Widget HTML Atas

Perjuangan Heni - Dengan Kekuatan Do’a Keinginan Ku Terwujud

Perjuangan Heni untuk Meraih Cita-citanya - Nama saya Heni, lahir di Kuningan 24 April 2000, saya anak pertama dari dua bersaudara. Saya terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, ayah saya seorang buruh harian lepas dengan penghasilan tidak menentu, sedangkan Ibu saya hanya seorang Ibu rumah tangga. Sejak kecil saya selalu di ajarkan bersikap jujur dan menghargai orang lain. 

Tahun 2006, saya mulai memasuki bangku sekolah dasar. Saat itu saya bersekolah di SDN 1 Nanggela. Enam tahun saya belajar, setelah itu saya melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi di SMPN 1 Mandirancan, tahun ajaran 2016 saya lulus dari SMP tersebut dan melanjutkan sekolah lagi di SMAN 1 Mandirancan. Disinilah awal saya mulai membangun cita-cita, mimpi dan harapan saya kedepannya. 

Perjuangan Heni untuk Meraih Cita-cita



Perjuangan Heni agar bisa kuliah di UNSIKA

Saya itu type orang yang labil, faktanya awal masuk SMA saya labil dalam menentukan jurusan, awalnya saya ingin ke IPA tapi setelah di pikir-pikir lagi, saya tidak berminat, dan akhirnya saya masuk IPS alasan saya masuk jurusan IPS yaitu menghindar dari pelajaran fisika, saya paling tidak bisa mengerjakan soal fisika. 

Kelas X guru saya sering bertannya dengan pertanyaan yang sama, pertanyaanya itu adalah: apa cita-citamu? ... saya ingat, pertanyaan itu sudah terlontar sejak saya masih kanak-kanak dan saat itu pula saya sudah bisa menjawabnya. Beda dengan sekarang, saya menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah keyakinan atas dasar pemikiran saya sendiri. Dari dulu ketika ada yang menannyakan perihal cita-cita, saya selalu menjawab citacita saya ingin menjadi guru entah kenapa saya ingin sekali menjadi guru. 

Kelas Xl beda lagi pertanyaanya!! “kalian selepas sekolah mau kuliah atau kerja) itu pertanyaan berat buat hidup saya, karna apa? Saya ingin sekali melanjutkan pendidikan selepas SMA tapi karna orang tua saya tidak punya biaya saya bingung mau kuliah apa kerja tapi dalem hati saya, saya yakin saya bisa untuk melanjutkan pendidikan walaupun orang tua saya tidak mengizinkan saya untuk kuliah.

Dulu yang terpikir kuliah itu mahal, dan saya masih minim tentang informasi bidikmisi. Saya selalu bertanya pada diri saya “apakah bisa orang seperti saya, bisa melanjutkan pendidikan ke yang lebih tinggi?”. Itu saja pertanyaan yang ada dalam pikiran saya. Waktu terus berlalu akhirnya saya berada di posisi yang sangat membingungkan dalam hidup saya, pada saat kelas XII. Dengan berani saya ungkapkan keinginan saya mengenai keinginan untuk kuliah kepada kedua orang tua saya, dan apalah daya orang tua saya tiak setuju kalo saya melanjutkan pendidikan. Alasanya cuman satu “tidak ada biayaya”.

Dari situ sempat saya down dan tidak ingin lagi mempunyai harapan ingin kuliah. Tapi banyak sekali kaka alumni yang datang untuk sosialisasi mengenai perguruan tingi. Dari omonganomongan kaka alumni tersebut saya mendapatkan banyak sekali informasi yang belum saya ketahui mengenai jalur masuk, bidikmisi, dunia perkuliahan, dan motivasi yang membuat saya kembali semangat untuk kuliah. 

Tapi saya selalu bingung, bagaimana caranya meyakinkan kedua orang Tua saya, bahwa kuliah itu gratis tanpa biayaya asal kitanya ada niat dan selalu berusaha dan berdoa. 

Ibu saya yang selalu menentangn jika saya membahas seputar perkuliahan. Dia sangat takut sekali tidak bisa membayar kuliah saya. Pengalaman saya saat mau daftar BIDIKMISI, pendaftaran bidikmisi itu banyak sekali persyaratanya, diantaranya yaitu ada foto keluarga, disitu saya meminta ayah, ibu dan adik saya untuk foto, tapi ternyata ibu saya menolak dengan tegas bahwa dirinya tidak mau berfoto dengan alasan tidak mengizinkan saya untuk kuliah. Disitu perasaan saya sangat  sangat sedih melihat ibu saya yang tidak mau sama sekali kalo saya kuliah. 

Tapi saya tidak patah semangat, saya terus berdoa dan selalu berpikir fositif, saya berpikir ini ujian dari Allah SWT, untuk saya. Disini kesabaran saya terlatih, ketika orang tua saya melarang untuk daftar kuliah saya selalu menjawab dengan tidak sopan, tapi saya sadar bahwa perlakuan seperti itu tidak baik, sebab tidak ada orang tua yang ingin menyengsarakan anaknya, tapi terkadang cara mendidik nya itu berbeda.

Hari demi hari pendaftaran masuk perguruan tinggi pun mulai dekat, disini saya bingung antara daftar dan tidak? Saya pikir kalo saya daftar saya melawan orang tua saya, tapi kalo tidak daftar cita-cita yang dari dulu saya dambakan tidak akan terwujud. 

Dari situ saya selalu mencari motivasi, karena menurut saya hidup itu perlu motivasi, ketika kita lemah perlu ada orang yang membuat kita semangat lagi, alhamdulilah saya menemukan orang yang selalu memotivasi saya sampe sekarang ini, dia selalu bilang kalo keinginan kita baik, Allah juga tidak akan menutup matanya. Dari omongan itu saya berpikir bahwa, kalo saya masuk kuliah saya tidak melawan orang tua saya.

Saya mendaftar kuliah tanpa bilang ke orang tua saya, saya hanya minta doa “mah,,,,pak,,,, lancarkan keinginan saya ya” saya selalu bilang seperti itu kepada kedua orang tua saya, saya tau diam-diam Ibu saya selalu mendoakan saya. 

Pertama saya daftar SPANPTKIN di IAIN Cirebon prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, lalu saya daftar lagi di SNMPTN di UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG prodi Pendidikan Luar sekolah pilihan pertama, dan Ilmu Pemerintahan pilihan kedua. 

Saya sangat berharap bisa masuk SNMPTN dengan prodi Pendidikan Luar Sekolah, alasan saya ingin sekali masuk prodi Pendidikan Luar sekolah yaitu pertama saya ingin bisa bermanfaat bagi orang banyak, sebab di Pendiidkan Luar Sekolah itu banyak sekali mempelajari tentang masyarakat. Dan alasan saya ingin sekali masuk SNMPTN yaitu agar saya bisa membuktikan kepada kedua orang tua saya khususnya dan orang-orang sekitar yang dulu mengira bahwa saya itu tidak mungkin bisa kuliah. 

Setiap hari saya selalu berdoa “YaAllah permudahkalan segala urusan ku jangan engkau persulit, agar aku bisa membahagiakan orang tua ku” dan selalu berpikir positif bahwa saya mampu, saya bisa masuk PTN dan saya bisa kuliah tanpa biayaya dari orang tua saya. Itu saja setiap hari yang saya lakukan. Dan saya berjanji kepada Allah, jika saya lolos ke Perguruan tinggi, saya akan berpuasa selama dua hari. Saya ingat nasehat guru saya “kalo punya keinginan kalian harus bernazar kepada Allah insyallah akan dimudahkan segala urusanya”.

Beberapa bulan setelah pendaftaran, dan tiba saatnya waktu pengumuman dari pihak PTN, pertama dari SPANPTKIN alhamdulillah saya masuk dengan prodi Komunikasi dan penyiaran Islam, dan beberapa minggu setelahnya saya mendapat kabar baik lagi, yaitu saya bisa masuk ke perguruan tinggi dengan prodi yang saya cita-citakan selama ini. Saya ingat sekali pukul 17.30 itu pengumuman SNMPTN di buka. 

Tetapi saya bingung PTN mana yang akan saya pilih IAIN atau UNSIKA? Disitu saya sangat bingung, dan menceritakaan hal ini kepada orang tua saya, tetapi respon orang tua saya itu biasa saja khususnya ibu saya sendiri, malah saya tidak di perbolehkan mengambil kedua-duannya.

Pada saat itu perasaan saya campur aduk antara bahagia atau sedih. Saya berpikir orang lain ketika mendapat kabar seperti itu, dia akan bahagia, tetapi berbanding terbalik dengan diri saya. Saya justru merasa bimbang antara memilih masuk PTN atau mengikuti kemauan orang tua saya, apabila saya mengikuti kemauan kedua orang tua saya, saya pikir usaha saya selama ini sia-sia. Kemudian saya mencari-cari orang untuk bisa meyakinkan orang tua saya, kemudian teman saya menyarankan untuk konsultasi ke guru yang bertanggung jawab atas PTN. 

Guru tersebut bernama Bapak Wawan, saya ceritakaan semua persoalan saya kepada beliau, kemudian beliau memberikan saran yang membuat saya semakin yakin untuk mengejar cita – cita saya, beliau juga memberikan semangat  kepada saya. Berkat saran dan semangat dari beliau, saya bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tanpa memikirkan biaya yang sebelumnya di khawatirkan oleh saya dan orang tua saya. Saya memilih UNSIKA dengan prodi Pendidikan Luar Sekolah, alasan saya lebih memilih UNSIKA karena memang prodi itu yang saya harapkan. Mewujudkan impian memang sulit, bahkan terkadang kita dihadapkan dengan kenyataan yang berbeda dari yang kita bayangkan sebelumnya, dan pada akhirnya membuat kita menyerah dalam meraih mimpi ini.

Jadi pesan saya, bersungguh-sungguhlah dalam mencapai suatu tujuan yang kalian inginkan, karna setiap kesulitan pasti ada jalan. Hidup ini adalah proses pembelajaran, dan disetiap proses pasti ada hambatan atau rintangan yang harus kamu lalui, tetapi sesulit apapun rintangan yang kita hadapi, ia harus di selesaikan, bukan di hindari. Teruslah bermimpi berdoa dan berusaha, jangan mudah menyerah, percayalah lelah ini hanya sementara. Allah tidak akan menguji suatu kaum, melebihi kemampuanNya. Keputusan yang kita ambil saat ini, akan menentukan masa depan mu, di masa yang akan datang. 
Judul Paten : Dengan Kekuatan Do’a, Keinginan Ku Terwujud
Penulis : Heni
Buku : Rangkaian Titik Kehidupan