Adsense Right Sidebar

350 Pantun Kasih Sayang Terbaru Buat Orang Tua dan Pacar

Pantun Kasih Sayang Terbaru di tahun ini - Halo sobatsiana pada kesempatan sore ini saya kembali akan berbagi sebuah pantun dengan tema kasih sayang buat pacar, sahabat, teman atau kedua orang tua serta keluarga kita semua. Pantun ini sengaja saya sajikan agar bisa menjadi referensi teman-teman semua dalam menyuguhkan pantun kepada orang tercinta.

Pantun Kasih Sayang Terbaru Buat Orang Tua dan Pacar

Pantun Kasih Sayang Terbaru Buat Orang Tua dan Pacar

Pantun kasih sayang ini juga dilengkapi dengan varian bait, ada bertemakan cinta kasih sayang, lucu, bijak dan bermakna sangat puitis sekali. Jadi sangat rekomended buat teman-teman semua pecinta pantun yang selalu rutin berkunjung ke sini.

Disini saya berikan untuk pengantar pertama pantun cinta kasih sayang, untuk itu silahkan sobat simak ulasan pantunnya sebagai berikut.


Pantun Cinta Kasih Sayang


kalau dara terbang melayang,

ikan emas pandai berenang.

kalau kamu memang sayang,

tentu datang untuk meminang.


Air arak diharamkan,

karenanya banyak nyawa melayang.

Meskipun jarak memisahkan,

semua itu bukan penghalang.


Kalau ikan di dalam kolam,

bunga tumbuh di tengah taman.

Kalau cinta sudah dalam,

jarak jauh terasa nyaman.


Langit biru terlihat sendu,

warna hijau biru dan semu.

Jarak jauh tumbuhkan rindu,

ingin selalu dekat denganmu.


Burung melayang burung nuri,

hingga sebentar di pohon kenari.

Kasih sayangku amat murni,

seperti embun di pagi hari.


berlabuh orang menunggu,

hendak berlayar ke Siantar.

Kalau jauh terasa rindu,

jika berjumpa terasa sebentar.


Ambil bambu buat sembilu,

terbang debu dari cerutu.

Namamu kusebut selalu,

dalam doa setiap waktu.


Belajar lukis dengan pensil,

mengapa kertas tidak rata.

Semoga engkau berhasil,

meraih segala cita-cita.


Bunga kenangan di selasar,

hadiah dari Raja Tuban.

Kasih semakin sayang besar,

melihat engkau banyak berkorban.


Patah dahan disambungkan,

hendak hati disatukan.

Kepada Tuhan kita mohonkan,

agar cepat dipertemukan.


Pantun Kasih Sayang Cintaku Hanya Untukmu


Beribu-ribu para pelukis,

hanya satu memakan roti.

Beribu-ribu cewek yang manis,

hanya engkau di dalam hati.


Syair puisi pantun dan madah,

pujangga ciptakan sepenuh rasa.

Engkau tetap yang terindah,

dalam hidupku sepanjang masa.


Surya terbit datanglah pagi,

terbit dari Tanjung Meranti.

Hanya untukmu cinta ini,

tetap untukmu hingga nanti.


Bunga wangi bernama selasih,

tumbuh liar di pinggir kali.

Saat dirimu curahkan kasih,

hidup hampa gairah kembali.


Pinggir sungai banyak nipah,

sayang airnya terasa sepah.

Kasih sayang semakin berlimpah,

jadikan hidupku semakin indah.


Anak kecil jadi pemayang,

malam hari menonton wayang.

Ketahuilah wahai sayang,

cinta ini penuh kasih sayang.


Pita merah panjang sekilan,

jatuh satu ke dalam rantang.

Cintaku bagaikan rembulan,

dipagari bintang-bintang.


Dari jauh para tamu,

datang untuk mencari ikan.

Izinkan aku mencintaimu,

cinta sepanjang putaran zaman.


Sungguh indah Ujung Pandang,

indah pula Kota Pinrang.

Dari awal beradu pandang,

wajahmu terbayang-bayang.


Prajurit jalan berselang-selang,

berkicau keras burung kutilang.

Dari dulu hingga sekarang,

cinta hakiki tak pernah hilang.


Gunung Jati anak Rara Santang,

dikasihi juga disayang.

Walau banyak godaan datang,

teguh diriku tak pernah goyang.


Tanah ladang pasti gembur,

karena disiram air sumur.

Kasih sayang semakin subur,

laksana benih yang ditabur.


Cinta Itu Memang Lucu


[1]

Bayi manis belajar tengkurap,

Kalau jatuh darah tersirap.

Gadis sekarang susah diharap,

Wajah putih bokong berkurap.


[2]

Santri pandai menghafal hadis,

Agar menjadi ulama hebat.

Kucoba-coba mencari gadis,

Gadis kucari janda kudapat.


[3]

Anak ayam makan di kali,

Padi sawah sedang disemprot.

Waktu muda cantik sekali,

Setahun menikah langsung gembrot.


[4]

Bumbu dapur banyak bawang,

Daging habis tinggal tulang.

Pergi merantau mencari uang,

Hati rindu ingin pulang.


[5]

Terbang tinggi kunang-kunang,

Seperti lampu membawa terang.

Kalau pulang engkau kupinang,

Rupanya kamu sudah diambil orang.


[6]

Orang desa kirim upeti,

Untuk raja yang bijaksana.

Gadis manis pujaan hati,

Yang kudapat malah ibunya.


[7]

Rendang padang enak bumbunya,

Tetap eksis sepanjang zaman.

Ada enak nikahi ibunya,

Walau tua banyak pengalaman.


[8]

Baju seksi ujung berenda,


 

Beli di pasar lupa dibawa.

Ada enaknya nikahi janda,

Baru nikah anak sudah dua.


[9]

Jangan suka makan ketimun,

Tak termakan buah terongnya.

Jangan suka duduk melamun,

Melamun itu banyak boongnya.


[10]

Buah di pohon tolong ambil,

Ambil saja buah mangga.

Katanya sudah punya mobil,

Rupanya punya fotonya saja.


Pantun Cinta Romantis Kebangetan


[11]

Parfum wangi kayu gaharu,

Lidi kelapa menjadi sapu.

Aduh-aduh pengantin baru,

Duduk berdua tersipu-sipu.


[12]

Ada indahnya langit yang biru,

Ditambah angin yang menderu.

Ada enaknya jadi pengantin baru,

Masuk kamar langsung seru.


[13]

Hujan turun belum berhenti,

Jalan asyik menuju desa.

Adik manis pujaan hati,

Bolehkah abang meminta?


[14]

Burung kutilang ke utara,

‘tuk mengejar si merpati.

Minta apa Bang bilang saja,

Jangan dipendam dalam hati.


[15]

Daun beringin amat lebatnya,

Kalau terbakar keluar asapnya.

Abang ngantuk apa obatnya,

Tolong dong kasih resepnya.


[16]

Burung platuk kaki ikatkan,

Bunga layu lupa disiram.

Kalau ngantuk saya buatkan,

Segelas kopi yang sangat hitam.


[17]

Kampung jauh terasa sepi,

Ikan berenang dalam kolam.

Kalau Abang minum kopi,

Susah terpejam sampai malam.


[18]

Ada kumbang di pohon kelapa,

Itu dia si kumbang janti.

Jadi abang maunya apa?

Adik sungguh tidak mengerti.


[19]

Ke toko membeli tisu,

Kalau habis pergi ke pasar.

Kalau Abang cocoknya susu,

Mata mengantuk jadi segar.


[20]

kalau ingin membeli tisu,

naiklah perahu hingga ke hulu.

Kalau Abang minta susu,

Yuk kita masuk dalam kelambu.


Pantun Cinta Buat Pacar


[21]

Nasi kuning di atas meja,

Minumnya dengan air kelapa.

Baru saja berangkat kerja,

Entah kenapa rindu tiba-tiba.


[22]

Baju batik siapa yang punya,

Jatuh satu ke atas pepaya.

Wajah cantik siapa yang punya,

Yang punya tentu saja saya.


[23]

Air mengalir dalam selang,

Sungguh jernih segar rasanya.

Bahagia bukan kepalang,

Punya kamu yang setia.


[24]

Burung dara ke utara,

Terbang melayang ke atas mega.

Hai sayang sedang apa?

Apakah kamu kangen juga?


[25]

Kalau jauh si pohon randu,

Ke mana lebah hendak berburu.

Kalau jauh terasa rindu,

Kalau dekat berpisah tak mau.



[26]

Bukan randu sembarang randu,

Randu kubis setinggi tiang.

Bukan rindu sembarang rindu,

Rindu adik manis yang kusayang.


[27]

Bukan randu untuk jamu,

Randu besar pada batang.

Bukan aku rindu kamu,

Rindu malam, kapan ya datang?


[28]

Buah mengkudu sudah ranum,

Tumbuh dekat pohon petai.

Kalau kamu sedang tersenyum,

bahagiaku tak pernah usai.


[29]

Prajurit gagah berani bertempur,

Badan kotor masuk lumpur.

Kepada Allah kita bersyukur,

Moga rumah tangga selalu akur.


[30]

Daun nangka sudah renta,

Tempat menggantung rumah lebah. s

Kepada Allah jua meminta,

Moga rumah tangga selalu berkah.


Pantun cinta anak muda


[31]

Kenapa sawah banyak kerbau,

Kerbau membajak kuat tenaga.

Kenapa hati selalu risau,

Karena jodoh belum berjumpa.


[32]

Buahnya manis daunnya lebat,

Anak belanda memakan keju.

Anaknya manis sungguh memikat,

Sayang orang tuanya tak setuju.


[33]

Waktu pagi minum teh tarik,

Dapur mengepul siapa memasak.

Anaknya manis sangat menarik,

Tapi sayang akhlaknya rusak.


[34]

Kemana hendak mencari selasih,

Minuman segar tambah melati.

Kemana hendak mencari kekasih,

Yang setia dan baik hati.


[35]

Dongeng lama tentang Sinta,

Menikah dengan si Rama.

Kepada Allah aku meminta,

Kekasih hati yang setia.


[36]

Kecapi basah lima kilo,

Rakit bambu tampak menepi.

Begini susahnya jadi jomblo,

Hidup sendiri hatinya sepi.


[37]

Layangan putus jatuh ke kali,

Hutan bambu rumah panda.

Cari pasangan susah sekali,

ada yang cantik sayangnya janda.


[38]

Sarang lebah sangat tinggi,

Pohonnya patah karena gempa.

Cari pasangan ke mana lagi,

Ada yang bohay, anaknya dua.


[39]

Apa harus membeli tenda,

Nanti berkemah di hari selasa.

Apa harus mendapat janda,

Walau janda tapi montok luar biasa.


[40]

Burung perkutut burung gelatik,

Lihat sayapnya sangat indah.

Cari jodoh bukan yang cantik,

Yang penting paham tentang agama.


Pantun cinta anak sekolah


[41]

Kue habis ada yang meminta,

Belang-belang kulit rusa.

Apakah ini namanya cinta,

Kalau berjumpa tak tentu rasa.


[42]

Dari utara ke selatan,

Tengah hari turun hujan.

Orang yang baik dan perhatian,

Membuat hati dirundung kerinduan.


[43]

Air minum dari kali,

Kali gunung amat jernihnya.

Kalau senyum manis sekali,

Salah tingkah aku jadinya.


[44]

Adzan maghrib adzan isya

Terdengar slalu spanjang masa.

Tapi ini hanya sebuah rasa,

Mungkin saja bercampur dosa.


[45]

Gerimis turun hadir pelangi,

Kebun subur kebun ubi.

Cinta sejati harus yang syar’i,

Sesuai petunjuk dari Nabi.


[46]

Daripada keluyuran,

Lebih baik main ke teman.

Daripada berpacaran,

Lebih baik menggapai masa depan.


[47]

Batu kali indah berjajar,

Kali mengalir airnya lancar.

Biarlah sekarang banyak belajar,

Agar cita-cita dapat terkejar.


[48]

Syair indah di ujung pena,

Dicipta oleh para pujangga.

Kalau jodoh tak kemana,

walau jauh pasti berjumpa.


[49]

Pulang kampung hari raya,

Jauh-jauh naik kereta.

Bagaimana akan bahagia,

Kalau maksiat campuri cinta.


[50]

Anak kecil suka ngeces,

Agar bersih tolong usapkan.

Kalau kamu sudah sukses,

Banyak cewek mengharapkan.


Pantun cinta ala santri


[51]

Manis-manis buah nangka,

Daunya hijau amat lebarnya.

Kalau kamu mubtada’

Aku ingin jadi khobar-nya.


[52]

Jalan-jalan ke tanah Arab,

Jangan lewat negeri Sodom.

Dalam cinta aku berharap,

Moga melebur bagai idghom.


[53]

Air menetes lantai basah,

Jalan setapak jalannya kecil.

Moga cinta tiada terpisah,

Seperti fi’il dengan fa’il.


[54]

Itu kilat apa petir,

Bercahaya tanpa suara.

Aku ini fail mustatir,

Walau tak terlihat, selalu ada.


[55]

Main-main di pancuran,

Duduk santai di bawah kelapa.

Tidak usah berpacaran,

Pacaran itu dilarang agama.


[56]

Belanda datang pejuang menyerbu,

Maju terus tak pernah ragu.

Aku ingin kamu menjadi ibu,

Ibu dari anak-anakku.


[57]


Basah lantai baju batik,

Naik ke genteng pakai tangga.

Sudah pandai juga cantik,

Itulah ciri bidadari surga.


[58]

Terbang tinggi burung camar,

Pantai tepi banyak kelapa.

Kadang cemburu sangat samar,

Mirip seperti huruf ikhfa.


[59]

Bungkus nasi daun talas,

Cari daunnya yang cukup lebar.

Cinta kepadamu begitu jelas,

Serupa dengan hukum idzhar.


[60]

Jalan-jalan ke Jakarta,

Naik bis lewat pantura.

Kepada Allah aku meminta,

Moga bahagia rumah tangga.


[61]

Mega mendung terlihat sendu,

Hujan turun di daerah hulu.

Pada ayah aku merindu

Terkenang masa kecil dahulu.


[62]


Lembah gunung ada kaldera,

Kabut tipis melayah-layah.

Terasa cinta begitu mesra,

Dari tangan seorang ayah.


[63]

Masuk rumah ucapkan salam,

Tanah luas ada pekarangan.

Ayah bekerja siang dan malam,

Agar keluarga tak kekurangan.


[64]

Hari petang dekat kolam,

Awas banyak sarang lebah.

Kadang datang hingga malam,

Badan letih mencari nafkah.


[65]

Dari kutub datang beruang,

Beruang kutub memangsa ikan.

Ayah engkau adalah pejuang,

Cinta ini kami berikan.


[66]

Kancil lucu tidurnya rebah,

Haus dahaga langsung minum.

Walau sedang susah payah,

Ayah berusaha untuk tersenyum.


[67]

Baju kotor segera ganti,

Pakai parfum wangi melati.

Ayah aku berjanji dalam hati,

bahagiakan engkau suatu hari nanti.


[68]

Makan bakso sambil di kunyah

Lezatnya tidak kepalang

Rindu sekali pada ayah,

Kapan ayah bisa pulang.


[69]

Pagi hari siram melati

Malam malam pergi meronda

Moga kami jadi anak berbakti,

Membagakan ayah dan bunda.


[70]

Air menetes di atas batu,

Batu pecah karena palu.

Doa kami di setiap waktu,

Moga bahagia mengirimu selalu.


[71]

dipagi hari ada belalang

disiang hari malah bergoyang

Aku berpantun hanya bilang,

I miss you adek sayang.


[72]

Ayo mari kita makan

Makannya dengan wafer

Ingin sekali kukatakan,

I love you forever.


[73]

Beli makanan isinya mini

meskipun mini tetapi keren

Dalam hidup diriku ini,

You are my best friend.


[74]

Sungai Musi sangat lebar,

Hari lapar pergi ke kedai.

Ingin sekali bertanya kabar,

How are you today?


[75]

Lidah pedas makan sambal,

Surya terik hidung mimisan.

Bukan aku menggombal,

You are my brightest sun.


[76]


Manis pepaya,

Pahit lempuyang.

Udah dulu ya,

See you sayang.


[77]

Pinggang sakit pakai kemben,

Naik tinggi rumah susun.

Ini Papa udah kangen,

I’ll go home soon.


[78]

Kicau burung terdengar riang,

Indah sekali batu ruby.

Selamat pagi sayang,

I love you my baby. .


[79]

Pasang kelambu,

Kamarnya keren.

Cintaku padamu,

Tak pernah the end.


[80]

Adonan tepung dalam loyang,

Besok pagi jual ke pasar.

Jangan lupa abang sayang,

Nanti malam ada acara besar.


[81]


Mentari terbit tandanya siang,

Rumput tinggi namanya ilalang.

Hati sedih pikiran melayang,

Kekasih hati diambil orang.


[82]

Warna putih tepung kanji,

Seputih kembang bunga melati.

Bibir siapa pernah berjanji,

Akan setia hingga mati.


[83]

Madu segentong kenapa tumpah,

Kalau tumpah banyak ruginya.

Lisan siapa yang pernah bersumpah,

Akan setia untuk selama-lamanya.


[84]

Kalau bambu jadikan tangga,

Naik ke atas tentu bisa.

 

Kalau panas di rumah tangga,

Mungkin kita banyak dosa.


[85]

Penyair sering membuat madah,

Seniman kadang banyak tingkah.

Kalau di rumah banyak ibadah,

Cinta tumbuh bertambah berkah.


[86]

Badak burung sering berteman,

Lidah sakit merasa hambar.

Cinta itu laksana tanaman,

Bisa layu bisa juga mekar.


[87]

Bayu bertiup ke arah selatan,

Berhembus meniup daun ilalang.

Layu cinta karena pengkhianatan,

Cinta lama bisa-bisa menghilang.


[88]

Tak diberi jangan meminta,

Itulah akhlak orang mulia.

Kalau memang benar cinta,

Datang saja pinang si dia.


[89]

Pulang Bangka tempatnya lada,

Pantainya putih banyak kerang.

Ingin meminang uang tak ada,

Tak dipinang nanti diambil orang.


[90]

Kembang tua cepat layu,

Tempat hinggap si belalang.

Awas jangan mudah dirayu,

Oleh lelaki si hidung belang.


Pantun cinta yang mengungkapkan rasa cemburu


[91]

Senja hari langit memerah,

Bangau terbang tiada lelah.

Kalau aku pengen marah,

Memangnya salah?


[92]

Mawar bunga berduri,

Inspirasi penggemar seni.

Lagi bete sendiri,

Ngga pengen ditemani.


[93]

Kain beludru dalam peti,

Taruh di atas tempatnya tinggi.

Api cemburu menguras hati,

Gugur cinta tak lama lagi.


[94]

Laut dalam airnya biru,

Kalau asin tak bisa diminum.

Kalau aku masih cemburu

Tak mungkin bibir ini tersenyum.


[95]

Langit senja mulai memerah,

Surya bagai turun ke tepinya.

Mengapa harus marah?

Kalau tidak ada apinya.




[96]

Pohon besar tumbuh di hutan,

Kicau burung tak henti-henti.

Terbakar api panas di badan,

Terbakar cemburu panas di hati.


[97]

Bebek cobek di atas meja,

Jangan taruh dalam peti.

Liat kamu cuek aja,

Cemburu aku setengah mati.


[98]

Padang datar tempat berburu,

Tersandung batu terasa pedih.

Saya ini kuat cemburu,

Itulah sebabnya selalu sedih.


[99]

Langit biru terlihat merah,

Itu tandanya sudah senja.

Cemburu jangan dilawan marah,

Cemburu itu tandanya cinta.


[100]

Pipit hingga di pangkal nangka,

Tangkai kecil mudah patah.

Kalau cemburu katakan saja,

Kamu diam aku serba salah.


Pergi ke Bandung naik kereta,

Beli tiket di sini saja.

Kalau kekasih cemburu buta,

Buang dia ke laut aja.


Pantun cinta gombal tapi bikin sayang


[101]

Beli baju ujung bolong,

Rusak baju karena jahitan.

Bukan aku berkata bohong,

Cintaku padamu seluas lautan.


[102]

Kalau beli gula merah,

Cicipi dahulu sedikit saja.

Kalau adik sedang marah,

Rasanya sempit seluruh dunia.


[103]

Pohon tua lekas tumbang,

Tempat bermain si anak kumbang.

Hanya adik di hati abang,

Cintaku satu tidak bercabang.


[104]

Satu titik dua koma,

Baca banyak berhenti dulu.

Bolehkah aku bertanya,

Jauh darimu kenapa rindu?


[105]

dari sungai datang lintah,

lintah naik ke tengah sawah.

Aku sedang jatuh cinta,

Berkali-kali ke orang yang sama.


[106]

Satu titik dua koma,

Satu baris jangan dilupa.

Kalau boleh aku bertanya,

Kamu yang manis milik siapa?


[107]

Petir menyahut rasa menyambar,

Langit mendung terlihat pekat.

Dag dig dug hati berdebar,

Melihat dia jalan mendekat.


[108]

Kayu roboh jadi titian,

Jalan setapak menuju hulu.

Buat kamu yang perhatian,

Moga kamu jadi jodohku.


[109]

Nyamuk terkurung dalam kelambu,

Banyak cicak hendak memakan.

Demi cintaku kepadamu,

Mobil mercy aku belikan.


[110]

Kaligrafi huruf berseni,

Pajang di dinding tuk keindahan.

Entah kenapa dengan lidahku ini,

Makan masakanmu pasti ketagihan.


[111]

Wanita hamil punya janin,

Segumpal daging tak bertulang.

Kalau datang hari Senin,

Hati senang bukan kepalang.


[112]

Beriman itu kaum mukminin,

Dengan iman hidupnya berkah.

Selamat berhari Senin,

Moga rezeki makin bertambah.


[113]

Tuhan itu Maha Esa,

kepadaNya beribadah.

Walau datang hari Selasa

Rinduku padamu tak berubah.


[114]

Camar melayang di angkasa,

Kado indah terhias pita.

Hari ini hari Selasa,

Hatiku masih penuh cinta.


[115]

Tahta indah sang prabu,

Terbakar habis menjadi debu.

Kalau datang hari Rabu,

Cintaku kok malah menggebu-gebu.


[116]

Gunung tinggi gunung merbabu,

Api hidup di ujung sumbu.

Hari spesial Hari Rabu,

Karena kepadamu bertambah rindu.


[117]

Baju putih bergaris-garis,

Rambut hitam disemir klimis.

Hari ini hari Kamis,

Aku kok makin optimis.


[118]

Kangkung hijau sedap ditumis,

Makan ikan tambah petis.

Kalau datang hari kamis,

Tiba-tiba aku tambah romantis.


[119]

Terang benderang karna cahaya,

Turun gunung menuju lembah.

Hari Jum’at hari raya,

Banyak-banyak amal ibadah.


[120]

Hidup bahagia karena hemat,

Kaki kancil terkena jerat.

Banyak dandan di hari Jum’at,

Supaya hati makin terpikat.


[121]

Air mengalir di solokan,

Tutup air dari keran.

Selamat datang akhir pekan,

Hari senang untuk liburan.


[122]

Sungai deras banyak betutu,

Dibakar agar dapat menjamu.

Memang senang di hari Sabtu,

Bisa berkumpul bisa bertemu.


[123]

Pagi pagi makan bubur,

Bumbu kacang mesti dicampur.

Kalau hari, ada hari libur,

Kalau cintaku, tak pernah luntur.


[124]

Mangga kueni, buah kedondong,

Main ke sini, dong.


[125]

Laut dalam tepinya berbusa,

Tempat berlayar perahu bahtera.

Betapa indah pemandangan desa,

Segar udaranya, asri suasana.


[126]

Daun beringin banyak dahan,

Dapat dibuat meja makan.

Alam ini anugerah dari Tuhan,

mari sama-sama kita lestarikan.


[127]

Rusa kecil namanya menjangan,

Walau kecil mukanya galak.

Jangan buang sampah sembarangan,

Lingkungan kotor, alampun rusak.


[128]

Singa memangsa kijang memohon,

Cahaya mentari sungguh silau.

Banyak-banyak menanam pohon,

Supaya alam semakin hijau.


[129]

Badak hidup di ujung kulon,

Ada tanduk di kepala. s

Barang siapa menanam pohon,

Akan banyak mendulang pahala.


[130]

Kuda membawa sebuah pelana,

Untuk mendaki jalan ke desa.

Dari mana datangnya bencana,

Bisa jadi karena dosa kita.


[131]

Usia kuda setengah baya,

Lebih tua si jerapah.

Alam desa harus terjaga,

Jangan dikotori dengan sampah.


[132]

Tari seudati tari saman,

Foto lama album kenangan.

Jika ingin hidup nyaman,

Jangan buah sampah sembarangan.


[133]

Jangan insan menjadi congkak,

Usia muda akhirnya petang.

Kalau lingkungan semakin rusak,

Akan banyak bencana datang.


[134]

Bunga cantik karena nektar,

Mekar di dahan daunnya lebat.

Selalu bersihkan lingkungan sekitar,

agar masyarakat selalu sehat.


[135]

Udara harum karena kenanga,

Benih padi banyak ditebar.

Mari kita menanam bunga,

Rumah nyaman udara segar.


[136]

Ikan hiu ikan layang.

Tentu i love you sayang.


[137]

Ikan hiu ikan teri.

I love you sampai mati.


[138]

Ikan hiu ikan cakalang,

I love you ngga bilang-bilang.


[139]

Ikan hiu ikan belanak,

Kamu i love you, aku mo berak.


[140]

Ikan hiu ikan tengiri.

I love you setiap hari.


[141]

Ikan hiu makan umpan.

I love you hai tampan.


[142]

Ikan hiu naik ke tepi.

I love you pagi ini.


[143]

Ikan hiu si kumbang janti.

I love you sampai nanti.


[144]

Ikan hiu matanya redup.

I love you seumur hidup.


[145]

Ikan hiu masuk ke kali.

I love you, sampai di sini.


[146]

Ada keris di pohon kelapa,

Manis rasanya buah pepaya.

Adik manis sedang apa?

Mari tidur bersama saya.


[147]

Dunia ini sifatnya fana,

Pedang sakti dari baja.

Tidurnya nanti saja,

Kalau mau tidur duluan aja.


[148]

Ayam turun akan bertelur,

Lari cepat dikejar kucing.

Ingin hati cepat tidur,

Tapi kepala terasa pusing.


[149]

Kalau ayam dikerja kucing,

Karena takut larinya lambat.

Kalau kepala sedang pusing,

Biar adik ambilkan obat.


[150]

Jalan-jalan ke Cianjur,

Hati senang hatiku riang.

Obat toko tidaklah manjur,

Inginnya dipijat olehmu sayang.


[151]

Hari libur pergi memancing,

Kail terkait pada kain.

Kalau dipijat abang makin pusing,

Ujung-ujungnya minta yang lain.


[152]

Kalau kail terkena kain,

Lebih baik lepaskan saja.

Kalau memang minta yang lain,

Adik manis kabulkan saja.


[153]

Buah tua makin ranum,

Buah manis dari mangga.

Dipijat saja belum,

Abang sudah minta yang ngga-ngga.


[154]

Ikan hiu ikan teri,

Kebun lama tumbuh pala.

Kita ini suami istri,

Di kasurpun bisa cari pahala.


[155]

Ikan hiu ikan teri,

Panggang satu di atas api.

Dasar nasib lelaki beristri,

Mau tidur kamarnya rapi.


[156]

Main bola main futsal,

Perut lapar makan bolu.

Sudah menikah malah menyesal,

Tau enak, kenapa tak dari dulu.


[157]

Anak nangis ingin jajan,

Jalan jauh sudah tak ingat.

Walau tidur di hari hujan,

Kenapa badan tetap hangat.


[158]

Pergi ke pasar beli kasturi,

Tepung tempe buat mendoan.

Ada susahnya sudah beristri,

Sebelum tidur cumbu-cumbuan.


[159]

Beras terbeli lima kilo,

Jual padi lima kintal.

Kasihan sekali teman yang jomblo,

Kalau tidur memeluk bantal.


[160]

Ikan kerapu ikan buntal,

Suka berenang di tepian.

Aku tidur memeluk bantal,

Bantalnya bisa kentut tapi menyenangkan.


[161]

Ujung pisau sangat tajam,

Untuk berburu besok lusa.

Malam-malam tak terpejam,

Hendak tidur tak bisa-bisa.


[162]

Tanah kosong ditanam labuh,

Labuh ditanam tumbuh mengkudu.

Terkenang kamu yang jauh,

Kamu memang membuat rindu.


[163]

Kenapa pergi satu windu,

Terkirim salam pada sang bayu.

Kenapa dalam hati ada rindu,

Karena aku memang i love you.


[164]

Pangeran Jawa ke negeri Campa,

Gelar bangsawan mangkubumi.

Sepi sendiri pikiran hampa,

Kangen sangat pada suami.


[165]

Main batu di dekat gardu,

Lihat kembang mulai menguncup.

Jika teringat pengorbananmu,

Ingin rasanya hatiku dikecup.



[166]

Rhoma Irama berkelana,

Tiada yang kenal siapa dia.

Bagaimana kabar di sana,

Fokus saja dengan kerja.


[167]

Besar batang pohon meranti,

Kalau roboh menimpa padi.

Di sini aku selalu menanti,

Selalu setia apapun yang terjadi.


[168]

Ikan kolam disambar elang,

Walau dikejar tak didapatkan.

Bila malam datang menjelang,

Rasanya elusanmu yang kuharapkan.


[169]

Sedap masakan bumbu jintan,

Luka tersayat pasang perban.

Bersyukur punya suami pengertian,

Untuk keluarga selalu berkorban.


[170]

Kotak ajaib jangan pindahkan,

Misteri menyimpan kekayaan.

Moga Allah selalu mudahkan,

Moga bertambah pundi kebahagiaan.


[171]

Kampung durian sedang kenduri,

Selalu berkawan tak berkelahi.

Mari bangun di subuh hari,

Tunaikan sholat, sujud pada illahi.


[172]

Palembang kota Sriwijaya,

Berkawan dengan negeri Campa.

Jika ingin hidup bahagia,

Ibadah kepada Allah jangan dilupa.


[173]

Kecap manis dalam rantang,

Ambil satu dalam genggaman.

Kecup manis kecup sayang,

Agar kekasih terbangunkan.


[174]

Anak Melayu suka melempar,

Pergi ke pantai mencari kerang.

Pagi hari banyak istigfar,

Jiwa bersih hatipun tenang.


[175]

Madu manis dari lebah,

Biji kacang dalam tampah.

Pagi hari penuh berkah,

Bangun pagi rezeki melimpah.


[176]

Kayu tajam ditancapkan,

Burung dara terbang ke awan.

Assalamu alaikum aku ucapkan,

Untuk semua kawan-kawan.


[177]

Jalan berliku menju bukit,

Dari timur ke selatan.

Jika matahari sudah terbit,

Tanda masih ada kesempatan.


[178]

Siang hari rujak-rujakan,

Duri di jalan disingkirkan.

Urusan dunia dikerjakan,

Jangan banyak dipikirkan.


[179]

Lewati selat ke Pulau Jawa,

Oleh-oleh keripik mangga.

Tekad bulat di dalam jiwa,

Mari bergerak sekuat tenaga.


[180]

Kopi manis di atas meja,

Kayu bakar jatuh ke dipan.

Sebelum berangkat kerja,

Jangan lupa untuk sarapan.


[181]

Jika ingin belajar renang,

Belajar di sungai yang membentang.

Jika ingin hidup tenang,

Jangan lupa dzikir pagi petang.


[182]

Batu keras bisa luluh,

Jika tersiram air raksa.

Untuk apa hidup mengeluh,

Mengeluh itu pasti sengsara.


[183]

Burung puyuh burung tekukur,

Air jernih dari sumur.

Banyak-banyak kita bersyukur,

Supaya hidup semakin makmur.


[184]

Dari Medan ke Sibolga,

Badan lelah naik kereta.

Cinta bukan sembarang cinta,

Cinta dari Tuhan semesta.


[185]

Tali rotan panjang sedepa,

Kalau mengikat amat kuatnya.

Jika Allah memberi cinta,

Tanda hamba akan bahagia.


[186]

Permai sekali alam desa,

Tanaman tumbuh di ladang sawah.

Cintailah olehmu sesama manusia,

Supaya disayang oleh Sang Pencipta.


[187]

Memasak gulai dengan panci,

Simpan air dalam tangki.

Kalau di hati banyak benci,

Hati terbakar oleh iri dengki.


[188]

Kuda gagah milik panglima,

Raja berhias dengan mahkota.

Kasih sayang kepada sesama,

Pintu rezeki semakin terbuka.


[189]

Jalan kaki pakai terompah,

Bagai pendekar mengambara.

Untuk apa harta melimpah,

Kalau hatinya selalu sengsara.


[190]

Laut luas tempat ikan,

Kupu-kupu main di taman.

Selamat pagi aku ucapkan,

Moga sukses, teman-teman!


[201]

Malam-malam terbang kalong,

Makan buah, buah kedondong.

Aku tidak berkata bohong,

Kamu menikah aku sedih dong.


[202]

Tajam gigi si buaya,

Kancil lari di pundaknya.

Moga kamu hidup bahagia,

Dengan dia yang kamu cinta.


[203]

Habis semua tak bersisa,

Hanya ada buah pala.

Pacaran kita hanya dosa,

Sekarang cintamu dapat pahala.


[204]

Raja mengirim adipati,

Datang tabib bercerita.

Cintailah dia sepenuh hati,

Jadikan dia wanita bahagia.


[205]

Baju gamis baju kebaya,

Membeli satu dapat dua.

Cintai dia dengan setia,

Karena itu yang diharap wanita.


[206]

Supaya pandai hendaknya sekolah,

Belajar ilmu jangan dilupa.

Bukan hanya kamu yang lelah,

Istri di rumah juga banyak bekerja.


[207]

Mawar merah tangkai berduri,

Lebih indah bunga kenanga.

Kalau ingin dihormati istri,

Jadilah suami penuh cinta.


[208]

Bukan hanya bunga setaman,

Kembang mekar beri keharuman.

Bukan hanya kepada teman,

Istri juga butuh perhatian.


[209]

Untuk apa membeli tangga,

Kalau belah di ujungnya.

Untuk apa berumah tangga,

Kalau lisan pandai berdusta.


[210]

Ini ubi atau ikan,

Bukan direbus malah dipanggang.

Ini suami atau bukan,

Ada istri jarang dipegang.


[211]

Saat purnama sungai pasang,

Membagi rendang di tempayan.

Terimakasih istriku sayang,

Telah membawa kebahagiaan.


[212]

Coba membaca huruf dieja,

Lambat laun nanti bisa.

Walau lelah tubuh bekerja,

Pulang ke rumah rasa bahagia.


[213]

Jalan-jalan ke pantai kuta,

Rawa bening banyak sepatnya.

Istri shalehah laksana permata,

Sangat mahal sudah mendapatkannya.


[214]

Busur kecil untuk panah,

Menusuk batu besar sebongkah.

Kalau istri sudah qonaah,

Rezeki sedikit menjadi berkah.


[215]

Walau mendapat ikan pari,

Lebih enak ikan cakalang.

Walau bertemu setiap hari,

Rasa sayang tak pernah kurang.


[216]

Mawar merah tangkai berduri,

Walau berduri alangkah harumnya.

Hidung mancung wajah berseri,

Kalau boleh tahu siapa namanya?


[217]

Kain batik siapa yang punya

Dijual di pasar dalam lembaran.

Wanita cantik siapa yang punya?

Masihkah dibuka pendaftaran.


[218]

Bulu mata terlihat lentik,

Banyak yang suka si anak manja.

Aku memang belum baik,

Tapi ingin melihatmu bahagia.


[219]

Sayap berbintik di kain batik,

Pempek bercampur cuka.

Sudah cantik, orangnya baik.

Sudah tentu banyak yang suka.


[220]

Panjang tongkat sehasta,

jatuh ke sawah padi ketan.

Jika boleh aku meminta,

Berikan aku kesempatan.


[221]

Nelayan sibuk sedang menambat,

Perahu kayu ukiran pahat.

Sangat bahagia punya sahabat,

Teman bermain teman curhat.


[222]

Tanah liat untuk gerabah,

Terlihat ajaib terkesima.

Walau esok kita berpisah,

Persahabatan tetap utama.


[223]

Kain putih dalam lemari,

Kulkas menyimpan ikan tenggiri.

Saling tolong saling memberi,

Itulah sahabat yang sejati.


[224]

Warna bagus merah magenta,

Bagai pelangi aneka rupa.

Untuk sahabatku yang tercinta,

Moga hidupmu selalu bahagia.


[225]

Rumput teki suka merambat,

Menembus batu serta bata.

Dibilang sahabat memang sahabat,

Tapi kenapa ada rasa cinta?


Untuk apa menanam ranjau,

jangan perang engkau semai.

Kasih sayang tumbuh menghijau,

jiwa lapang hatipun damai.


Dongeng lama tentang peri,

peri menolong sang puteri.

Engkau bagai bunga berseri,

suntingan jiwa bijak bestari.


Di Bandar banyak orang,

hilir mudik kanan dan kiri.

Tak kan pudar kasih sayang,

tambah erat hari ke hari.


Jika nuri hinggap di tiang,

ingin melihat ikan menyelam.

Jika hati saling menyayang,

romantis tumbuh siang dan malam.


Papan rengat dari rawa,

banyak orang ingin membawa

Cintamu hangat di dalam jiwa,

laksana cahaya dari sang surya.


Pantun Cinta Bertepuk Sebelah Tangan


Pedih bukan sembarang pedih,

pedih tenggorokan makan kolak.

Sedih bukan sembarang sedih,

sedih karena cinta ditolak.


Pisau diasah di atas palu,

palu kecil diangkat ringan.

Inilah kisah paling pilu,

cintaku bertepuk sebelah tangan.


Walau batik jadi baju,

tetapi polos lebih laku.

Walau cantik walau ayu,

tetapi dia bukan jodohku


Suara harimau terdengar sember,

harimau tua tak berkuku.

Walau air mata satu ember,

tak kan dia menerima cintaku.


Sebuah nama punya arti,

mencari nama berhati-hati.

Biarlah aku bersedih hati,

untuk dia yang di hati.


Dunia ini amat hina,

bagai si renta yang terkulai.

Pikiranpun gundah gulana,

karena kasih yang tak sampai.


Mungkin hendak membeli lurik,

ayam jantan dari Pati.

Mungkinkah ada yang lebih baik,

selain gadis pujaan hati?


Anak kecil giginya tanggal,

belum tumbuh cambang kumis.

Kuucapkan selamat tinggal,

duhai gadis yang paling manis.


Batu gosok batu rusa,

untuk menggosok wajah muka.

Mungkin esok atau lusa,

akan terobati sgala luka.


Api kecil dari tungku,

apinya kecil habis kayu.

Sudah lama kutunggu-tunggu,

kapan kamu bilang I Love You.


Pagi hari berangkat kerja,

untuk mengairi padi di sawah.

Kalau cinta katakan saja,

bilang I Love You itu mudah.


Dunia ini hingar bingar,

jangan sampai engkau tergoda.

Telinga ini ingin mendengar,

saat kau ucapkan kata cinta.


Lima waktu jangan kurang,

selalu tunaikan sholat sembahyang.

I Love You jangan sembarang,

katakan pada orang yang disayang.


Beli jahe beli ketumbar,

potong jahe memakai parang.

Ingin bilang jantung berdebar,

bila I love You untukmu sayang.


Depan rumah tanam lempuyang,

tanah keras dicangkulkan.

Dalam hati segunung sayang,

di bibir berat mengucapkan.


Petang hari mengambil kayu,

untuk dibuat menjadi bangku.

Bukan takut bilang I love U,

tapi takut kau menolakku.


Kalau hati sudah buta,

budi baik amat langka.

Kalau memang kamu cinta,

aku pasti kan menerima.


Untuk apa pati geni,

puasalah sesuai syariat Nabi.

Jika cintamu tulus murni,

kuterima sepenuh hati.


Apa tanda kapal di samudra,

memberi tanda walaupuh jauh.

Apa tanda orang jatuh cinta,

jika jauh merasa rindu.


Apa tanda rumah istana,

semuanya terlihat baru.

Apa tanda tumbuh cinta,

terasa di dada rasa cemburu.


Kue cucur di dalam loyang,

masih hangat hendak disajikan.

Cemburu tanda kasih sayang,

untuk kekasih sang pujaan.


Baju baru dari seberang,

Warnanya elok sangat rupawan.

Cemburu jangan sembarang,

cemburu demi kebahagiaan.


Bila pergi ke sudut pasar,

mengantri diri mesti sabar.

Bila cemburu lebih besar,

kasih sayang bisa bubar.


Rumah sehat selalu bersih,

disapu gadis bak seorang dayang.

Ini pantun cinta kasih,

kasih cinta serta sayang.


Apa tanda buah mangga,

bentuk bulat panjang tangkainya.

Apa tanda orang setia,

dalam hidup seiya sekata.


Apa tanda hari petang,

ufuk Barat merah warnanya.

Apa tanda orang sayang,

kekasih dilindungi dari marabahaya.


Dari Palembang ke Payakumbuh,

di Pariman pula akhirnya bertemu.

Bagaimana cinta bisa tumbuh,

doakan dia dari hatimu.


Anak Cina pergi ke pasar,

lewat jalan yang amat lebar.

Bagaimana cinta semakin besar,

hadapi dia dengan hati yang sabar.


Panjang ekor ikan pari,

walau panjang tak berduri.

Jalan-jalan sore hari,

melepas penat damaikan diri.


Baju putih ujungnya berenda,

amat anggun dipakai dara.

Hujan turun baru reda,

amat segar hirup udara.


Bersorak anak hore hore,

mendapat buah salak pondoh.

Jalan-jalan sore sore,

siapa tahu bertemu jodoh.


Sudah lama ke pohon randu,

pohon randu banyak buahnya.

Sudah lama hati rindu,

menemukan belahan jiwa.

Harum wanginya bunga selasih,

tersiram hujan daunnya basah.


Belahan jiwa curahan kasih,

tempat tenangkan resah gelisah.

Bila senja berwarna merah,

waktu magrib dekat tandanya.


Bila kasih sayang tercurah,

hati inipun akan bahagia.

Naik tinggi pakai tangga,

siapa yang ingin jadi pertama.


Tiada kusangka tiada kuduga,

bertemu dengan kekasih lama.

Pulang pagi karena ronda,

sangat mengantuk kedua mata.


Sekarang dia sudah janda,

tapi wajahnya masih cantik jelita.


Mentari hampir terbenam,

cahayanya tak lagi memuai.

Kasih diberi sayang ditanam,

cinta sejati kan dituai.


Membuat bolu pakai loyang,

loyang ditaruh dihangatkan.

Puaskan diri menanam sayang,

bahagia pula yang kita dapatkan.


Rambut ikal jatuh tersurai,

duduk sendiri di atas bangku.

Cinta kasih harus terurai,

lewat tutur dan tingkah laku.


Kayu jati untuk papan,

memakunya sangat segan.

Tutur kata sangat sopan,

orang lainpun pasti segan.


Jangan suka meniru Barat,

ikuti petunjuk dari syariat.

Jangan suka mengumbar aurat,

kekasih hatipun pasti hormat.


Taruh kembali pisau belati,

karena tajam seperti duri.

Cinta kasih ada di hati,

biarlah tumbuh dan berseri.


Pandawa lima dan Kurawa,

mereka masih bersaudara.

Kasih sayang terbit di jiwa,

bila berjuang bersama-sama.


Tuan bangsawan anak priyayi,

membaca buku pakai lentera.

Saling menghormati menghargai,

rumah tangga rukun sejahtera.


Untuk apa mawar berduri,

kalau akhirnya merobek sari.

Untuk apa menang sendiri,

kalau akhirnya seorang diri.


Dunia ini tempat cabaran,

banyak pula kesengsaraan.

Hubungan cinta perlu kesabaran,

jauhlah diri dari pertengkaran.


Putih putih bunga melati,

bunga melur idaman hati.

Bukanlah cinta yang sejati,

bila kekasihmu tersakiti.


Anak gabus pandai berenang,

dari tengah menuju tepi.

Hati pasti merasa tenang,

bila cintamu cinta sejati.


Sarapan pagi minum susu,

satu kerat nasi ketan.

Cinta sejati bukan hawa nafsu,

cinta yang mencari keridhaan Tuhan.


Hindarkan diri berbangga-bangga,

takut nanti jadi melarat.

Bawalah kekasihmu ke telaga,

telaga bahagia dunia akhirat.


Sembilu tajam untuk menyayat,

daging sapi dikerat-kerat.

Jauhilah olehmu segala maksiat,

menjadi siksa di akhirat.


Tepung kanji untuk campuran,

ambil saja satu genggaman.

Ikutilah tuntunan Quran,

sabda Nabi sebagai pegangan.


Arjuna satria pandai memanah,

dari negeri antah berantah.

Agar rumah tangga sakinah,

taat pada apa yang diperintah.


Penduduk surga punya kemah,

dari permata yang sangat indah.

Perintah Allah memiliki hikmah,

mengikutinya mendapat berkah.


Jarum emas di dalam peti,

hilang satu di taman melati.

Kasih sayang yang sejati,

membawamu bahagia hingga nanti.


Langit biru amat luasnya,

tinggi tak tercapai oleh tangga.

Bukan hanya di dunia,

orang iman cintanya hingga surga.


Kancil melompat siput heran,

tupai melompat mencari makan.

Ajaklah kekasih belajar Quran,

kepada Allah kita dekatkan.


Sholat tahajud sebagai tambahan,

mengerjakannya dengan senang.

Siapa yang dekat kepada Tuhan,

hidup bahagia hatinya tenang.


Pak tani sedang menggarap lahan,

tatapannya jauh menerawang.

Siapa yang mencintai Tuhan,

hatinya diisi dengan kasih sayang.


Kuda berlari kaki berderap,

suara terdengar semakin dekat.

Kepada Allah jua kita berharap,

semoga cinta membawa rahmat.


Banyak orang mengejar harta,

nasib buruk pula yang diterima.

Cinta sejati membawa kita,

menuju surga bersama-sama.


Akhir Kata

Nah, itulah kumpulan pantun kasih sayang untuk kedua orag tua, pacar, gebetan, sahabat, teman dan keluarga. Semoga dengan adanya koleksi pantun ini dapat bermanfaat dan menghibur sobat semua. Sekian dari saya, sampai jumpa di ulasan pantun yang lainnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

.....KLIK 1X (CLOSE).....