Widget HTML Atas

Kisah Sukses Hamzah Izzulhaq Pengusaha Muda Asal Indonesia

Kisah sukses Hamzah Izzulhaq Pengusaha Muda asal Indonesia di usia 18 tahun. Pada kesempatan ini saya akan mencoba brbagi tentang kisah seorang anak muda, bisa dikatakan baru usia remaja. Dia bernama Hamzah Izzulhaq  seorang Entrepreneur muda yang baru berusia 18 tahun. Hamzah Izzulhaq ini tidak ingat secara pasti kapan dia untuk pertama kalinya mulai berdagang. 

Namun satu hal yang pasti yang perlu di ingat adalah bibit-bibit kemandiriannya yang sudah terbentuk sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak ia kecil Hamzah Izzulhaq  sudah mulai berjualan kelereng, gambaran, petasan hingga menjual koran, bahkan dirinya juga pernah menjadi tukang parkir serta ojek payung. 

Kisah Sukses Hamzah Izzulhaq Pengusaha Muda Asal Indonesia

Hamzah Izzulhaq inilah demikian nama entrepreneur muda yang memoles jiwa entrepreneurship-nya dengan mandiri. Pada sejak kecil yang dilakukannuya tiada lain bertujuan untuk menambah uang saku, ia melakoni semua itu di sela-sela waktu luang saat masih kelas 5 SD.

Kisah Hamzah Izzulhaq Bisa Sukses di usia 18 Tahun


Hamzah, begitu dia sering disapa, terlahir dari keluarga yang sederhana dan secara ekonomi bisa dikatakan cukup. Karena sang ayah berprofesi sebagai dosen sementara ibundanya adalah guru SMP. Tentu secara ekonomi, Hamzah tak kekurangan perihal itu. Ia senantiasa menerima uang saku dari orangtuanya. 

Namun kegiatan yang dilakukannya selama ini adalah terdorong oleh rasa ingin mandiri dan memiliki uang saku yang lebih banyak. Maka Hamzah rela menghabiskan waktu-waktu senggangnya untuk mencari penghasilan bersama dengan teman-temannya yang secara ekonomi masuk dalam kategori kurang mampu.

Sejak duduk di bangku kelas 1 SMA Hamzah mulai menekuni bisnisnya tersebut secara serius. Kemudian Hamzah Izzulhaq berjualan pulsa dan juga buku sekolah pada setiap pergantian semester. Pemuda kelahiran Jakarta, tanggal 26 April 1993 ini melobi melalui sang paman yang kebetulan beliau adalah bekerja di sebuah toko buku besar untuk menjadi distributor dengan diskon sebesar 30% per bukunya. 

Setelah Hamzah mendapatkan buku-buku tersebut lalu jual ke teman-teman yang ada di sekolah baik yang satu kelas dan kepada kakak kelasnya. Dalam pemasarannya saya beri diskon untuk mereka sebesar 10%, sehingga saya bisa mendapat keuntungan 20% dari setiap buku yang berhasil saya jual. Alhamdulillah, dari berjualan buku ini saya mengantongi nett profit pada saat itu sudah mencapai Rp950 ribu/semester". ungkapnya.

Jadi, uang hasil dari jerih payah dari hasil penjualan pulsa serta keuntungan buku kemudian ditabung. Sebagian lagi dipakai untuk modal membuka konter pulsa dimana bagian operasionalnya diserahkan kepada teman SMP-nya sementara Hamzah sendiri hanya menaruh modal saja. Setelah berjalannya waktu bisnis itu tidak berjalan lancar. 

Omzet yang didapat ternyata sering kali dipakai oleh temannya tanpa sepengetahuan dan seizin Hamzah. Bahkan voucher pulsapun juga sering dikonsumsi secara pribadi oleh temannya. Dengan begitu maka banyak kerugian yang diterima Hamzah. Dari kejadian ini Hamzah akhirnya mengambil keputusan untuk menutup konternya itu. Apalagi usaha jual pulsa ini baru berjalan selama kurang lebih 3 bulan. Bahkan sampai sekarang etalase untuk menjual pulsa tersebut masih tersimpan di gudang rumah, hal ini sebagai kenang-kenangan, Hamzah pun kalau ingat bisa tertawa.

Kisah Perjuangan Hamzah Izzulhaq Bisa Sukses di usia 18 Tahun


Dari kejadian itu Hamzah masih ingat dan cukup kecewa. Dari kebangkrutan itu Hamzah berusaha untuk bangkit. Ditambah Hamzah ini sangat suka membaca buku-buku pengembangan diri dan buku bisnis. Terutama buku yang berjudul “Ciputra Way” dan “Quantum Leap”. 

Sehingga itu yang membuat Hamzah bangkit ketika rugi dari berbisnis. Bermodal sisa tabungan di bank, Hamzah mulai bangkit lagi dan berjualan pulsa kembali. Beberapa bulan kemudian, tepatnya ketika ia kelas 2 SMA, Hamzah sudah bisa membeli alat mesin pin. Hal itu ternyata nekat dilakoninya karena ia melihat peluang usaha di sekolahnya yang sering mengadakan sejumlah acara seperti pentas seni, OSIS dan lainnya, yang biasanya membutuhkan pin serta stiker. 

Dari acara-acara yang ada di sekolah, ia menerima orderan yang cukup banyak. Tapi lagi-lagi ia harus menerima kenyataan bahwa ia merugi lantaran tidak menguasai teknik sehingga banyak sekali produk orderan dari temannya yang gagal cetak dan mesinnya pun rusak. Bahkan ayah Hamzah sedikit marah dengan kerugian yang ia buat saat itu.

Hamzah Izzulhaq Bisa Sukses di usia 18 Tahun


Dari kerugian itu, Hamzah banyak merenung dan membaca biografi para pengusaha sukses yaitu bertujuan untuk menumbuhkan kembali semangatnya dalam berbisnis. Tak berapa lama, ia kembali membuka uasaha baru yaitu mulai berjualan snack di sekolahnya seperti roti, piza dan kue-kue. Alhamdulillah profit yang terkumpul dari penjualan makanan ringan itu dirinya mendapatkan omset sebesar Rp5 juta. 

Pada pertengahan kelas 2 SMA, ia mulai menangkap peluang bisnis lagi. Dimana pada saat itu ketika ia sedang mengikuti seminar dan komunitas bisnis pelajar yang bertajuk Community of Motivator and Entrepreneur (COME). Di cara itu Hamzah bertemu dengan mitra bisnisnya yang mana juga menawari usaha franchise serta nantinya ada bimbingan belajar (bimbel) bernama Bintang Solusi Mandiri. Apalagi rekan bisnis saya itu juga usianya masih sangat muda, kira-kira usianya baru 23 tahun. Tetapi bimbelnya sudah 44 cabang, ungkapnya.

Dari pertemuan Seminar Community of Motivator and Entrepreneur (COME) itu Hamzah diberi gambaran yaitu prospektus dan laporan keuangan salah satu cabang bimbel yang ada di lokasi Johar Baru, Jakarta Pusat, yang mana kebetulan ingin di-take over dengan harga jual sebesar Rp175 juta. 

Apalagi dengan hanya memegang modal cuma Rp5 juta, pengusaha muda lulusan SMAN 21 Jakarta Timur ini berusaha melobi sang ayah untuk meminjam uang sebagai tambahan modal bisnis barunya. Hamzah melobi sang ayah dan ingin meminjam Rp70 juta yang mana uang tersebut seharusnya ingin digunakan untuk beli mobil. Alhamdulilah berhasil dan saya lalu melobi rekan saya untuk membayar uang yang ia minta yaitu Rp75 juta dulu dan sisanya yang Rp100 juta akan dicicil dari keuntungan tiap semester. Alhamdulillah, permintaan Hamzah tersebut dipenuhi,” kenang Hamzah moment itu.

Dari bisnis dengan model  franchise dan dibekali bimbel itu, menjadikan bisnis Hamzah semakin berkembang pesat dan keuntungan demi keuntungan yang didaptkan oleh Hamzah selalu diputarnya untuk membuat bisnisnya lebih maju lagi. Kini, Hamzah telah berhasil mengembangkan bisnis barunya dan berhasil memiliki 3 lisensi franchise bimbel dengan jumlah siswa diatas 200 orang untuk tiap semester, luarbiasa!. 

Pada saat itu Hamzah sudah beraup untuk total omzetnya sebesar Rp360 juta/semester dan dengan nett profit sekitar Rp180 juta/semester luarbiasa!. Sukses dengan bisnis franchise bimbelnya, Hamzah kemudian melirik bisnis  baru lagi yaitu kerajinan SofaBed yang ada di area Tangerang.

Pada bulan Agustus usaha atau bisnis Hamzah ini telah resmi berbadan hukum dengan nama CV Hamasa Indonesia. Dimana sejak lulusan SMA pada tahun 2011 ini sudah duduk sebagai direktur utama di perusahaan miliknya sendiri dengan rata-rata omzetnya secara keseluruhan mencapai Rp100 juta per bulannya. 

Untuk sekarang ini Hamzah sedang mencicil dengan perlahan mengenai modal yang pernah saya pinjam 2 tahun lalu dari ayah saya. Alhamdulillaah, dari bisnis yang saya bangun ini saya sudah bisa pergi ke Singapore dan Malaysia dengan hasil uang kerja keras sendiri,” ujarnya.

Dari pengalaman selama ini dalam dunia bisnis mulai di usia muda memang memiliki banyak tantangan tersendiri dan juga plus dengan kendala seperti misalnya diremehkan orang, tidak dipercaya para customer dan lain sebagainya. 

Hal itulah yang masih dianggapnya wajar. Maklum saja kalau hal seperti itu masih terjadi dan dialami oleh kalangan pembisnis muda seperti saya, sebab di Indonesia, karena seorangt entrepreneur muda dibawah usia 20 tahun memang masih amat langka. Kalau di Negara Amerika usia 18 tahun seperti saya ini mungkin hal yang sangat biasa bagi mereka di negara Amerika,” tutupnya.