Nih Risiko Pacaran, Wajib Baca!

Salah satu resiko dari pacaran adalah kamu akan terlibat dengan yg namanya seks bebas selain dapat bogem dari pacar yg ringan tangan atau dibunuh pacar karna hamil di luar nikah. Tentu saja, yg paling dirugikan dalam hal ini adalah si perempuan.
Perawan hilang, bunting, si cowok kabur.

Kamu yg menanggung malu, masa depan hilang, dicemo'oh keluarga, teman, dan tetangga. Cowokmu?

Ya dia di luar sana, bersenang-senang sama pacar barunya tanpa mikirin kamu.


Dan kita gak bisa sepenuhnya menyalahkan orangtua atas hal ini. Dengan entengnya muncungmu berkata kalau si orangtua gagal mendidik anak. Enggak. Karna si orangtua sudah mendidik anak-anak mereka semampu mereka tapi memang anaknya yg badung karna sedang dalam proses pencarian jati diri. 

Yang bisa kita salahkan atas maraknya seks bebas d

Globalisasi itu sama macam Agama, punya sisi baik dan buruk. Positif dan negatif. Salah satu sisi buruk dari globalisasi adalah berubahnya trend, gaya hidup, bahasa, dan cara berpakaian anak-anak Indonesia menjadi sangat liberal (bebas) seperti anak-anak di Barat.
Jadi gak perlu heran kalau jaman sekarang anak SD udah pada pacaran, anak SMP udah terbiasa dengan free sex, anak SMA sex hardcore dengan gaya-gaya kinky.

Bahkan di Aceh sekalipun, anak-anak remajanya yg masih belasan tahun udah banyak yg pacaran dan saya kenal banyak yg udah nyoba seks.

Seks memang enak dan bikin candu, tapi bukan berarti kita harus menjauhkan/melarang Seks kepada mereka yg remaja atau yg belum menikah, tapi akan lebih berguna kalau mereka diberi arahan dan pentingnya edukasi akan seks (termasuk seks diluar nikah) dan power to confession perihal seks.

Karna kalau kita larang, justru mereka akan semakin penasaran dan melampiaskannya ke situs porno, sampai berujung ke kekerasan seksual, pemerkosaan, dan tindakan-tindakan kelainan seks di luar nalar. 

Menolak dan menjauhkan mereka dari edukasi seks justru menimbulkan represi yg hanya akan membuat mereka menjadi munafik setelahnya.
Perlu kita semua ingat dulu, bahwa seorang yg masih berstatus pacar, tidak berhak mengatur-atur hidupmu, tidak berhak atas hartamu, dan sangat tidak berhak atas tubuhmu kecuali kamu ikhlas tanpa paksaan untuk memberinya.
Jadi jangan bodoh dan tunduk sama pacar.

Cuma diam saat dibentak atau dipukuli, karna orangtuamu sekalipun, yg memberimu makan dan membiayai pendidikanmu tidak pernah sekasar itu padamu.
"Kenapa perempuan yg sangat cerdas atau alim sekalipun dapat tunduk dan patuh macam anj*ng pada pacarnya?"

Ini adalah pertanyaan yg sering saya tanyakan dalam otak saya dan sering saya diskusikan bersama teman-teman saya yg jomblo, yg sudah punya pacar ataupun yg sudah beranak-pinak.

Mari kita tengok ke belakang dahulu, (copas dari status lama saya).
Bukan teman saya, tapi teman perempuan adik saya (namanya tak perlu kita sebut supaya tak menjadi aib) yg begitu alim, sholat tak pernah tinggal, bahkan kata adik saya dia juga mengajar mengaji anak kecil tapi kemarin dia hamil di luar nikah sudah sebulan dan baru saja ketahuan setelah lama dia tutupi. Keluarganya heboh, bahkan di kampung ikut heboh hingga nama baik keluarga nya rusak.

Siapa yg patut kita salahkan? Apakah si wanita yg alim itu? Apakah dia munafik?
Bukan. Lalu siapa? Pacarnya.

Sangat sedikit perempuan ketika berpacaran meminta hubungan seksual terlebih dahulu.
Kaum pria lah yg biasa meminta hubungan seks sebelum menikah dengan pacarnya dan mengancam kalau tidak diberi.

Ada yg namanya KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), jauh sebelum itu, ada istilah yg bernama KDP (kekerasan dalam pacaran), termasuk perlakuan kasar atau intimidatif dari kekasih dan pemaksaan hubungan intim. Ingat, walaupun dia merayumu dengan lembut penuh janji manis tapi kamu tak setuju, itu tetaplah pemaksaan.

Kekerasan seksual dalam pacaran pun dirasakan secara langsung seperti, saat dia mencoba untuk meraba, menyentuh, mencium, atau memaksa berhubungan seks tanpa persetujuan dari pacar perempuan nya.

Dan itu akan semakin terasa saat si cowok mulai melegalkan kata² yg mengandung unsur paksaan atau ancaman seperti,
“Aku sebar foto bugilmu.”

“Yaudah, kita putus aja. Kamu udah gak sayang sama aku.”
“Aku akan ngadu ke ibumu kalau kamu udah gak perawan.”
Lalu, apa bedanya dengan pemerkosaan?
Hasil pantauan saya, ternyata perempuan patuh sama pacarnya karna dua alasan,
1. Karna dia di ancam dan takut.
2. Karna dia sudah terlalu nyaman sampai akal sehatnya pun ikut hilang.
Untuk itu saya punya solusi dan jawaban bagi kalian yg mengalami dua hal diatas.

1. Kalian tidak perlu takut, semua ancaman yg pria banci itu katakan tidaklah seburuk itu. Kalian hanya terlalu takut makanya membayangkan hal-hal menyeramkan yg belum tentu terjadi. Bicarakan dengan keluarga dan teman, jujur saja akan apa yg sebenarnya terjadi. Keluarga dan teman adalah tempat yg baik untuk pulang.

Mereka akan melindungi mu dan menghajar si banci tersebut hingga dia dapat batunya. Dan langkah terakhir yg paling tepat, laporkan polisi apalagi kalau kamu punya bukti-bukti ancamannya, hingga akhirnya dia yg mengemis minta maaf sama kamu.

2. Coba pikirkan, kamu memberi uang dan tubuhmu kepada pria yg belum tentu menjadi suamimu tapi sudah berani sering membentak dan kasar ke kamu. Di mana otakmu? Padahal kamu bisa mendapatkan pria yg punya rupa, fisik, ekonomi dan status yg lebih baik dari dia.

Pernikahan hanya terjadi sekali (kecuali kalau kamu Wahabi, maka akan terjadi 4 kali), jangan sampai di masa depan punya suami yg ringan tangan dan kasar, nanti hidupmu berubah menjadi derita, tubuhmu yg molek dan berisi berubah jadi kurus kering.

Harga diri kalian itu tinggi. Kaum perempuan.
Jangan segampang itu ditipu oleh kaum pria.
Saya tidak munafik, saya juga pria. Dan benar, saya tidak mampu mengontrol nafsu saya untuk tidak mengajak pacar saya berhubungan seks, makanya paling mentok cuma kissing sama pacar. Karna itu saya tidak mau berpacaran lagi. Karna saya memikirkan masa depannya, memikirkan harga dirinya dan keluarganya.

And remember, the highest rates of HIV and AIDS today are not in gay relationships, they are in heterosexual relationships with women whose partners are not monogamous. Itu juga sebabnya saya masih perjaka, walaupun bisa foursome sama lacur paling cantik sekalipun dengan gaji yg saya punya.

Dan lebih baik, kalian juga tidak berpacaran. Karna kalian tidak akan mampu menolak hubungan seks dari pacar kalian. Pacar kalian akan punya 1001 cara agar bisa menikmati tubuh kalian, 1001 janji manis, 1001 ini itu. 

Hanya masa tunggu nya saja yg berbeda-beda bagi setiap individu.
Hubungan yg bersifat otoritif dan memakai label superior - inferior itu tak sehat dan berbahaya. Pihak laki² adalah yg superior, jadi mereka berhak dapat apapun dari pacarnya. Dan pihak perempuan adalah inferior, mereka terpaksa harus mau menuruti apa saja kemauan pacarnya karna alasan² tertentu termasuk karna takut ditinggal atau diancam.
Plato, dalam karyanya “The Republic (360 SM)”, buku V, menyebutkan kalau,
“They differ only in their comparative strength or weakness”,
Artinya,
“Mereka (laki² dan perempuan) hanya berbeda dari kekuatan dan kelemahannya.”
Menurut Plato, laki² dianggap punya kekuatan dan Perempuan memang cenderung dianggap lemah.

Perempuan tak bisa otonom karna budaya patriarki yg mengekang mereka bahkan dalam hubungan berpacaran.

Budaya patriarki adalah gambaran sistem dimana laki² ditempatkan sebagai sosok otoritas utama yg sentral dalam sebuah organisasi sosial atau hubungan seperti suami istri dan pacar.

Dalam sistem patriarki, dibuat suatu ilusi berupa stratifikasi metafisis performa gender; Maskulin lebih tinggi dibanding feminin.

Perempuan mau tak mau harus patuh dengan pacarnya, bahkan perempuan sekelas adik teman saya diatas yg begitu alim pun dapat tunduk dibawah kaki laki² lalu menuruti permintaan nya untuk berhubungan seks diluar nikah.

Padahal, siapapun kalian yg perempuan, berhak untuk menolak. Berhak untuk tidak mau, tidak setuju. Bukan cuma diam dan patuh saat diajak berhubungan seks oleh pacar kalian.
Saat dia bilang,
“Buktikan dong kalau kamu memang sayang sama aku!”
Kalian bisa jawab dengan,
“Kenapa bukan kamu yg membuktikan sayang sama aku dengan menjagaku dan menikahi ku?”

Karna kalian itu adalah perempuan berharga diri tinggi. Kalian bukan pelacur pribadi pacar kalian. Kalian bukan istrinya, dan belum tentu jadi istrinya.

Dan film Dua Garis Biru dapat kita jadikan rujukan akan hal ini. Film ini memberi kita pelajaran bahwa seks bebas itu tidak keren, apalagi sampai hamil, sekaligus membuktikan kalau tidak semua pria itu jahanam. Menghamili anak orang lalu kabur. Ada beberapa pria gentle yg siap bertanggung jawab atas kesalahan yg dia buat.

Penulis: Angga Prasetya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel