Widget HTML Atas

Kisah Wilda Pratiwi Menyambung Asa untuk Menggapai Cita

Kisah seorang Pelajar SLTA dari keluarga sederhana yang ingin lanjut Kuliah di (Perguruan Tinggi) - Ini kisahku, gadis remaja yang sangat ingin memakai toga seperti yang dikenakan para sarjana saat wisuda. Namaku Wilda Pratiwi. Aku telahir dari keluarga yang sederhana. Aku adalah anak ke 4 dari 5 bersaudara. Ayahku seorang supir truk dan ibuku adalah seorang buruh tani. Hari-hariku bersekolah berjalan lancar sebelum ayahku jatuh sakit pada masa aku Aliyah. Rasanya, siapa yang tak ingin terlahir dari keluarga yang serba ada. Terfasilitasi serta mampu melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya. Namun itu bukanlah pilihan yang bisa dipilih, melainkan ketetapan yang harus kita syukuri bagaimanapun kita terlahir.

Kisah Seorang Pelajar SLTA yang Ingin Melanutkan Studi Ke Perguruan Tinggi


Kisah Wilda Pratiwi Menyambung Asa untuk Menggapai Cita

Semangatku untuk bisa melanjutkan kuliah begitu menggebu karna aku ingin memutus rantai kemiskinan dalam keluargaku. Menurutku melalui ilmu dan pendidikan, aku bisa mengubah status sosial keluargaku dan memberikan kebermanfaatan bagi sesama. Selain itu aku juga ingin membuktikan akan stigma negatif orang-orang yang mengatakan” percuma perempuan sekolah tinggi-tinggi ujung-ujungnya di kasur, dapur, dan sumur”. Aku sangat tidak setuju. Menurutku berpendidikan dan sukses adalah hak mutlak siapa saja tanpa memandang dia laki-laki ataupun perempuan. Sering kali semangat-semangat seperti ini terhalangi oleh kondisi perekonomian keluarga yang tak bersahabat. Dan itu juga terjadi padaku.

Ayahku menderita penyakit diabetes pada tahun 2014. Dan ini berlanjut hingga tahun 2016 saat masa-masaku tamat Aliyah. Penyakitnya membuat ayah tak mampu lagi bekerja. Hingga ibu harus tutup lubang dan gali lubang (berhutang) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pemasukan ekonomi keluargaku saat itu hanyalah dari kakak ku yang pergi merantau untuk bekerja. Dan 103 itupun dalam jumlah yang tak mencukupi kebutuhan. Karna kondisi ini harapan ku untuk kuliah seakan pupus rasanya.

Saat masa ujian nasional, ayahku masuk rumah sakit lagi karna kondisinya yang memburuk. Hal ini lagi-lagi semakin mengurangi semangatku untuk kuliah. Sepulang ujian aku melihat ayah di rumah sakit. Aku memandang wajahnya yang pucat putih dan terbesit dalam hatiku mengatakan” masa tua ayah tak boleh lagi dengan kesusahan, hidupku yang akan datang harus lebih baik dari kehidupanku yang saat ini, aku harus bisa membahagiakan mereka, aku harus bisa kuliah, semangat!! (Pikirku dalam hati)”. Aku mendaftar SNMPTN dan SPANPTKIN untuk masuk PTN.

Masa-masa setelah UN aku manfaatkan untuk bekerja mencari biaya jikalau aku lulus PTN nanti. Karena ibuku sudah terang-terangan mengatakan mereka tidak sanggup membiayai ku dan hanya mampu memberi doa dan semangat atas usaha yang aku lakukan. Aku bekerja menjual tiket bus di salah satu loket yang ada di Terminal Tanjung Beringin Pasar 10 dekat rumahku. 

Bekerja dilingkungan pasaran yang keras persaingan bukanlah tantangan mudah bagiku. Belum lagi atas kesalahan kerja yang aku lakukan, membuatku pernah ditegur di depan umum oleh bosku. Rasanya begitu mengiris hati. Tapi aku menganggap ini adalah pil pahit yang harus aku telan asal aku bisa mengumpulkan biaya untuk kuliah. 

Sembari bekerja, pengumuman SNAMPTN pun tiba. Aku dinyatakan lulus di prodi ilmu hukum Universitas Malikussaleh (UNIMAL) Lokhsemawe, Aceh. Rasanya begitu menyenangkan. Tetapi uangku belum cukup hingga tiba tanggal daftar ulang. Akhirnya aku tidak bisa mengambil kuliahku yang disana karna ketiadaan biaya untuk transportasi dan daftar ulang. Karna memang UNIMAL jauh dan berlainan provinsi denganku yang tinggal di Langkat. 

Harapanku tinggal SPANPTKIN. Keesokan harinya adalah pengumuman SPANPTKIN. Aku melihat pengumumannya dan ternyata aku dinyatakan tidak lulus di perguruan tinggi pilihanku. Sakit rasanya. Harapanku satu-satunya kandas. Aku menangis 104 seharian menerima kenyataan ini. Tapi ibuku terus menyemangatiku dan mengatakan” Banyak jalan menuju Roma” yang mengartikan aku tidak boleh menyerah, aku harus mencoba lagi. 

Akhirnya aku memutuskan untuk mendaftar jalur ujian tulis UMPTKIN di UINSU. Pendaftarannya berbayar Rp. 150.000 dan uang pendaftaran aku pinjam dari abangku. Sambil bekerja dan sebelum ujiannya tiba, aku menyempatkan diri untuk mempelajari soal-soal ujian. Hingga masa ujian tiba, aku menumpang kos temanku yang ada di Medan untuk menginap. Pengumuman hasil UMPTKIN menyatakan aku lolos di prodi Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSU

Alhamdulillah dengan uang yang sudah terkumpul aku mendaftar ulang untuk bisa kuliah dan menjadi mahasiswi. Tetapi masalahku terus berlanjut, aku tak mampu menyewa kamar kos di Medan. Aku tak tau harus bagaimana hingga temanku menawariku untuk tinggal dirumah neneknya yang ada di Medan bersamanya. Tetapi dengan syarat kita harus membantu bersih-bersih dan melakukan pekerjaan rumah. Tanpa fikir panjang aku langsung terima. 

Dikamar petak tak ada jendela ukuran 2 x 3 m kami tinggal berdua. Sesak rasanya. Tapi aku harus tetap bersyukur karna Allah telah memberiku kemudahan. Kuliah berlangsung, aku telah menjadi mahasiswi selama kurang lebih satu bulan lama nya. Satu hal yang masih aku fikirkan adalah bagaimana aku membayar uang kuliahku selanjutnya? Apa kuliah ku bisa terus berlanjut setelah semester ini? 

Pertanyaan itu menghantui fikiranku. Tanya bimbang itu Allah jawab dengan usahaku mendaftar beasiswa bidikmisi di kampus. Beasiswa bidikmisi telah memberiku secercah harapan menyambung asa. Perjuangan mengurus berkas, serta bersaing dengan ribuan pendaftar adalah hal yang harus dihadapi. Belum lagi berkas foto rumahku yang dianggap bagus oleh pihak akademik bila dibandingkan dengan rumah pendaftar lainnya. 

Walaupun ucapan mereka sempat membuatku down, tapi aku tak ingin mengisi berkasku dengan data manipulasi. Jadi semuanya benar-benar murni dan jujur dari keadaanku yang sebenarnya. Seluruh sertifikat juara dan prestasi aku sertakan untuk menjadi kelengkapan berkasku. Setelahnya mengenai hasil aku pasrahkan pada Allah yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui keadaan hamba-Nya. 

Aku tak hentinya meminta doa dari orang tuaku agar diberikan keluluan oleh Allah agar aku tetap bisa melanjutkan kuliah hingga selesai. Al hasil Allah mengabulkan doa-doaku, aku lulus sebagai mahasiswi penerima bidikmisi diangkatan 2016. Rasa syukur tak henti aku ucap dan sujudkan. Bidikmisi mengantarkanku menyambung asa menggapai cita untuk langkah suksesku. Kini orang tuaku tak lagi cemas memikirkan harus dari mana anaknya memperoleh biaya kuliah. Walaupun sampai hingga saat ini ayahku masih sakit hal ini adalah cambukan keras bagiku untuk terus berjuang. 

Oleh karena itu sahabat bidikmisi sekalian, kesempatan selalu ada untuk orang-orang yang mau berusaha dan tidak kehilangan harapan. Percayalah Allah membersamai kita. Semoga dengan rezeki yang Allah beri melalui Bidikmisi menjadi semangat kita untuk mewujudkan cita. Mari kita menjadi generasi milenial bestari perintis perubahan yang berprestasi serta berdedikasi untuk membangun negeri. 

Saya teringat pandangan Ki Hajar Dewantoro yang mengatakan “jadikan setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah”. Persepsi bapak pendidikan Indonesia ini dalam mengartikan pentingnya belajar bagi setiap orang adalah mindset yang harus kita bangun dalam paradigma berfikir kita. Karna ilmu adalah kunci bagi kita untuk memperoleh kebahagian dunia dan juga akhirat. Pendidikan adalah hak setiap kita dan itu tak boleh terhalangi karna keterbatasan ekonomi yang ada. Terus semangat. Bidikmisi bersama kita.  

Judul Paten : Menyambung Asa, Menggapai Cita
Penulis : Wilda Pratiwi 
Buku : Rangkaian Titik Kehidupan
.....KLIK 1X (CLOSE).....