Wanita Yang Paling Luar Biasa Adalah Dia Yang Mau Berhijrah Menjadi Lebih Baik!

Wanita yg paling luar biasa bagiku adalah, wanita yg mau berhijrah menjadi lebih baik.
Menjadi sosok yg dekat dengan Agama, walaupun kena cibir sana-sini oleh Setan-setan Manusia. Ada perasaan kagum yg begitu besar saat melihat wanita-wanita ini, “nekat Hijrah”, walaupun teman dan keluarga nya belum mau berhijrah, lalu dampaknya, dia yg kena bully oleh teman dan keluarganya itu karna dianggap sok suci.

Belum lagi wanita bercadar yg sering dianggap teroris, sesat, sok suci dan cibiran lainnya. Padahal cadar itu adalah Syiar Islam yg hukumnya adalah Sunnah bahkan Wajib menurut para Ulama Salaf maupun Khalaf (kontemporer). Memakai cadar juga menghindari wanita dari fitnah dan zinah. Dimana salahnya?



Gak ada hubungannya antara cadar dan terorisme, bung, sis. Kalau kamu berpikiran cadar itu adalah pakaian teroris, maka otakmu perlu di kembangkan lagi, diisi dengan wawasan.
Cadar adalah pakaian istri-istri Rasulullah.
Kalian yg sudah Hijrah tapi kena cibir, jangan sedih dan risau, demi Allah, Allah beserta kalian. Allah mendukung kalian. Kalian adalah wanita-wanita hebat, yg masih mau memperbaiki diri walau terkontaminasi pergaulan dan jaman yg semakin gila.
Gak masalah, walaupun dulu sering memamerkan aurat, bersyukurlah sekarang kalian diberi hidayah untuk berubah.

Kalian hebat, sekali lagi.
Tetap istiqomah, saudariku. Kami mendukung kalian, walau diluar sana, banyak orang yg mencemooh kalian karna kurangnya adab dan iman mereka.

Apapun aliran Islam-mu, entah itu Salafi, Mu’tazili (Mu'tazilah), Syi’i (Syi'ah), Sunni, Sufi, dll atau entah bagaimana pun caramu memandang Islam seperti Revivalis, Substansialis, Puritanis, Liberalis, Fundamentalis, Tradisionalis, bahkan, modernis, Hijrah memperbaiki diri itu wajib dalam Islam dan bagimu, karna Hijrah adalah bagian dari Agama yg juga adalah keniscayaan hidup (min lawazim al-hayah).
Muhasabah (introspeksi) diri sendiri bagi umat Islam juga dapat menumbuhkan semangat kosmopolit, berkeadaban, dan beriman lebih baik.

Jangan tunggu lama-lama, karna mati kita tak ada yg tau. Sekarang kamu bajingan, Hijrah lah. Sekarang kamu pelacur, Hijrah lah. Sekarang kamu Atheis, Hijrah lah.
Tuhan selalu mendukung niat baik umatnya, tanpa melihat status nya terdahulu.
Hijrah sendiri adalah keluar dari “darul kufur” menuju “darul Islam”.
Keluar dari kekufuran menuju keimanan.

Perintah berhijrah ada di beberapa ayat Al-Qur’an, seperti, Qs. Al-Baqarah 2:218,
“Sesungguhnya orang-orang yg beriman, orang-orang yg berhijrah dan berhijrah di jalan Allah, mereka itu mengharpakn rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Hijrah dalam konteks yg kita maksud ini, bukanlah Hijrah Makaniyah, atau definisi nya adalah meinggalkan satu tempat ke tempat lain, seperti yg dilakukan Rasulullah dari Mekah ke Habasyiyah, atau dari Mekah ke Madinah.

Tapi Hijrah Hijrah I’tiqadiyah (keyakinan).

Iman manusia itu selalu bersifat fluktuatif, atau gak tidak stabil, selalu berubah-ubah.
Kadang setinggi keyakinan mu’min sejati, tapi kadang sangat dangkal seperti iman orang yg kufur. Makanya benar kalau ada istilah, Hijrah itu mudah, istiqomah nya yg susah.
Iman pula kadang muncul dengan kemurnian yg sesuai syari'at, tapi gak jarang juga bersifat sinkretis, bercampur-baur dengan keyakinan lain yg dekat dengan hal-hal berbau Syirik dan Musryik. 
Maka jangan heran, banyak orang beragama Islam, tapi memberi sesajen, mengkeramatkan keris dan pohon, takut dengan jin, dll, karna iman mereka sudah tercemar dengan paham Sinkretisme.

Kita juga berbicara soal Hijrah Sulukiyyah.

Suluk artinya adalah tingkah laku/kepribadian (akhlaq).
Dalam perjalanan hidup kita yg panjang dan berbelok-belok, ahklaq dan kepribadian manusia gak pernah terlepas dari degradasi dan pergeseran nilai.
Pergeseran kepribadian mulai dari akhlaqul karimah menuju kepribadian tercela, akhlaqul sayyi’ah.

Dalam tradisi Islam, hijrah punya dimensi makna yg eksistensial berupa transformasi mental individu untuk nilai universalitas kemanusiaan.

Kita pinjam pendapat dari Immanuel Kant, makna eksistensial dari hijrah ini sangat terkait dengan ruang bebas individu untuk mengikuti kata hati (the pure practical reason, yg menjadi basis good will atau niat baik) yg gak mungkin bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal (liberatif dan emansipatif), macam liberal, toleran, anti kekerasan, adil, anti eksploitasi, egaliter, plural, dan lain-lain.

Jadi, Hijrah gak akan merugikan siapapun, tapi malah menguntungkan dirimu bahkan orang lain.

Hadits Nabi soal ini sangat jelas.
Ada Kitab al-‘Arba’in al-Nawawi, karya al-‘Allamah al-Imam al-Nawawi, urutan awal kodifikasi hadits yg memuat posisi niat dalam perkara Hijrah menjadi lebih baik.
Nabi yg merupakan teladan (uswah) bagi umat Islam bersabda,
“Barangsiapa berniat Hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka nilai hijrah itu berdimensi Ilahiyah dan Rasuliyah. Dan barangsiapa berniat hijrah karena ingin memperoleh dunia dan karena perempuan yg hendak dinikahinya, maka nilai hijrah hanya untuk sesuatu yg menjadi tujuannya itu.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Dan dari Hadits diatas pula, dapat kita pahami kalau Hijrah itu harus ikhlas, bukan karna demi dipuji dan memamerkan Hijrahmu itu.

Ada banyak betul, wanita terutama di Facebook yg “mengaku” Hijrah tapi seolah-olah pamer agar dipuji. Maka yg ini belum pantas disebut Hijrah, yg sebenarnya mereka lakukan hanyalah hijrah dari “al-siwa”, sesuatu yg selain Tuhan, menuju ke “al-siwa” atau sesuatu selain Tuhan yg lain.

Mereka gak benar-benar melakukan hijrah.

Hijrah yg sesungguhnya adalah, “al-hijratu ila-l-Lah”, hijrah menuju Tuhan.
Dan yg sudah Hijrah, jangan pula lantas merasa paling suci, paling alim, dan paling paham Agama sampai sering berdebat soal Agama dengan orang lain yg ilmunya lebih banyak. Karna Allah berfirman,
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia lah yg paling mengetahui tentang orang yg bertakwa.”
(QS. An Najm: 32).

Yang benar adalah menjadi manusia suci, bukan merasa paling suci.
Karna sekali lagi, ada banyak juga wanita yg “mengaku” Hijrah, tapi sering memandang sinis dan rendah wanita lain yg belum Hijrah.

Penulis: Angga Prasetya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel