Widget HTML Atas

Kisah Inspiratif Imam Mustafa Yusuf Bisa Kuliah di ITB Jalur SBMPTN

Kisah Imam Mustafa Yusuf Bisa Kuliah di ITB Jalur SBMPTN - Halo teman-teman, perkenalkan aku Imam Mustafa Yusuf, anak asli Garut (Asgar) yang tinggal di Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut. Aku adalah putra bungsu dari kedua orang tuaku. Bapak-ku bekerja sebagai sopir di sebuah perusahaan otomotif, sedangkan Ibuku hanya ibu rumah tangga yang kadang membantu mencari tambahan penghasilan untuk keluarga. Aku memiliki seorang kakak perempuan yang berbeda usia 4 tahun dariku. Latar belakang keluarga yang sederhana tak menciutkan diriku untuk bermimpi besar. Menimba ilmu hingga ke tingkat pendidikan tinggi adalah cita-citaku sejak SMP dulu. 

Kisah Imam Mustafa Yusuf Bisa Kuliah di ITB Jalur SBMPTN


Kisah Imam Mustafa Yusuf Bisa Kuliah di ITB Jalur SBMPTN
ilustrasi

Tapi saat itu, belum terbayang rasanya ingin kemana dan mengambil program apa. Karena banyak yang bilang, kuliah itu mahal. Padahal, untuk sekolah saja keluargaku selalu mencari beasiswa untuk biaya sekolahku dan kakakku. Hingga suatu saat kakakku, Eva Maulina, diterima di kampus sebesar ITB tanpa harus membayar uang kuliah sepeserpun. Ya, benar, darisinilah aku mengetahui mengenai program beasiswa Bidikmisi. Mengetahui hal ini, muncullah keinginan besar untuk berkuliah tanpa biaya juga, bahkan diberi uang saku bulanan seperti kakak ku waktu itu.

 Masuk ke jenjang SMA, aku benar-benar ingin memanfatkan masa SMA ini sebaik mungkin, bersekolah di salah satu sekolah yang katanya favorit di Kabupaten Garut, SMA Negeri 1 Garut. Jika ditanya setelah SMA akan lanjut kemana? Pasti kujawab ITB, meskipun saat itu, sebenarnya aku tidak tahu ada program studi apa saja di ITB itu. 

Dan lagi, aku bukanlah tipe orang yang super duper rajin dan pintar yang sampai masuk top 10 di sekolah. Mungkin karena waktu itu aku terlalu nyaman dan terlalu senang berorganisasi dan menyelenggarakan kegiatan di sekolah. Karena dulu aku percaya perkataan kakak kelasku, saat dewasa nanti softskill itu nomor satu, nilai hanya tambahan persyaratan untuk daftar kerja. Alhamdulillah wa Innalillah pada saat aku kelas 11 SMA, aku diberi amanah untuk menjadi ketua organisasi keagamaan di sekolah. Di satu sisi, aku bisa belajar banyak dengan memegang amanah ini. 

Namun, kesibukan ku di luar akademik pun bertambah. Hingga masuk ke semester 5, atmosfer persaingan dan akhir masa sekolah sudah mulai terasa, rasa was-was bercampur bingung muncul “Bisakah aku masuk ke ITB?”. Mungkin ini yang dirasakan teman-teman juga dulu atau bahkan saat ini bagi teman-teman SMA. Menjadi ketua DKM ternyata sedikit banyak telah merubah diriku, sedikit demi sedikit belajar untuk lebih mengerti agama dan lebih mengerti tentang kemampuan diri. Aku mulai mencari beberapa program studi yang sesuai dengan minat atau kemampuanku. 

Tidak lupa aku selalu meminta saran dan masukan dari guru-guru kelasku dan guru BK sekolah. Sampai aku memutuskan tiga kandidat fakultas di ITB yang kemungkinan akan kutuju yaitu, STEI, SAPPK dan FTSL. Do’a dan usaha keras itulah kalimat yang selalu ibuku ucapkan saat menyemangatiku menempuh masa-masa akhir sekolah ini. Suasana di sekolah pun semakin berbeda, terutama bagi anak kelas XII menjelang akhir semester 5. Masjid selalu penuh. Klasik memang katanya, tapi suasana ini membuat aku lebih tenang. Melihat semua bersaing secara damai dan ramai orang-orang saling mengingatkan untuk memperbanyak berdoa dan belajar.

SNMPTN. Sebuah peluang masuk perguruan tinggi yang pasti didambakan semua siswa. Meskipun kita selalu diingatkan untuk tidak berharap kepada SNMPTN dan selalu belajar untuk SBMPTN. Tapi harap cemas itu pasti tak dapat dihindarkan. Begitupun aku, yang sama sekali tidak persiapan untuk SBMPTN. Semester 6 ini, jadwal pelajaran mulai lengang, namun banyak diisi jadwal kelas intensif, terutama untuk pelajaran yang di Ujian Nasional-kan. 

Aku mendengar kalau alumni sekolahku yang masuk ke STEI ITB dan FTSL ITB adalah orang-orang top pada masanya. Anak lomba-lomba dan OSN yang rutin memboyong piala ke sekolah. Minder?. Pasti. “Da aku ma apa atuh!” itulah ungkapan yang sering terdengar pada masa itu. Ibuku selalu membangunkanku jam 2 shubuh, mengingatkanku untuk sholat malam dan Istikharah. Aku pun yakin, pasti Allah Swt. akan memberikan yang terbaik bagiku. 

Ada juga pesan yang sering ibuku sampaikan, yaitu jangan gengsian atau jangan malu karena kondisi ekonomi yang seadanya. Di sekolah, pengurusan persyaratan Beasiswa Bidikmisi sudah dimulai, aku pun mulai mengikuti serangkaian prosedur yang harus dipenuhinya, dari mulai membuat SKTM sampai submit semua kelengkapan berkas persyaratannya. Tak berapa lama, ada pengumuman mengenai kuota SNMPTN di sekolah. Alhamdulillah, aku masuk kuota tersebut. Pilihanku tertuju pada satu program studi, yaitu Perencanaan Wilayah dan Kota. 

Tak tau kenapa, tapi aku merasa aku harus ada di jurusan ini, menyadari bahwa daerah asalku belum sebaik daerah lain, dan banyak keresahan lainnya yang terasa. Kupikir Perencanaan Wilayah dan Kota di SAPPK ITB adalah pilihan yang pas untuk menjadi batu loncatan dari keresahan ku itu. Hingga waktu finalisasi pilihan tiba, aku memilih SAPPK ITB. Mulailah masa penantian panjang hingga pengumuman hasil SNMPTN.

“SELAMAT, Anda dinyatakan lulus SNMPTN 2017 di INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG Program Studi Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Kampus Cirebon”

Alhamdulillah Itebee... Eh? Kampus Cirebon? Iyaa, ternyata aku diterima di pilihan ke dua, SAPPK ITB Kampus Cirebon. Di hari pengumuman itu, aku langsung mengabari keluarga ku kalau aku diterima disana. Kabar kebahagiaan ini sampai ke tetanggaku juga. Bagaimana tidak, orang tuaku pasti saat itu bangga, kedua anaknya berkuliah di salahsatu Universitas terbaik di negeri ini. 

Namun, banyak pertanyaan timbul setelah itu. Kampus Cirebon itu di sebelah mananya? Apakah aku langsung berkuliah di Cirebon? Bagaimana kondisi disana? Semua pertanyaan itu langsung aku tanyakan pada temanku Rifan, (sekarang mahasiswa Kriya Cirebon 2016). Katanya kuliah di Jatinangor, sampai kampus baru-nya jadi, singkatnya begitu. Rasa senang, bingung, sedih, dan syukur bercampur saat itu, maklum masih masa-masa euforia.

Senang karena namaku disebut di jajaran awal saat perpisahan, bersama teman-teman ku di ITB lainnya, dihadapan orang tua ku. Bingung, karena setelah masa SMA ini, aku akan menempuh kehidupan baru terpisah rumah dengan orang tua. Sedih, yaa karena sebenarnya keinginanku adalah berkuliah di ITB Kampus Ganesha, seperti kakak ku dulu. Tak lupa, Syukur, karena Allah masih memberiku kesempatan berkuliah dan mengabulkan do’a do’a malamku. 

Terasa seperti sebuah keajaiban memang, orang sepertiku yang jauh dari 30 besar ranking sekolah, dari keluarga sederhana, bisa masuk ITB, mengalahkan beberapa temanku yang ranking paralel nya jauh diatas rankingku. Disinilah aku percaya bahwa do’a adalah sumber kekuatan kita. Allah pasti mendengarkan apa yang kita ceritakan pada-Nya.

Hidup di Jatinangor, di Asrama Jatinangor, dimana ruang kelas hanya berjarak puluhan meter dari asrama. Sangat menantang, karena Jatinangor ini membuat banyak zona nyaman. Jauh dari mana mana, cuaca pagi hari yang mendung, sepi dan dingin. Harga yang relatif lebih murah dibanding di Kota Bandung sangat menguji kesabaran, menahan diri untuk sering main sama temen kampus UNPAD, menahan diri untuk makanmakan hedon, nonton, dan sebagainya. 

Di awal masa pengenalan kampus, terasa sangat melelahkan, karena harus pulang pergi Jatinangor-Bandung, karena semua kegiatan terpusat di Kampus Ganesha, Bandung. Meskipun selalu diantar jemput bis ITB, namun setiap hari kita mahasiswa baru ITB Cirebon harus sudah bersiap menuju bis selepas shalat shubuh lalu pulang di sore hari atau bahkan malam hari. 

Tahun pertama berkuliah di ITB atau lebih dikenal dengan masa TPB atau Tahap Persiapan Bersama memang memberikan pengalaman bahwa di perkuliahan ini tidak bisa main-main. Materi yang padat setiap pertemuannya, dan soal ujian yang tidak bisa dipandang mudah bagiku, memang menuntut diri untuk belajar lebih. 

Apalagi aku adalah mahasiswa bidikmisi yang memiliki target batas IP tertentu, tentulah muncul sebagai tanggungjawab besar bagiku. Situasi dan kondisi yang cukup berbeda dengan kampus utama yang sudah serba lengkap, tentu menjadi tantangan tersendiri berkuliah di Kampus Jatinangor ini. 

Saat itu aku sempat berada di titik jenuhku, merasa tertinggal dalam hal akademik, dan merasa beda dari temanteman yang ada di Kampus Ganesha sana. Namun sekali lagi aku ingat, Allah Swt. Adalah perencana terbaik. Kembali aku tersadar bahwa ada rencana besar dibalik ini semua. Kuingat lagi semua perjuanganku saat SMA, betapa besarnya keinginanku untuk mengenyam bangku pekuliahan pada program studi ini.

Syukur, berusaha dan selalu meminta bimbingan dari Rabb Yang Maha Kuasa adalah beberapa hal yang harus dilakukan. Meyakinkan diri dengan beberapa asumsi seperti jika aku berkuliah di Ganesha, mungkin aku tidak akan sadar kalau banyak orang yang menginginkan untuk bisa menimba ilmu di perguruan tinggi, apalagi ITB, gratis pula. Mungkin disana aku tidak akan pernah merasakan rasa kekeluargaan yang tinggi di Kampus Jatinangor ini. 

Saat orang-orang dengan ramahnya menawari tumpangan dari gerbang bawah ke asrama, atau saat buka Pre Order sarapan, makan siang dan makan malam, main dan makan bareng dengan mahasiswa kampus tetangga, buka puasa bersama di mushola kampus, naik travel bareng dari Jatinangor ke Bandung atau sebaliknya, atau bahkan sekedar antrian panjang kantin satu-satunya di dalam kampus di jam makan siang. Mungkin momen-momen seperti itu tidak akan aku rasakan jika aku menjadi mahasiswa yang berkuliah di Kota Bandung. 

Dengan semua rasa sadar itu, muncul tekad untuk bangkit untuk bisa membuktikan diri bahwa dimanapun itu aku bisa mengasah diri, mencari ilmu dan memperbaiki diri. Sebuah pedang yang bagus, tajam dan kuat itu harus ditempa berkali-kali, dilebur, dipanaskan, ditimpa lagi, begitu seterusnya bukan?. Mungkin latar belakang keluargaku hanyalah keluarga kecil sederhana yang serba pas-pasan. Namun, bukan berarti kita tidak bisa merubahnya. 

Akhirnya aku sadar untuk lebih proaktif dan memanfaatkan kesempatan berkuliah dengan beasiswa penuh ini untuk mengejar ilmu dan menambah kemampuanku, beberapa hal yang telah kulakukan selain bersungguh-sungguh dalam hal akademik adalah menjadi Tutor Asrama ITB, ikut berbagai kepanitiaan, menjadi anggota protokoler kampus dibawah Humas ITB, mengikuti unit kegiatan mahasiswa kebudayaan, dan berkegiatan di himpunan mahasiswa jurusan. Alhamdulillah dimulai dari kesadaran itu, indeks prestasi ku pun meningkat, relasi ku bertambah, dan aku memiliki beberapa kemampuan dan wawasan baru yang dapat diaplikasikan di lingkungan masyarakat. 

Begitulah ceritaku, mungkin biasa saja. Tapi ingatlah, saat kau berani bermimpi, berusaha dan tetap berserah pada Yang Maha Kuasa. InsyaaAllah semua akan terwujud dengan cara yang tak terduga dan dengan ending yang bahagia. Janganlah menyerah dalam berjuang kawan! Mimpiku sekarang adalah melanjutkan studi di Jepang atau Eropa. Kamu?  

Judul Paten : Mimpi dan Syukur
Penulis : Imam Mustafa Yusuf 
Buku : Rangkaian Titik Kehidupan