Surat Cinta Untuk Iblis

Iblis adalah figur sejati seorang pecinta, mahaguru.
Kasihan Iblis selalu menjadi kambing hitam akibat ulah bejat dan durhaka Manusia. Padahal kita sendiri yg mabuk dunia, lupa pedoman Agama, dan mempersetankan perintah Tuhan.
Ribuan tahun ibadahnya, nama baiknya yg mengalahkan bahkan para Malaikat sekalipun, hancur lebur hanya karna secuil sifat sombong. Tapi manusia yg berjuta kali melaknat dan melawan Tuhan, tetap diberi kesempatan Surga. Hidup memang tak adil, Iblis.
Iblis selalu menjadi simbol kejahatan manusia, sekalipun kejahatan itu datang dari manusia sendiri.

Manusia memang ada yg bejat dengan ada atau tidaknya Iblis. Coba bayangkan kalau Iblis mau bersujud didepan Adam, maka manusia gak akan jadi khalifah di bumi. Kitab-kitab dan Nabi juga gak akan turun. Surga dan Neraka pun akan menjadi sia-sia.
“Iblis adalah musuh yg nyata bagimu.” adalah makna secara syar’i, secara lahiriyah, bukan secara hakikat.


(Kenalilah Musuhmu, maka kamu akan mengalahkannya).
Iblis bukanlah makhluk yg harus selalu dibenci, Al-Hallaj mengatakan Iblis adalah figur pencinta sejati, makhluk yg teguh, dulu Iblis adalah sang mursyid bagi para Malaikat.
Hazrat Sarmad mengajarkan manusia untuk berguru Tauhid Murni pada iblis. Ahmad al-Ghazali (adik Imam Ghazali) menilai kalau manusia yg belum tau hakikat Iblis, masih belum beriman, masih cenderung menduakan Allah.

Iblis malah kadang lebih jujur daripada Manusia. Contohnya, ada manusia yg tampilannya alim, sopan santun, ramah, berjenggot, cerdas, rajin sholat, tapi ternyata dia adalah seorang koruptor, penipu dan kriminal. Ada pula Ustadz cabul yg senang melecehkan gadis.
Pengasuh pondok pesantren yg memperkosa santriwati nya.
Dan, Iblis itu jujur. Dia jujur mengatakan kalau tugasnya di dunia adalah menggoda manusia untuk berbuat dosa.
Saat Allah memerintahkan para malaikat bersujud di hadapan Adam, mereka semua bersujud, kecuali Iblis/Azazil.

Dalam kitab at-Tawasin karya besar Mansur al-Hallaj. Dikatakan Iblis tak mau bersujud karna dia enggan memuja siapapun, atau makhluk manapun kecuali Allah. Beribu kalipun Allah Sang Maha Tahu memerintahkan Iblis untuk bersujud, dia tetap enggan. Karna selama beribu-ribu tahun, yg dia tahu hanya memuja dan menyembah Allah. Walaupun diancam Neraka dan siksaan paling pedih, Iblis tetap kukuh tidak ingin memuja selain Allah.
Iblis dan Jin setan adalah rangkaian kata yg saling terkait dalam konsep “invisible creature”, makhluk ghaib.

Dan selalu dituduh atas tindak-tanduk durhaka dan bodohnya manusia. Terminologi ini dipakai sama kaum Agamawan untuk menggambarkan suatu penyebab keburukan yg diperbuat manusia. Definisi populer dari para ulama Salaf soal istilah ini bisa dinikmati dari berbagai karya tafsir yg terkenal, macam Thabari, Ibnu Katsir, ar-Razi, dll.
Setan berasal dari kata syathana, bermasdar syaithan, sikap durhaka dari yg semestinya. Setan adalah sifat, bukan makhluk. Binatang dan Manusia juga bisa jadi Setan.

Thabari, contohnya, beliau mengisahkan kejadian saat Umar bin Khattab menyebut kudanya dengan sebutan,
“Setan”, karna gak mau berlari dan dianggap memberontak dari fungsinya sebagai hewan transportasi.
Aku ingin berterimakasih dan bersyukur dengan adanya Iblis.
Bersyukur karna kehadiran Iblis? Ah, aku takut nantinya rasa syukur itu hanya menjadi penyebab durhaka pada Tuhan.

Tapi, kalau seekor semut aja gak akan bisa menggigit tanpa kehendak Tuhan, mampukah Iblis membisiki kejahatan tanpa restu Tuhan? Menghasut manusia untuk berbuat jahat? Mengajak manusia untuk menjadi musuh Tuhan?
Tentu tidak. Tuhanpun mengizinkan Iblis untuk mengajak manusia mendurhakai-Nya. Ya, aku tau itu memang permintaan Iblis. Tapi Tuhan mengizinkan.

Karna Tuhan membiarkan semua ciptaan-Nya mengambil tempat dan peran sendiri-sendiri.
Iblis dengan semua rayuan dan bisikannya memberikan manusia kesempatan untuk membuktikan diri dan kepantasan dihadapan Tuhan.
Kalau kita berhasil melawan bisikan Iblis, maka kita bisa disebut utuh dan total dalam bertuhan.

Hal yg menyedihkan adalah, kita sering melupakan hakikat dan filosofi kehadiran Iblis. Kita melakukan dosa atas keinginan kita sendiri, maksiat atas keinginan sendiri, tapi ujungnya selalu Iblis yg disalahkan karna dia merasa Iblis selalu menggoda dirinya.
Selalu Iblis yg patut disalahkan dan dikutuk.

Tapi apakah pantas, bila manusia selalu menyalahkan Iblis sebagai rintangan nomer satu untuk mencapai Tuhan dan Surga? Tujuan bukanlah tujuan tanpa ada rintangan. Jangan menerus menyalahkan Iblis karna sifat manusiawi mu, khilafmu. Iblis hanya menghasut, bukan menakdirkan mu untuk berbuat maksiat. Sesekali salahkan dirimu. Kenapa mau mendengar hasutannya.

Mayoritas Muslim sering menyalahkan Iblis sebagai makhluk yg harus bertanggung jawab atas semua kejahatan di muka bumi. Iblis berubah jadi konsep yg terpatri dalam ingatan manusia melalui indoktrinasi propagandis Agama yg mengatakan kalau manusia itu baik dan Iblis itu jahat. Manusia berbuat maksiat selalu karna godaan Iblis, bukan sepenuhnya kemauan dan kesalahan manusia.

Konsep Iblis yg dituduh sebagai penyebab dari semua kejahatan di bumi ini seakan melekat jadi sugesti tersendiri untuk para manusia Muslim saat mengalami realita yg berbeda dengan apa yg dia harapkan.
Konsepsi tentang Iblis semacam ini secara gak sadar melahirkan sikap yg mencari-cari kesalahan (blaming) atas makhluk outsider (Iblis) yg berbeda identitas dengan manusia (makhluk yg menyalahkan).

iblis yg abstrak dihidupkan di diri manusia yg berbeda ideologi, sampai Iblis menjadi konkrit. Iblis yg awalnya cuma divine concept dalam urusan penyebab dosa dan pahala, berubah jadi paradigma dan sikap dalam merespon situasi kejahatan sosial, politik bahkan ekonomi manusia.
Sehabis penolakan Iblis atas sujudnya pada Adam, Allah pun melaknat Iblis dengan sebutan, “Kafir”. Azazil atau Iblis juga dapat bonus lain berupa kutukan dan penderitaan abadi sampai di akhirat nanti. Iblis pun menerima itu dengan ikhlas. Bahkan Iblis menawarkan, “bantuan” pada Allah. Untuk menggoda manusia, makhluk labil yg membuatnya haram dan najis untuk dijadikan tempat bersujud. Dari Makhluk yg bahkan lebih mulia daripada Malaikat, Iblis kini berubah menjadi sosok yg paling dibenci dan dilaknat seluruh ciptaan Tuhan. 

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. Ada hikmah dan pelajaran dari semua kejadian ini.
Kalau saja Iblis mau bersujud pada Adam, tentu dunia ini gak akan di huni manusia. Dan firman Allah,
“Aku jadikan Manusia untuk menjadi Khalifah dimuka Bumi.” jadi gak terlaksana, karna Adam masih di Surga.
Kalau Iblis tidak menggoda manusia untuk durhaka, tentu Neraka pun kosong dan tak ada gunanya.
Maha Suci Allah dari kekurangan dan kesalahan, Maha sempurna Allah Atas segala Rencana-Nya.

Tapi aku tetap merasa kasihan dengan makhluk yg menjadi musuhku. Dia ikhlas menjadi sosok yg dibenci demi menjadi pembuktian atas shalih atau tidaknya manusia.
Iblis ternyata memang diciptakan dan ditakdirkan menjadi penguji, guru, sekaligus pembimbing bagi umat manusia, Al-Qur'an adalah mata pelajaran dan Hadist muncul sebagai pedoman dalam memahami mata pelajaran itu.
Jawaban Iblis yg mengatakan kalau dia terbuat dari Api yg elegan, sedangkan Adam dari tanah menjijikkan, saat menolak bersujud pada Adam sangat simbolik dan kita ingat sampai sekarang. Seorang Azazil dengan kesadaran illahi, keshalihan, dan Ilmunya yg lebih tinggi daripada Malaikat sekalipun gak mungkin mempermasalahkan hal-hal fisik jasadi semacam itu.

Sebenarnya Allah tengah mengajarkan manusia tentang bahaya kesombongan. Allah juga mengajari para malaikat tentang kecintaan murni seperti Azazil, dan melalui para malaikat, Allah mengajarkan sikap keshalihan pada manusia. Dan, sejatinya Iblis adalah guru yg mengajari keshalihan ke para malaikat dan para malaikat mengajarkan itu ke manusia.
Iblis hanya menunjukkan,

“Barang siapa tak mengenal keburukan, maka tak mengenal kebajikan.”
Teruntuk kau Iblis, terimakasih telah menjadi musuh terbaik yg mengajari ku arti kesetiaan. Mengajari ku bahaya sifat sombong. Terimakasih pula telah ikhlas menjadi penjahat abadi yg paling dilaknat, agar manusia bisa mencapai Surga meski kau sendiri terpanggang dengan siksaan paling pedih di Neraka nantinya.

Penulis: Angga Prasetya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel