Sifat dewasa itu diraih karna sikap yang bijak, benarkah ?

Sifat dewasa itu diraih karna sikap yg bijak, dan komunikasi verbal yg baik dengan orang sekitar. Bukan soal usia. Kedewasaan dibentuk, bukan didapat.
Sayangnya, terminologi kita dalam memahami nilai positif sesuatu, kerap memakai sudut pandang subjektif pribadi.

Kita secara sadar atau tak sadar, seringkali menyerang komitmen yg telah susah payah orang lain bentuk, kebahagiaan yg dirasakan orang lain, lewat pertanyaan kita yg sebenarnya bersifat destruktif - memojokkan - dan tidak membantu karna tak ada solusi yg kita beri atas “masalah-masalah” mereka lewat pertanyaan² aneh dan tak penting kita.



“Kamu itu bodoh banget, mau LDR sama orang yg gak jelas.”
Padahal dia menjalin LDR sudah sangat lama, sudah banyak hal yg dia dan pasangan nya korbankan demi hubungan itu, sudah melewati ribuan halang rintang yg kau tak tahu betapa beratnya itu, tapi mereka masih bertahan demi satu tujuan, kebahagiaan yg dijalin atas hebatnya komitmen total.

Dan kau, orang luar yg tak tahu apa dan mengapa, tiba² bertanya seperti itu?

“Kamu kan Muslimah, kok gak berjilbab? Kamu kelihatan seperti Pelacur.”
Sebuah pertanyaan yg menohok iman siapapun yg ditanya, dan ingin membunuh si penanya. Ada adab dalam bertanya dan menasihati, dan pertanyaan diatas, melanggar etika keduanya. Berjilbab bagus, tapi jangan memaksa seseorang untuk berjilbab, karna ada penolakan dalam hatinya, yg menjadikan pemakaian Jilbab, menjadi tak ikhlas. Doakan saja mereka, nasehati dengan pelan, jangan dipaksa, apalagi ditanya pertanyaan diatas yg justru membuatmu menjadi seorang complete bastard.

“Lulusan S1 kok malah jadi office boy sih? Bikin malu keluarga aja.”
Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi mencatat ada sekitar 8,8% dari total 7 juta pengangguran di Indonesia adalah sarjana, dimana ijazah mereka mulai dari diploma tiga (D3) sampai strata satu (S-1). Apa yg membuatmu lantas begitu menjadi sangat spesial hanya karna punya gelar sarjana? Karna ada jutaaan sarjana dan calon sarjana di luar sana.

Ada dua faktor internal yg menurut saya sangat krusial dan sangat menentukan kenapa mayoritas lulusan sarjana bekerja di area yg tak sesuai dengan jurusan atau titel nya. Yang pertama adalah Agile thinking ability (mampu berpikir banyak skenario) dan interpersonal and communication skills -(keahlian berkomunikasi hingga berani adu pendapat). Atau bisa juga karna sikap pantang menyerah, tak terlalu tinggi gengsi, dan jujur.

Ribuan orang hebat dari seluruh dunia dulunya bekerja di pekerjaan yg bahkan menurut kita hina sebelum mencapai posisi mereka sekarang ini. Yang penting adalah, pekerjaan itu halal, dan yg kamu tanya, bukan seorang pengangguran.
“Udah umur segini, kapan menikah? *sambil tertawa*”

Bagi kalian yg sering bertanya seperti ini, sepertinya terlihat lucu. A jokes.
Percayalah, mereka yg bertanya seperti ini sama sekali tak perduli dengan masalah personal mu. Ini hanya semacam intermeso yg sudah sangat basi, dan pertanyaan macam ini, memang tak penting untuk ditanya, apalagi dijawab.

Seseorang yg sering ditanya pertanyaan ini bisa mendapatkan tekanan batin, stres, karna dia sendiri mungkin tengah berusaha merealisasikan pernikahan nya, hanya saja terhalang ekonomi, bisa juga restu dari calon mertua susah didapat, atau dia.. Dengan berat hati.. Jomblo.

Tak perlu ditanya kapan menikah, karna nanti undangan akan disebar bila sudah waktunya. Tanya saja ke diri sendiri bagi yg sudah lama menikah, tapi kok gak bahagia?

Kebenaran dan kebaikan itu relatif.

Apa yg menurut mu benar dan baik, bisa jadi adalah salah dan buruk bagi orang lain.
Apa yg menurut mu salah dan buruk, bagi orang lain justru benar dan baik.
Kita hidup dalam kehidupan masing², biarlah orang lain hidup nyaman dengan kehidupan nya tanpa ada pertanyaan² konyol darimu yg membuat hidupnya menjadi berat, pertanyaan² yg bukannya menjadi problem solver, tapi malah hanya akan menjadi neo-problem maker.

Penulis: Angga Prasetya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel