Tuhan, kami tidak takut padamu!

Kami lebih suka bergaul dengan dan mengikuti Sang Iblis.
Bagi kami Iblis jauh lebih keren daripada Engkau, Tuhan.
Kau menyuruh kami beribadah, melakukan hal baik, dan selalu jujur. Beribadah, kami malas. Melakukan hal baik, kami bosan.
Jujur, berbohong jauh lebih menyenangkan.

Kau melarang kami melakukan dosa, padahal dosa itu enak.
Berbohong itu enak. Aku bisa mendapatkan yg ku mau dengan cara berbohong. Tapi ketika aku jujur, aku selalu dibodohi.
Kau melarang kami memamerkan aurat? Hahaha, untuk apa, Tuhan? Padahal kami jauh lebih senang untuk memamerkan kecantikan kami pada setiap mata.
Kau menyuruh kami untuk berjilbab? Tentu kami tak mau, sebab kami tak takut padamu.
Kau hanyalah pecundang yang kami butuhkan hanya di saat kami jatuh.
Kami jauh lebih senang menuruti perintah Iblis untuk memamerkan aurat kami.
Kami lebih patuh dengan bisikan Sang Iblis untuk memusuhi Kau, Tuhan.


Korupsi itu enak. Kami bisa cepat kaya dengan cara ini. Kau menyuruh kami bersedekah? Hahaha, untuk apa? Hanya membuat kami yg miskin semakin miskin.

Zinah itu enak. Ini favorit semua umat-Mu, Tuhan. Kami bisa merasakan nikmatnya hubungan seksual tanpa harus repot-repot menikah. Kami juga bisa berhubungan dengan banyak wanita. Oh ya, itu sebabnya kami sangat suka mengikuti perintah Sang Iblis. Karna dia lah pemberi kenikmatan sejati, sedangkan kau hanyalah pembual, Tuhan. Janji-janjimu terlalu manis untuk nyata dalam alam khayal kami.
Ini lah kami, Tuhan. Umatmu tersayang yang membuang mu. Bagaimana rasa sakitnya dikhianati, Tuhan?

Kami pikir Kau bodoh, Tuhan. Karna terlalu lunak pada kami. Sampai kami tak takut padamu. Sampai kamu melupakan mu.
Atau, mungkin sejatinya kau terlalu sayang pada kami, makhluk mu yang lemah tapi sombong ini.

Itu benar, nyatanya kau, Tuhan, terlalu sayang pada kami.
Setelah berjuta kali mengalami penderitaan akibat kebohongan dari Sang Iblis, kami pun sadar bahwa Iblis memang benar adalah musuh yang nyata bagi kami, sesuai peringatan dari-Mu.

Maka, dalam wajah berdebu penuh rasa malu, izinkan kami meminta maaf pada-Mu.
Karna, Tuhan, kami tahu kalau pada hakikatnya kami terlahir dalam kondisi suci (fitrah). Kami tidak membawa dosa keturunan, walau terlahir lewat hubungan haram orang-tua kami sekalipun.
Tuhan, kami pun sadar penyebab kami jauh dari-Mu lalu berpaling dengan Sang Iblis adalah karna kami lupa padamu.
Kami terkena Al-Jahl (ketidak-tahuan) atas dosa-dosa kami. Karna itu kami menganggap remeh segala maksiat dan egois yg kami lakukan.
Kami meremehkan Agama kami, meremehkan Mu, Tuhan, hingga membuat orientasi pola pikir kami menjadi biasa untuk berbuat salah dan melupakan untuk berada pada jalan hidup yang benar.

Kami pula tak sayang pada diri sendiri, karna selalu menjerumuskan diri akan kehancuran. Ingkar pada Agama, berkhianat pada-Mu, Tuhan, dan bersahabat dengan Iblis.
Kami memang terlalu jauh dan terlena mengikuti jejak Iblis, sampai tak sadar sudah tersesat dan jauh dari jalan-Mu, Tuhan.
Kami terlalu cinta dunia, hingga tak pernah sekalipun terbesit dalam otak kami akan abadinya akhirat. Akan sakitnya sakaratul maut.
Karna, Tuhan, mungkin karna kami tak takut pada-Mu dan Neraka-Mu.

Kami lebih senang berkeluarga dengan Iblis dan Jin Setan, karna mereka lah yg paling mengerti kami, ego kami, dan nafsu kami.

Dan Kau, Tuhan, selalu melarang ini itu hingga membuat kami muak.
Iblis mengizinkan kami berzinah, mencuri, membunuh, merampok, memperkosa, dan menyiksa. Karna itu amal bagi mereka, dan juga hal yang sangat menyenangkan bagi kami.
Tapi Kau, Tuhan, malah melarang ku untuk melakukan hal-hal menyenangkan dam nikmat itu.

Maaf Tuhan, aku jauh dari-Mu dan lebih memilih untuk berada di sisi Iblis, meskipun ku tahu dia adalah penyebab ku akan berada di Neraka-Mu nantinya, dia lah penyebab moyangku jatuh ke bumi dari Surga.

Lalu, bertahun-tahun sudah aku melakukan dosa-dosa itu Tuhan, aku mulai bosan, aku hidup dalam kebimbangan, kesepian, dan ketidakpastian. Tak berdaya. Aku mulai tua. Sementara si Iblis pergi mencari teman baru. Aku mati dalam ketidakberdayaan.
Aku mati sebelum aku sempat meminta maaf pada-Mu, Tuhan.

Tapi Tuhan, kini aku memasuki Neraka akibat ulahku sendiri, maukah kiranya Kau menolong ku? Karna sang Iblis menolak kumintai tolong, sebab dia sendiri ku lihat tengah berada dalam siksaan pada tempat yg sama, hanya saja siksaannya lebih keras.
Aku kini sadar, tak ada siapapun atau makhluk manapun yg bisa menolong ku kini, hanya Kau Tuhan. Ah, sungguh hidup yg sangat sia-sia kujalani, akibat terlena akan maksiat dan dosa hingga lupakan Engkau.

Penulis: Angga Prasetya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel