Memahami Quarter Life Crisis dalam Proses Menuju Kedewasaan

Memahami Quarter Life CrisisQuarter life crisis adalah sebuah fase peralihan menuju dewasa yang terjadi pada usia antara 20 – 30 tahun merupakan masa yang cukup kritis. Kondisi saat seseorang mengalami ketidakpastian dalam memandang pilihan-pilihan yang ada di hadapannya. Memahami quarter life crisi sebagai proses menuju kedewasaan dapat menjadi bekal untuk menghadapinya.

Pada usia ini, biasanya timbul kesadaran pada diri seseorang akan adanya tanggungjawab yang benar-benar harus dipikul dalam hidupnya. Di sisi lain, masih ada keinginan untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang belum tercapai dan mencoba hal-hal baru.

Pertentangan biasanya terjadi di awal-awal selesainya masa pendidikan. Keresahan yang muncul tidak hanya disebabkan oleh belum adanya rencana yang matang dalam menghadapi masa depan. Seseorang yang telah memiliki perencanaan pun terkadang mendapati kenyataan yang tidak selalu berpihak kepadanya.


Adanya standar di lingkungan masyarakat bahkan keluarga yang tidak sejalan dengan pola pikir kita biasanya menjadi hal yang paling menyulitkan. Di sinilah rentan terjadi pergolakan batin dan dilema dalam menentukan pilihan. Dilema ini menimpa berbagai aspek kehidupan  dan dapat berlangsung terus menerus jika tidak ditanggulangi.

Gejala Quarter Life Crisis

Untuk memahami quarter life crisis, perlu diketahui gejala macam apa yang mungkin kita alami. Tanda-tanda terjadinya quarter life crisis bisa jadi tidak begitu disadari. Perasaan terjebak dan lelah dalam menjalani rutinitas biasanya disertai pemikiran dan perilaku yang semakin meracuni perasaan.

1. Sering Bertanya-tanya Tentang Tujuan Hidup

Pada masa anak-anak hingga remaja, secara umum kehidupan berjalan dengan banyak mengalami hal-hal baru. Kejutan-kejutan tersebut kadang dapat menjadi masalah dan beban pikiran, sampai sesekali terpikirkan tentang tujuan hidup ini. Namun semua itu seringkali cepat berlalu dan tergantikan dengan hal baru lain yang menyenangkan.
Di  fase quarter life crisis, pertanyaan-pertanyaan semacam itu lebih sering muncul disertai tantangan kehidupan yang terasa lebih nyata. Bayangan masa kecil yang biasa berlindung di bawah tanggung jawab orangtua, beralih kepada bayangan tentang menjadi orangtua. Dan timbul pertanyaan, “apakah aku mampu?”

Kasus lain, saat banyak hal terasa tidak berjalan seperti semestinya, kita menjadi berpikir ulang apakah telah mengambil langkah yang benar. Saat pilihan kita berbeda atau bahkan bertolak belakang dengan pandangan orang banyak yang kemudian melahirkan komentar buruk. Di saat itulah kita bisa merasa bersalah dan kehilangan harapan.

2. Membandingkan Kehidupan Sendiri dengan Orang Lain

Setelah munculnya pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan, seseorang yang mengalami quarter life crisis biasanya mulai melihat sekelilngnya. Secara sadar atau tidak, muncul perilaku membanding-bandingkan apa yang dimiliki diri sendiri dengan pencapaian orang lain.

Media sosial adalah hal yang sangat berpengaruh. Hal ini terutama terjadi ketika suatu pencapaian diraih oleh orang yang dikenal atau yang pernah dekat dengan kita. Munculnya postingan tentang karir, liburan, atau bahkan asmara dapat membuat kita merasa kecil karena belum pernah meraih pencapaian yang sama.

3. Merasa Tidak Mengalami Kemajuan

Perasaan tidak sebanding dengan orang lain membuat kita merenungi apa saja yang telah dilakukan selama ini. Ada kalanya, terselip kesadaran akan kurangnya kesungguhan dalam mencapai apa yang diinginkan. Hal ini memicu keinginan untuk berusaha lebih keras dan mengupayakan segalanya secara maksimal.

Namun terkadang ketika semua upaya telah dikerahkan, tetap tidak terlihat hasil yang lebih baik dari sebelumnya. Kenyataan inilah yang dapat melahirkan keputusasaan karena merasa tidak mengalami kemajuan.

4. Terjadi Pertentangan dalam Berbagai Aspek Kehidupan

Beberapa aspek kehidupan, meskipun tidak semua, bisa mengalami pertentangan secara bersamaan. Pertentangan ini muncul akibat perbedaaan pola pikir antara kita dengan lingkungan sekitar. Lingkungan seringkali memiliki standar tidak tertulis yang menuntut untuk diikuti tanpa memerhitungkan berbagai sisi.

Misalnya ketika memilih melanjutkan pendidikan dan menunda bekerja. Kebutuhan finansial yang terganggu bisa saja disiasati dengan bekerja lepas meski tanpa penghasilan tetap. Namun pilihan ini tidak bisa dilepaskan dari pandangan umum yang menuntut kemapanan  finansial.

Contoh lain adalah ketika berkeinginan untuk mengembangkan karir tetapi justru mendapat desakan dari keluarga untuk segera menikah. Masalah ini semakin menjadi beban ketika kenyataannya belum ada calon pasangan yang cocok.

5. Bingung Menentukan Prioritas

Ketidakpastian yang dirasakan seringkali tidak hanya bersumber dari faktor internal. Keberhasilan untuk tidak membandingkan diri dengan orang lain dan fokus terhadap apa yang diyakini tidak selalu berarti semuanya sudah aman. Tuntutan dari luar seringkali justru menjadi tekanan yang lebih berat.
Ini berhubungan dengan terjadinya pertentangan di atas.  Setiap aspek memiliki nilai  yang berbeda-beda bagi masing-masing orang. Dan orang cenderung memprioritaskan aspek yang memiliki nilai lebih baginya.

Kunci Sukses Menghadapi Quarter Life Crisis

Untuk menghadapinya, kita perlu sadar dan memahami quarter life crisis sebagai sebuah fase menuju kedewasaan. Maka dari itu, fase ini perlu dihadapi dengan sikap tegar dan pantang menyerah. Seseorang dikatakan dewasa ketika mampu dan bersedia berdiri tegak untuk menghadapi persoalan hidup yang datang menghampiri. Bukan malah lari dan menghindar.

1. Berdamai dengan Diri Sendiri

Tidak ada yang lebih melegakan selain mampu berdamai dengan diri sendiri. Kegagalan-kegagalan yang dialami selayaknya dianggap sebagai sebuah pelajaran berharga untuk menentukan langkah selanjutnya.

Begitu pun dengan pencapaian kita yang tampak tidak sehebat orang lain. Ingatlah bahwa kesuksesan yang diraih orang lain hanyalah tampilan luar yang ingin mereka perlihatkan. Bisa jadi proses yang mereka jalani berkali-kali lipat lebih menyakitkan disertai deretan kegagalan yang tidak terhitung lagi.

Semua orang mempunyai proses masing-masing. Berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain jika hanya akan membuat kita merasa kecil dan tidak termotivasi.

2. Komunikasi dan Belajar Berkompromi

Perbedaan standar ideal dalam lingkungan dengan standar kita tidak harus selalu dihadapi dengan konfrontasi. Ada kalanya kompromi menjadi jalan tengah terbaik yang harus diterima semua pihak dengan lapang dada.

Dalam lingkup keluarga, lebih baik segala sesuatunya dikomunikasikan. Orangtua biasanya tidak bisa menerima keputusan kita karena belum memahami situasi zaman sekarang. Bicarakan rencana kita dengan jujur dan yakin karena mereka sebenarnya hanya mengkhawatirkan kesejahteraan kita.

Memang tidak selalu berhasil. Namun di sanalah kita belajar untuk berkompromi dengan keadaan, bahwa kenyataan tidak selalu seindah harapan dan perencanaan.

Sementara lingkungan masyarakat yang lebih luas sudah menjadi hal yang di luar kendali kita. Maka tidak setiap standar yang telah mengakar perlu diikuti jika telah benar-benar meyakini jalan yang dipilih. Kita hanya perlu menerima bahwa masyarakat akan menilai kita sebagai orang yang melawan arus, baik dalam makna positif maupun negatif.

Memahami quarter life crisis dalam proses menuju kedewasaan akan menuntun kepada penerimaan bahwa hidup adalah tentang berkompromi dengan berbagai situasi. Sebagian keadaan memang tidak bisa dikendalikan, tetapi kita bisa menentukan bagaimana ingin menyikapinya.

Nah, demikianlah pembahasan tentang Quarter Life Crisis, semoga kita semua mampu melewati pada fase ini dan bisa mengendalikan diri dengan lebih baik lagi serta berjuang mencapai kesuksesan untuk masa depan..!

0 Response to "Memahami Quarter Life Crisis dalam Proses Menuju Kedewasaan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel