Sudah Nikah ? jangan tinggal sama mertua kalau tidak ingin STRES

Kalau sudah menikah, jangan tinggal bersama mertua kalau ingin bahagia dan tidak ingin stres. Memang tidak semua mertua itu cerewet, tapi satu yg pasti, mereka tetap akan mengatur-ngaturmu saat kamu hidup di rumahnya.

Mertua akan mengomentari apa saja yg kau kerjakan di rumah. Mengomentari caramu merawat anak, caramu mengurus suami, mengurus rumah, sampai penampilanmu saja nanti akan dikomentari sama mertuamu. Hingga kau menjadi tidak betah tinggal di "rumah".
Bahkan mertuamu mungkin saja melewati batasan dengan membentakmu ketika dia marah, mencibir dirimu, status sosialmu, pendidikanmu, sampai keluargamu saat dia merasa benci denganmu karna baginya kamu bukan menantu idaman.


Tapi kalian cuma bisa diam tanpa berani melawan. Lalu menangis di dalam kamar saat suami tidak ada adalah hal terbaik yg bisa kalian lakukan.

Which girl wants her entire life to be scruntinized and analysed by her in laws? Tidak ada perempuan yg ingin hidup dalam kekangan, diatur-atur, dan disuruh harus hidup seperti apa oleh orang lain, termasuk mertua.

I think it is basic human nature to be independent

Karna kita semua mencintai kebebasan.

Apalagi Perempuan secara biologi memang diciptakan untuk membuat keluarganya sendiri, bukan hidup dalam keluarga orang lain dan diatur oleh keluarga itu seperti robot pembantu.
They are not made to be a part of someone else's family.

Hidup bersama mertua saat sudah menikah bagi perempuan adalah Neraka dengan gambaran Surga.

Setelah menikah kamu bukannya hidup bahagia, tapi terkekang. Kamu dipaksa dan terpaksa memakai topeng. Di satu sisi kamu memang merasa ada yg tidak benar, karna kamu dikekang oleh mertua. Tapi di satu sisi kamu juga terpaksa diam, karna tidak ingin menyakiti hati suami dengan menceritakan keburukan mertuamu. Pada akhirnya, kamu lah yg paling menderita. Stres. Bukan kebahagian setelah pernikahan yg kamu dapat, tapi stres.

Orang ketiga dalam rusaknya sebuah hubungan antara suami dan istri, tidak melulu PIL atau WIL, tapi bisa jadi adalah mertua sendiri. Bukan tidak mungkin hubungan harmonis suami istri akan kandas oleh pertikaian antara mertua dan istri yg sering terjadi.
Dan kalau sudah terjadi konflik antara mertua VS menantu, sudah pasti si suami akan ikut terlibat atau dilibatkan.

Kemudian si suami akan berada dalam situasi vital yg menjepit. Saat si suami membela ibunya, si istri pasti merasa kecewa dan sedih. Kalau dia membela istrinya, ibunya yg marah dan menuduhnya sebagai anak durhaka atau pria lemah yg terlalu takut dan patuh pada istri.

Oh shit, saya yg menulis ini saja jadi membayangkan sendiri bagaimana kalau saya yg mengalaminya.

Siapa yg saya bela? Karna saya sangat menghormati ibu saya, tapi saya pastikan saya juga sangat mencintai istri saya kelak. Saya akan perlakukan seperti Ratu.
Cukup tentang saya dan imajinasi saya, kita kembali ke topik.
Tentu hal ini akan membuat si suami ikut stres dan pusing. 

Ikut tertekan padahal sudah seharian di tempat kerja, saat pulang ingin melihat suasana hangat dan damai di rumah, tapi yg terjadi malah perang saudara antara istri tercinta dan ibu tersayang. Padahal yg diinginkan oleh suami hanyalah hidup rukun dan damai walaupun itu mustahil. 

Kenapa saya bilang mustahil? Karna bagaimanapun, seperti yg saya katakan diatas, mertua memang suka mengatur dan mengomentari menantunya.

Percayalah, sekalipun kalian mencari tips dan trik bagaimana caranya agar akur dengan mertua, bagaimana caranya agar dicintai mertua, itu tidak banyak berhasil.
Saran saya cuma satu, dan ini cukup simpel. Jangan tinggal dengan mertua. Lebih baik tinggal secara damai bersama suami di dalam kontrakan, dibanding tinggal bersama mertua di dalam istana.

living apart amicably is better than living together in a hell full of arguments and fights.
Tahun² pertama dalam pernikahan adalah masa² paling krusial. It can either make it or break it.

Banyak pasangan yg baru menikah langsung cerai karna tidak tahan dengan ego masing² dan mereka tidak mau membicarakannya. Sedangkan soal ekonomi dan perselingkuhan adalah nomer sekian.

Satu yg perlu para pria ingat adalah, istri kalian kelak rela meninggalkan keluarganya demi kamu sebagai suami.

Bahkan rela meninggalkan kehidupan dan teman²nya hanya demi membuatmu bahagia. Maka saya rasa, istri atau calon istri kita kelak berhak di prioritaskan.

Dan untuk para Perempuan, be diplomatic, do your duties but follow your dreams too.
Jangan jadi menantu dan istri durhaka. Bermain cerdas lah. Tapi jangan juga mau dikekang dan diperbudak. Jangan takut untuk bersuara. Karna kalian para istri dan calon istri, berhak bahagia saat sesudah menikah.

Penulis: Angga Prasetya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel