Widget HTML Atas

Mimpi dari Secarik Kertas - Perjalanan Mahasiswa UNPAD

Kisah Perjalanan Mahasiswa - Saat ini aku terdaftar sebagai mahasiswa di Fakultas Pertanian di salah satu universitas negeri yang berada di Sumedang. Berada di salah satu PTN (Perguruan Tinggi Negeri) terbaik di Indonesia merupakan salah satu mimpiku sejak masih berseragam SMP (Sekolah Menengah Pertama). Tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa mimpi yang aku tuliskan di dalam kertas buram akhirnya bisa terwujud berkat pemberian Sang Maha Kuasa. Namun perjalanan menuju kampus impian itu tidaklah mudah, banyak sekali rintangan yang aku hadapi sampai aku bisa berhasil menghirup udara segar di kampus baruku. 

Mimpi dari Secarik Kertas


Mimpi dari Secarik Kertas

Awal aku menuliskan mimpi-mimpiku di kertas adalah ketika aku baru masuk kelas 1 SMA pada tahun 2015. Saat itu aku melihat video di youtube tentang seorang mahasiswi asal Yogyakarta yang menuliskan semua mimpi-mimpinya pada beberapa lembar kertas. Apabila mimpinya berhasil terwujud, maka ia akan mencoret tulisan mimpinya menggunakan pulpen tanda berhasil meraihnya. Aku begitu termotivasi sehingga sampai saat ini masih menuliskan mimpi-mimpi besarku dalam sebuah kertas, dan ada beberapa yang sudah berhasil aku coret (baca: berhasil diraih). 

Saat itu aku menulis di kertas buram itu dengan kalimat: “Masuk UI/UNPAD jalur beasiswa”. Ketika aku menulis, aku sertakan doa di dalamnya agar apa yang aku mimpikan bisa terwujud suatu hari nanti. Berkuliah adalah salah satu mimpi besarku karena di keluargaku baru ada satu yang bisa berkuliah, yaitu pamanku. Bisa dibilang motivasi terbesarku untuk berkuliah adalah pamanku karena ia berkuliah sambil bekerja dan sering memotivasiku untuk menjadi seseorang yang berguna di suatu hari nanti.

Di kelas 3 SMA aku bimbang memilih PTN yang akan aku tuju karena di sekolahku masih sangat minim alumni yang diterima di PTN ternama melalui jalur undangan/rapor (SNMPTN). Merasa nilaiku cukup baik, aku pun mencoba mendaftar di UNPAD (Universitas Padjadjaran) dan UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) melalui jalur undangan. Mengapa aku tidak mengambil UI (Universitas Indonesia)? 

Aku bukan tipe orang yang muluk-muluk, bagiku nilai raporku masih belum cukup untuk menembus kampus kuning itu. Maka dari itu aku pun memilih untuk berpikir realistis. Bersamaan dengan itu aku pun mendaftar di jalur undangan lainnya yaitu SPAN-PTKIN jalur khusus PTN berbasis agama islam. Aku mencoba untuk mendaftar di UIN SGD (Sunan Gunung Djati) Bandung dan UIN SHD (Syarif Hidayatullah) Jakarta. Ketika pengumuman tiba, aku gagal di jalur keduanya. Kecewa? 

Pasti, aku sangat kecewa. Namun aku selalu berpikiran positif bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untukku di jalan lain. Aku masih ingin berjuang meraih mimpiku masuk PTN agar aku bisa mengangkat derajat kedua orang tuaku. Aku pun bertempur dengan soal-soal SBMPTN. Saat itu aku masih ingat berangkat ke tempat ujian bersama teman-teman sekelasku jam 2.30 malam untuk menghindari kemacetan. Kebetulan aku dapat tes di Bogor. Ketika memasuki adzan shubuh, kami berhenti sebentar untuk menunaikan shalat shubuh di masjid berjamaah. Disitu kami bersimpuh di hadapan Allah agar diberikan yang terbaik. 

Tidak terasa, pengumuman pun tiba. Saat itu tahun 2017 di pertengahan bulan puasa. Aku berharap akan ada keajaiban di bulan puasa. Aku membuka website pengumuman ketika selesai shalat tarawih di masjid. Namun lagi-lagi aku gagal untuk yang kesekian kalinya. Aku mencoba sabar dan ikhlas. Rasanya ingin menangis karena aku telah mengecewakan orang tuaku, terutama ibuku. 

Aku mencoba memberi tahu hasil pengumuman itu pada ibuku, dan luar biasanya ibuku sama sekali tidak kecewa, beliau malah berkata padaku: “gapapa fran, mungkin belum rezekinya, kata erfran kan masih bisa tahun depan ikut ujian lagi”. Entah apa yang ada di pikiran ibuku sebenarnya, namun aku sangat bersyukur mempunyai ibu seperti ibuku yang begitu mulia hatinya. 

Aku sebagai anak satu-satunya telah mengecewakannya, namun ia sama sekali tidak kecewa denganku. Atas izin dari ibu dan ayahku, aku pun memutuskan untuk mengikuti ujian di tahun selanjutnya dengan segala persiapan yang matang. Aku sadar bahwa ketika SMA aku masih banyak leha-leha sehingga prestasiku menurun yang berdampak pada kegagalanku menembus perguruan tinggi. 

Namun yang berlalu biarlah berlalu, aku ingin memperbaiki segalanya, aku harus lebih berjuang dan berkeringat lagi. Sadar bahwa bahan belajarku sedikit, aku pun mencoba untuk membeli voucher belajar online. Aku sengaja menyimpan uang THR pemberian dari saudara-saudaraku untuk membeli voucher belajar agar bisa belajar lebih puas di rumah. Kurang lebih 9 bulan aku habiskan waktuku untuk belajar di rumah. Sesekali aku pergi ke luar untuk sekedar bermain atau menghirup udara bebas agar beban pikiranku tidak terlalu berat. 

Aku pun memakai waktu luangku untuk mengembangkan bakat menulisku dengan menulis beberapa cerpen yang aku kirim ke website pengiriman cerpen atau blog pribadiku. Beberapa kali aku mengikuti Try Out SBMPTN diluar untuk mengukur seberapa persen persiapanku. 

Aku benar-benar ingin berhasil di tahun kedua dengan berbagai persiapan yang matang mulai dari belajar, jadwal yang menentu, hingga me-list PTN dan jurusan yang sekiranya bisa aku gapai. Waktu ujian pun tiba, kebetulan aku ditempatkan di tempat yang sama saat tahun sebelumnya. Namun aku berharap bahwa hasilnya akan jauh berbeda. Aku berangkat diantar oleh saudaraku menggunakan motor. 

Kali ini aku sangat percaya diri untuk menjawab soal dengan benar, urusan hasil aku yakin Allah akan memberikan yang terbaik dari apa yang telah aku usahakan selama ini. Selama menunggu pengumuman tiba, aku habiskan waktu untuk menulis di suatu website untuk mendapatkan penghasilan walaupun tak seberapa. Bersamaan dengan itu aku pun mencari-cari informasi mengenai ujian mandiri dan kampus- kampus swasta yang menyediakan beasiswa, khususnya beasiswa bidikmisi. Pengumuman hasil ujian saat itu dilaksanakan pukul 15.00 WIB tanggal 3 Juli 2018 tepat tiga hari sebelum aku ulang tahun yang ke-19. Jika aku lolos, mungkin itu adalah hadiah ulang tahun yang paling berkesan selama hidupku. Saat itu aku sedang berada di kamar menonton video cuplikan gol piala dunia malam sebelumnya. 

Dan jam sudah menunjukkan pukul 14.55 lima menit sebelum akses pengumuman bisa dibuka. Lima menit pun telah berlalu, jantungku semakin berdebar kencang tak karuan, aku tidak ingin mengecewakan ibuku untuk yang kesekian kalinya. Aku buka notebook-ku dan membuka website pengumuman. Aku ketik nama lengkapku, kemudian mengetik nomor peserta ujianku. Dengan tangan yang gemetar, aku pun menekan tombol enter pada notebook-ku, dan apa yang terjadi? Masya Allah, Allah telah mengabulkan semua doa-doaku dan doa-doa orang tersayangku, aku berhasil lulus di universitas impianku sejak dulu, yaitu Universitas Padjadjaran (UNPAD)

Sontak aku pun langsung bersujud syukur dan langsung menemui ibuku yang sedang menonton televisi di ruang tengah. Aku sempat bingung, itu merupakan kenyataan atau hanya mimpi belaka. Namun itu semua merupakan kenyataan yang membuatku menangis bahagia. Tak pernah aku merasakan ini sebelumnya. Aku berhasil menjadi siswa keempat di sekolahku sepanjang sejarah yang diterima di UNPAD.

Allah memang mempunyai rencana yang baik untukku, dan aku sangat percaya itu. Lulusnya aku merupakan kado ulang tahun terindah yang pernah aku terima selama aku hidup. Usahaku hampir satu tahun sama sekali tidak sia-sia, aku mendapatkan balasannya. Meskipun aku tertinggal satu tahun lebih dahulu oleh teman-temanku yang sudah lebih dahulu berkuliah, namun aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu semua, yang terpenting coretan di kertas buramku sudah bertambah lagi satu. Itu artinya aku berhasil meraih salah satu impianku. 

Saat ini aku sangat bersyukur bisa berkuliah dengan bantuan beasiswa, setidaknya aku tidak menyulitkan kedua orang tuaku perihal biaya kuliah. Aku pun senang bisa bergabung dengan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang mampu mewadahiku dalam berkarya, khususnya dunia kepenulisan. Hidup akan indah jika kita mampu ikhlas untuk menjalaninya. Mimpi adalah hal yang wajib kita lakukan agar hidup terus maju dan tidak membuang waktu secara sia-sia. 

Dengan mimpi, kita akan selalu berusaha dan mencari cara agar mimpi itu bisa terwujud. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika kita masih mempunyai keyakinan, tekad, dan usaha. Hanya dengan secarik kertas yang berisi mimpi-mimpi indah, tidak lupa disertai dengan usaha yang konkret, perlahan tulisan-tulisan tentang mimpi itu tercoret oleh sebuah pena tanda ada mimpi yang sudah diraih.

Judul Paten : Mimpi dari Secarik Kertas
Penulis : Erfransdo
Buku : Rangkaian Titik Kehidupan