Widget HTML Atas

Aku dan Selembar Kertas Impianku

Impian mahasiswa - Aku dan Selembar Kertas Impianku - Sejak kecil, aku senang sekali melihat peta negara-negara di dunia, maklum di masa-masa itu hanya terdapat “atlas” bukan gawai yang canggih seperti zaman sekarang. Tidak hanya melihat saja, aku juga suka membaca informasi mengenai karakteristik negara-negara tersebut dari buku-buku yang sering aku pinjam di perpustakaan sekolah. Dengan melihat peta dan membaca buku aku bisa melihat dunia dengan segala seluk-beluknya. Benarkah? 

Aku dan Selembar Kertas Impianku


Impian mahasiswa ITB

Namaku Jefri, sekarang sedang berkuliah di Institut Teknologi Bandung jurusan Teknik Metalurgi. Aku tinggal di Kota Tarutung, Sumatera Utara. Berasal dari keluarga yang sederhana, ayah dan mama memiliki gaji yang cukup dan terbilang pas-pasan untuk kami sekeluarga. Impian, setiap orang pasti memiliki impian mereka masing-masing termasuk aku. 

Seringkali aku meminta kepada Tuhan ketika sukses nanti, aku ingin sekali membahagiakan ayah dan mama serta berkeliling dunia membawa nama baik Indonesia ke kancah internasional. Semua impian itu aku tuliskan di selembar kertas buku catatan sewaktu SMA. Memang terdengar agak aneh, namun selembar kertas kecil itulah yang selalu memotivasiku hingga saat ini. 

Dulu saat SMA, aku termasuk salah satu siswa yang terbilang pekerja keras. Anggapan yang mengatakan kalau kuliah itu mahal masih menjadi doktrin yang sangat akrab dipikiran semua orang di daerah tempat tinggalku. Keinginanku melanjut ke perguruan tinggi saat itu juga sempat aku urungkan karena alasan ekonomi keluarga.

Keadaan sekolah saat itu masih ramai karena upacara bendera sudah berakhir, namun seperti biasa wakil kepala sekolah memberi arahan kepada siswa-siswi khususnya kepada kelas XII yang sebentar lagi akan menempuh UN dan ujian perguruan tinggi negeri. “Bidik Misi tahun ini sudah dibuka... Bagi anak didik 83 kami yang berkeinginan dan memenuhi syarat dapat menemui saya,” tegas Pak R Simatupang. Senang, bingung, ragu, takut semua bercampur saat Pak R Simatupang menyelesaikan arahannya. 

Mungkin ini adalah jawaban Tuhan selama ini, “Aku harus kuliah di ITB dengan Bidik Misi” tekadku dalam hati dengan perasaan masih campur aduk. Masuk ke perguruan tinggi favorit di Indonesia sudah pasti merupakan hal yang sulit, banyak siswa-siswi dari sekolah ternama di negeri ini akan bersaing masuk kesana. Sedangkan aku berasal dari sekolah dengan jumlah siswa-siswi yang lulus ke ITB saja hanya 1 orang setiap tahunnya. 

Ditambah lagi, ada sebanyak 4 orang dari sekolahku yang mendaftar SNMPTN ke ITB termasuk juara 1 pararel sekolah. Artinya hanya 1 orang dari kami yang akan diterima. Dengan semangat, rasa optimis, dukungan dari teman-teman maupun guru-guru dan doa restu orang tua, aku memberanikan diri memilih ITB pada SNMPTN.

Tanggal 09 Mei 2015 hasil SNMPTN diumumkan. Ratusan chat di media sosialku penuh dengan pertanyaan “Lulus gak jep? Lulus dimana?”. Jangankan melihat pengumuman, merespon pertanyaan mereka saja aku sudah gemetaran. “Jep, kau lulus!” teriak temanku. Namanya Remon, kami sudah berteman dari SD. Karena pertemanan kami terlalu dekat, dia tahu Nomor Induk Siswa Nasional dan tanggal lahirku. Ya, dia menggunakan kedua identitas tersebut untuk melihat hasil pengumuman.

 “SELAMAT ANDA LULUS PADA SNMPTN 2015, PILIHAN DIMANA ANDA TERPILIH ADALAH FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN DAN PERMINYAKAN ITB”. 

Aku lemas, aku diam dan berdoa dalam hati karena Tuhan sudah mengabulkan doaku selama ini. Aku teringat pada ayah dan mama, mereka pasti sangat gembira dengan kabar ini. Aku masih belum percaya, karena itu adalah hal yang mustahil, bagaimana bisa? 

Aku bukanlah juara 1 pararel, kakak kelasku tidak ada yang lulus di FTTM ITB, dan aku tidak berasal dari sekolah yang ternama. Tetapi semua itu mungkin apabila kita bekerja keras dan selalu meminta pertolongan dari Tuhan. Benar, doa itu sebagian dari usaha kita. Sesampainya di rumah, aku memeluk kedua orang tuaku dan tanpa sengaja air mata mama jatuh. Akhirnya, aku bisa memberi hadiah terindah untuk ayah dan mama.

Aku berangkat ke Bandung meninggalkan ayah dan mama dengan berat hati. Kini, hari-hariku sudah sah menjadi seorang mahasiswa. Jauh dari orang tua merupakan masa-masa yang berat, namun ada pembelajaran yang dapat kita ambil. Kemandirian, komitmen, mampu beradaptasi dan mampu mengatur waktu dengan baik adalah salah satunya. 

Perjalanan dari semester pertama hingga semester akhir tentunya membutuhkan perjuangan yang maksimal. Selama masa perkuliahan, aku mengikuti berbagai unit kegiatan mahasiswa seperti Unit Kesenian Sumatera Utara (UKSU) dan komunitas lain di luar kampus. Aku sangat bersyukur hingga hari ini Tuhan masih mempermudah segala urusanku di institut ini. Akan tetapi ada satu hal yang masih terngiang di kepalaku, “Pergi ke luar negeri”.

Rencana Tuhan tidak ada yang bisa menduga. PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Ibaraki mengadakan suatu event tahunan bernama “Malam Cinta Indonesia” yang diselenggarkan di Jepang. Malam Cinta Indonesia membawa tema budaya Sumatera Utara dan Jawa Timur. UKSU ITB ditunjuk sebagai partisipan dalam acara tersebut mewakili Sumatera Utara. 

UKSU ITB sendiri melakukan seleksi mengingat banyaknya anggota yang mendaftar sebagai penampil. Aku mengambil kesempatan langka ini. Aku berlatih dan terus berlatih karena aku tahu usaha itu pasti sebanding dengan hasilnya nanti. Setiap hari aku berdoa, bangun tidur, mau makan, berangkat kuliah, bahkan mau mandi sekalipun aku berdoa. Isi doaku hanya sedikit saja “Tuhan aku ingin sekali ke Jepang, tapi kehendakMu-lah yang terjadi bukan kehendakku”.

Apabila kamu merasa beruntung, satu dari sekian banyak doa ibumu telah dikabulkan Tuhan, kalimat ini terbukti, aku lulus sebagai penampil yang akan mewakili UKSU ke Jepang. Aku mendapat kabar tersebut lagi-lagi karena diberitahu oleh temanku. Aku langsung menelpon mama. Aku memberitahu mama kalau anaknya akan segera berangkat ke Jepang untuk menampilkan budaya Indonesia. Mama bukan main bahagianya, mama kembali meneteskan air mata.

Paspor, tiket dan visa sudah selesai kami urus dan tiba saatnya bagi kami untuk pergi ke Jepang. Tanggal 05 Januari 2018 pesawat kami mendarat di Bandara Internasional Narita, Tokyo. Saat keluar dari pesawat, aku menangis, bahagia semua jadi satu. Akhirnya, anak kampungan seperti aku ini bisa menginjakkan kaki di negeri orang. 

Saat acara Malam Cinta Indonesia berlangsung ternyata tidak hanya disaksikan oleh orang Indonesia yang tinggal Jepang saja, bahkan orang Jepang sendiri dan warga negara asing yang berada di Jepang juga banyak yang menyaksikan acara besar tersebut. Aku terharu ketika budaya Indonesia khususnya budaya Sumatera Utara ditampilkan ke kancah internasional dan dapat disaksikan oleh semua orang dari berbagai belahan dunia. Ini merupakan pengalaman yang berkesan yang diberikan Tuhan padaku.

Rencana Tuhan tidak sampai disitu saja, aku masih berkeinginan untuk menjelajahi dunia ini. Karena terbatasnya dana yang aku punya dan aku tidak mau membebani orang tua, aku bekerja sebagai pengajar privat SMA disela kesibukan semester akhir. Walaupun hasilnya tidak seberapa, tetapi cukup untuk ditabung. 

Setelah bekerja dan menabung selama 6 bulan, dana yang aku kumpulkan sudah tercukupi. Kali ini aku pergi ke Kuala Lumpur, Malaysia sebagai negara kedua yang aku jalani. Ada rasa puas dalam diri dengan menggunakan uang sendiri pergi menjelajah dunia tanpa membebani orang tua. 

Hidup ini adalah perjuangan dan kita akan selalu dihadapkan dengan berbagai pilihan. Apakah kita menginginkan ini atau apakah kita menginginkan itu. Jika kita ingin sukses maka bertindaklah selayaknya orang sukses. Akan ada saatnya kita bertemu dengan kegagalan, karena dalam mencapai impian dibutuhkan kerja keras. 

Tidak ada yang menduga jika aku akhirnya mengecap pendidikan di Institut Teknologi Bandung dan berpartisipasi menampilkan budaya Indonesia di Jepang. Dengan kuasa Tuhan dan berbekal semangat, tekad yang kuat serta berkeyakinan akan harapan baik dari Tuhan, selembar  impianku sudah menjadi nyata. 

Bukan kekurangan finansial yang menjerumuskan pada kegagalan, justru alasan-alasan yang membuat kita berhenti berusahalah yang harus di hindarkan. Impian merupakan hal yang dianggap menarik dan indah untuk diimajinasikan. Jika impian tidak disertai dengan usaha dan doa, impian tersebut hanyalah sebuah mimpi belaka.  

Judul Paten : Aku dan Selembar Kertas Impianku
Penulis : Jefri Mycell Anju Lumban Gaol