut sebagai pelacur, tapi kenapa lantang berteriak kalau perempuan bercadar adalah Teroris?
Memang sering dan banyak Teroris Betina yg berpakaian sangat tertutup, bercadar.
Saya pun sangat benci dan jijik dengan mereka.
Tapi tidak lantas semua yg memakai cadar pantas kita cap sebagai Teroris.
Tidak lantas yg bercadar itu otomatis jadi Teroris.
Pakaian Pelacur sudah pasti terbuka, lalu, apakah kalian tidak sakit hati saat disebut 
Pelacur hanya karna berpakaian terbuka?


Pasti hati kalian sakit. Begitupun perempuan² bercadar yg kalian ejek dengan sebutan Teroris. Ejek dengan Ninja, perempuan jahat, radikal, intoleran, anti-sosial, dan sebagainya.
Seperti yg tercatat di kitab Fath al-Bari,cadar/niqab adalah kain penutup muka yg diikat di kepala, dan atas hidung, di bawah kelopak mata.

Saya bukan orang yg beranggapan bahwa cadar adalah kewajiban bagi Muslimah, tapi saya juga bukan Muslim bodoh yg melarang dan ikut membenci cadar. Karna Ulama diluar sana pula punya Hujjah akan kewajiban cadar sebagai syariat, seperti, dua dalil asal Al-Qur’an, yaitu surah al-Nur ayat 31 dan surah al-Ahzab ayat 59.

Dan soal ayat 31 surat al-Nur, agar lebih paham, Dewan Hisbah menjadikan landasan sabab al-nuzul ayat itu seperti yg tercantum dalam Tafsir al-Qurthubi.
Jadi, yg mau memakai cadar, silahkan, itu bagus. Tapi jangan lantas setelah kalian bercadar, mulut kalian jadi ringan mengatakan perempuan lain dengan sebutan murahan cuma karna dia berpakaian terbuka.

Nah yg tidak memakai cadar, itu hak kalian.
Tapi juga jangan ikut²an mengatakan yg bercadar itu Teroris, antisosial, padahal wawasan dalam otakmu soal cadar pun tak ada.
Mari saling menghargai dan menghormati.

Kita hidup di jaman modern. Di jaman maju, dimana kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari apa yg dia kenakan.
Tidak semua yg bercadar itu Teroris dan jahat, dan tidak semua yg berpakaian terbuka itu pula tak monya moral.

Mari saling menghargai, dengan berhenti menjustifikasi seseorang dari pakaian nya.
Yang bercadar taubat dari syubhat takfiri (mudah mengkafirkan orang lain) ala Khawarij, atau menjadi busuk hatinya dengan memandang jijik perempuan yg tidak menutup aurat.
Karna sekali lagi, moral dan etika seorang manusia tak bisa kita ukur hanya dari pakaian nya. Banyak Ustadz yg cabul pemerkosa, banyak yg bertato tapi ringan tangan dalam hal kemanusiaan.

Begitupun yg tidak menutup aurat, tidak bercadar, hargailah saudari kalian yg bercadar. Jangan cemooh mereka, jangan gunjing mereka, cintai mereka.
Walau kadang cadar erat kaitannya dengan stigma kelompok radikal fundamental Islam, sebenarnya cadar juga merupakan bagian dari gaya berbusana.
Apalagi di Indonesia jaman sekarang.

Lihat saja, ada berapa ribu, ratus ribu,perempuan yg bercadar, bandingkan dengan 20, tidak, 10 tahun yg lalu dimana cadar masih asing.
Dan tidak mungkin mereka semua (perempuan bercadar) itu adalah bagian dari kelompok garis keras Islam tersebut.

Saya yakin, banyak perempuan bercadar malah punya kehidupan sosial yg baik, bahkan berpikiran moderat, jauh dari prinsip kelompok radikal.

Orasi dan opini tanpa adanya solusi adalah bullshit, right? 

Maka saya punya sedikit solusi untuk masalah saling-judge-antar-perempuan ini.
Antisipasi akan cibiran bahwa perempuan bercadar itu adalah antisosial adalah, perempuan bercadar harus rajin bergaul. Bukan hanya dengan sesama perempuan bercadar, cobalah bergaul dengan mereka yg belum menutup aurat, atau tidak bercadar.
Bisa jadi karna bergaulnya mereka dengan kalian, mereka juga ikut menutup aurat bahkan bercadar.

Ini enggak, memang faktual kalau kita bilang banyak perempuan bercadar hanya mau bergaul dengan yg bercadar juga.

Maka pantas lah mereka disebut dengan perempuan sombong antisosial.
Lalu, kita bisa beri edukasi soal cadar kepada masyarakat awam. Apalagi mereka yg hobi menyinyir perempuan² bercadar, tapi tak tahu sedikitpun soal cadar. Bahkan mungkin tak tahu bahwa Ummul Mukminim (istri² Rasulullah) itu bercadar.

Mungkin dengan taunya mereka soal cadar, maka sifat dengki mereka akan cadar bisa hilang. Cemoohan mereka akan perempuan² bercadar bisa hilang.

Penulis: Angga Prasetya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel