Saya Muslim Dan Saya Menolak Poligami

Tulisan ini terpaksa ku post ulang, untuk menaikkan harga diri kaum wanita di kalangan Islam.

Gerakan Poligami biasanya gencar di galakan dalam kelompok Wahabi. Mereka sangat mendukung Poligami, dan sangat keras menyuruh istri²nya untuk memakai cadar. Istri²nya dilarang keluar rumah, apalagi bekerja. Cuma boleh dirumah, bikin anak, mengurus anak.
Kalau kalian jadi istri mereka, kalian cuma menunggu untuk disetubuhi karna dia punya banyak istri, hidup tak bebas, seperti budak yg dikekang, menunggu mati lalu berkhayal masuk Jannah, apalagi kalau ekonomi pas²an, mampus sudah.

Dimana harga diri kalian sebagai wanita kalau mau di poligami?
Kemana kalian buang hak asasi manusia kalian kalau dimadu?


Poligami termasuk salah satu isu yg sering disorot tajam oleh kalangan feminis, termasuk kaum Feminis Islam.
Karna poligami pula, Islam sering dianggap sebagai Agama sexist.
Aku bukan pendukung gerakan Feminis, tapi juga bukan penganut faham Patriarki. Aku netral.

Aku menganggap kalau sepertinya praktik poligami di Indonesia, kebanyakan berakhir buruk. Dan menghasilkan sesuatu yg buruk pula. Pelakor Syari'ah misalnya.
Akhwat² bercadar yg mengajak atau diajak oleh kaum, kita sebut saja para Fundamentalis, untuk merebut suami orang lain tapi cara dan katanya Islami.
Adakah dalilnya kita boleh merebut suami orang lain? Gak ada.
Sekalipun yg katanya Islami. Pelakor tetaplah kaum murahan yg kotor dan tidak punya harga diri.

Sebenarnya gak ada perempuan yg mau dipoligami, kecuali otaknya udah dicuci dengan doktrin keagamaan tertentu yg tidak dia fahami.
Karna apa? Karna poligami adalah hal yg gak adil untuk kaum perempuan, gak ada wanita yg ingin dipoligami, macam gak ada suami yg ingin dipoliandri.
Hubungan yg sempurna dan ideal dalam rumah tangga adalah, satu-suami-satu-isteri.
Dan sebenarnya poligami ini bukanlah Sunnah Nabi, apalagi kewajiban dalam Islam.
Kalau poligami ini Sunnah, maka coba kalian tanyakan pada mereka yg mendukung gerakan poligami, mana dalilnya? Aku sangat yakin mereka hanya akan memberi satu-satunya dalil dan juga satu-satunya ayat yg berbicara soal poligami yaitu Surah An-Nisa ayat 3.

Padahal, An-Nisa ayat 3 sendiri gak mengungkapkan poligami dalam konteks untuk memotivasi kaumnya, apalagi mengapresiasi poligami.
Di ayat itu, Allah hanya membolehkan pria menikahi sampai 4 orang wanita.
Bukan memerintahkan atau disunnahkan. Bukan diwajibkan.
Lucunya, satu-satunya ayat yg membahas poligami itu malah dijadikan dan dipelintir kaum pria Muslim untuk senjata terbaik agar bisa berpoligami. Kata mereka, kaum sok Agamis yg biasanya berjenggot tebal ini, poligami adalah teladan Rasulullah dan harus dicontoh.
Lebih lucu lagi ketika praktik poligami ini, mereka katakan sebagai tolok ukur keislaman seorang Muslim/Muslimah. 

Semakin sering berpoligami dan semakin banyak istrinya, maka akan dianggap semakin alim orangnya.
Semakin ikhlas dan sabar seorang istri menerima dimadu (dipoligami), semakin tinggi kualitas imannya.
Slogan-slogan “sampah” soal poligami pun sering kita lihat di spanduk atau status sosial media seperti,
-Poligami itu Sunnah.
-4 Istri lebih baik.
-Poligami itu membawa berkah dan kebahagiaan.

Dalam sedikit kasus, poligami ini adalah semacam emergency exit untuk para pria saat istrinya menderita penyakit parah, atau mandul yg membuatnya tak bisa memiliki keturunan. Juga solusi efektif persoalan wanita yg ditinggal mati suaminya (janda).
Poligami adalah alternative solusi para pria untuk menyalurkan libido seksualitasnya, kalau si istri pertama sudah gak mampu lagi memberikan pelayanan dengan alasan seperti, masa produkti´Čütasnya yg pendek.

Dan dalam banyak kasus, apalagi di zaman ini, poligami sepertinya tak lebih dari semacam “mengkoleksi” gadis cantik dan shalihah sebagai pemuas nafsu birahi dan kebanggaan tersendiri bagi si pria yg berpoligami. Jarang aku lihat ada pria atau pemuka Agama yg menikahi janda tua, apalagi Ustadz selebriti Indonesia, yg mereka nikahi adalah gadis² cantik dan muda.

Jangan lupa, Saudah, istri “muda” Rasulullah itu janda berumur 69 tahun ­čśü.
Lewat status ini juga, kurasa tak ada salahnya untuk sedikit meluruskan sesuatu. Poligami itu bukan “jati diri” Islam.

Bukan dari Islam. Bukan Islam yg memulainya lalu mengajarkannya kepada dunia seperti yg biasa dituding dan dituduhkan para Islamophobia dan Atheis anti Islam.
Poligami sudah ada sejak jaman dahulu, bahkan sebelum Islam lahir.
Poligami berasal dari bahasa Yunani,
Polus, yg berarti banyak.
Dan Gamos, yg artinya perkawinan.
So, poligami adalah perkawinan satu pria dengan banyak (lebih dari satu) perempuan dalam suatu waktu yg sama.

Dan perkawinan satu perempuan dengan banyak laki-laki disebut, poligini, tapi lebih dikenal dengan istilah poliandri, yg punya persamaan pengertian dengan poligini.
Sekali lagi, poligami dalam Islam itu hanya boleh, bukan Wajib atau Sunnah.
Kalau dibahas dari definisi fiqih, sunnah artinya tindakan yg baik untuk dilakukan, yg biasanya mengacu kepada perilaku Nabi. Tapi kalau perbuatan poligami ini dinisbatkan ke Nabi, ini sangat lah distorsif. Alasannya, kalau memang poligami adalah Sunnah, kenapa Nabi gak melakukannya sejak pertama kali berumah tangga?
Karna sepanjang umurnya, Nabi lebih lama bermonogami daripada berpoligami.
Hidup berumah tangga antara Nabi dengan istri tunggalnya, Khadijah binti Khuwalid, berlangsung selama 28 tahun.
Barulah dua tahun meninggal nya Khadijah, Nabi lalu berpoligami.
Itu pun dijalani cuma sekitar delapan tahun dari sisa hidup Nabi.
Bayangkan, monogami yg dilakukan Nabi ditengah-tengah masyarakat Arab yg sering dan banyak melakukan poligami. 

Dari kalkulasi ini, maka Sunnahnya poligami adalah bullshit yg keluar dari para maniak yg sebenarnya pecandu seks, si Alim pengkoleksi gadis Muslimah.
Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i pernah ditanya tentang hukum poligami, apakah sunnah? beliau menjawab,
“Bukan sunnah, akan tetapi hukumnya jaiz (boleh)”.
Poligami pun bukanlah jenis pernikahan yg dianjurkan dalam Islam.
Sekali lagi, hanya membolehkan.
Memang fakta, Nabi punya banyak isteri. Fakta, di Qur'an kaum pria diizinkan menikahi sampai empat wanita.

Tapi perlu diingat, apa yg ada dalam An-Nisa ayat 3 adalah pembatas.
Bukan semacam anjuran atau lisensi menikahi lebih dari satu wanita.
Karna di zaman Nabi dulu, pria Arab sering melakukan poligami tanpa batas.
Karna poligami yg eksesif ini dianggap gak adil, maka Islam pun membatasinya cuma sampai empat wanita saja.

Dan hukum poligami semacam itu, sudah sangat “kuno” untuk zaman sekarang.
Makanya sekarang banyak yg menolak poligami, termasuk aku pribadi.
Kita ingat kembali, Nabi hidup di abad ke tujuh Masehi, di Arab yg juga adalah tempat spesifik. Zaman dan tempat saat Nabi hidup sudah pasti punya kultur, kebiasaan, adat-istiadat yg berbeda dengan zaman sekarang. Sebab itu, kita pun harus memahami tindakan dan ucapan Nabi dalam konteks yg tepat dan benar. Karna kalau kita gak mempelajari lebih dalam dan lebih jauh tentang apa saja yg ada dalam Islam, termasuk poligami ini, maka kita akan jatuh ke faham sesat bernama anakronisme. Penerapan standar moral dari suatu zaman yg sudah kuno ke zaman yg lain, yg lebih modern.

Kita hidup di zaman lain yg jauh lebih modern, dengan kultur, kebudayaan, dan kebiasaan, yg jauh pula berbeda dengan Nabi. Setiap zaman punya ciri khas masing-masing. Untuk bisa memahami tindakan Nabi, cuma bisa kita lakukan secara tepat kalau kita bisa mengerti dan mengetahui kebiasaan dan kultur di zaman Nabi hidup. Kita sebut ini dengan pemahaman kontekstualisasi.
Di zaman Nabi, poligami bukan sesuatu yg dianggap aneh. Alias sudah biasa, Mainstream. Orang-orang Arab di zaman itu punya banyak istri dan selir, terutama Raja-raja nya.
Nabi Sulaiman juga katanya punya seribu selir. Praktek poligami di zaman itu bukanlah sesuatu yg dianggap buruk.
Tapi, semakin berkembangnya zaman, maka poligami ini pun akan semakin gak diterima kebanyakan Masyarakat.

Rumah tangga yg ideal, yg sejatinya ingin dituju Islam, adalah monogami (satu istri), bukan poligami (banyak istri).
Hal ini Allah isyaratkan di dalam surah An-Nisa ayat 3 (ironi ini sebenarnya, ayat yg biasa kaum Agamis pakai untuk berpoligami, malah dibawahnya ada perintah untuk bermonogami), dan surah An-Nisa ayat 129.

Allah pun sebenarnya sudah mengingatkan, kita gak akan mampu untuk berlaku adil, walaupun kita berusaha mati-matian untuk itu. Kita kenang kembali ayat 129 dari surah An-Nisa,
“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yg kamu cintai), sehingga kamu biarkan yg lain terkatung-katung...”
Ayat diatas pun terbukti.
Nabi sendiri mengakui kalau hatinya lebih cenderung mencintai Aisyah daripada istrinya yg lain. Maklum saja, si muka merah (Al-Humairah), adalah satu-satunya istri Nabi yg perawan, cerdas, dan sangat manja.

Rasa cemburunya juga lebih tinggi.
Kalau Nabi saja yg dijamin gak punya dosa dan tercela (ma’shum), mengaku bahwa beliau gak bisa berlaku adil (terutama dalam persoalan cinta/hati) apalagi kita, umatnya yg penuh dosa, gampang khilaf, dan sangat kotor?

Tugas para ulama, dan kita, sebagai Muslim Liberal yg waras, harus bisa ngasih pencerahan baru untuk masyarakat Indonesia dan dunia soal konsepsi poligami dan kedudukan kaum wanita dalam Islam, supaya gak ada lagi sikap “seenak jidat”,sikap sewenang-wenang terhadap kaum wanita. Perempuan itu sangat sensitif perasaannya. Dilukai sedikit aja pasti akan terus mengingat nya sampai kapanpun. Dan menurutku, ketika dia di poligami, maka sehari-hari dia akan hidup dalam tekanan. Cemburu. Iri.
Perempuan bukan budakmu, mereka manusia merdeka. Perempuan adalah hebat. Mereka bukan sampah yg bisa kau lakukan seenaknya, bajingan!

Paradigma modern hari ini didasari profesionalitas dan kafabilitas seseorang, bukan oleh jenis kelamin. 

Ini saatnya kita ikrarkan Tahrir al-Mar’ah (Pembebasan Perempuan). Karna aku lihat, banyak kaum wanita yg tersiksa karna masalah poligami yg kata kaum Agamis egois, itu adalah Sunnah Nabi, bahkan wajib.
Perempuan juga punya harga diri, jangan kau sepelekan macam budak yg tak punya hati.
Jangan pula kau jadikan ayat suci Al-Qur'an demi pembelaan dan senjata agar bisa memuaskan nafsu birahimu.

Penulis: Angga Prasetya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel