Widget HTML Atas

Sinergitas Bidikmisi dan Literasi

Sinergitas Bidikmisi dan Literasi - Masa depan, adalah sesuatu yang pantas diperjuangkan. Setidaknya itulah yang aku pikirkan saat kehidupan menuntutku untuk bisa menjadi lebih mandiri. Sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, aku harus terbiasa hidup dengan manajemen diri dan hidup yang baik. 

Bagaimana tidak? Aku menjadi salah satu anak yang merasakan menjadi bagian dari keluarga broken home kala itu, ditambah ibuku mengidap penyakit tumor otak yang cukup ganas sehingga aku dituntut untuk selalu bisa berpikir cepat, mencari solusi dari berbagai masalah yang terjadi dalam hidup. Dan 3 tahun kemudian, aku kehilangan ibu untuk selama – lamanya.

Sinergitas Bidikmisi dan Literasi


Sinergitas Bidikmisi dan Literasi

Masa depan yang telah kurencanakan sebelumnya adalah aku harus masuk sekolah kejuruan yang mungkin saja bisa membantuku mendapat pekerjaan dengan mudah. Setelah lulus sekolah nanti, aku harus langsung bekerja untuk membantu perekonomian keluarga, dimana mendiang ayahku saat itu hanya bekerja sebagai seorang wakar (penjaga malam) yang harus membiayai aku dan adikku di Sekolah Dasar. 

Tidak ada bayangan lain, tidak ada impian lain yang istimewa seperti ketika aku masih kecil dulu, tidak ada perencanaan lain, bahkan tidak ada hal hebat lain yang ingin kulakukan karena aku sadar dengan kondisi keluargaku.

Namun nasib berkata lain. Kala itu, menjelang kelulusan di Sekolah Menengah Kejuruan, seorang guru memanggilku untuk menemuinya. Ia mempertanyakan kenapa setiap kali ada tawaran kuliah dari universitas – universitas yang datang ke sekolah aku tidak pernah tertarik. Kujelaskan jika tidak mungkin bagiku untuk merepotkan ayahku terus menerus dengan membiayai perkuliahan yang pastinya akan memakan biaya banyak. 

“Kamu sudah tahu soal beasiswa Bidikmisi?” tanya guruku kala itu. “Sudah, Bu. Yah, hanya dengar sekilas kemarin.” Tanpa menunggu, guruku langsung menyerahkan selebaran yang berisi informasi beasiswa Bidikmisi dan langsung menjelaskan padaku. 

“Jadi, Bidikmisi ini adalah bantuan biaya pendidikan dari pemerintah yang diberikan bagi calon mahasiswa tidak mampu secara ekonomi dan memiliki potensi akademik, baik untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi pada program studi unggulan sampai lulus tepat waktu. Ibu harap kamu mau coba beasiswa ini dan ikut seleksi masuk perguruan tinggi. Sayang kalau nilai raport kamu cuma jadi pajangan akhirnya,” ucap guruku. 

Entah mengapa, saat itu seolah terhipnotis, impianku ketika SD untuk bisa berkuliah kembali lagi. Semangatku seolah kembali muncul mendengar kata demi kata yang beliau ucapkan. Tak bisa dipungkiri, sifat ambisiusku yang senang mencoba berbagai hal tidak dapat kubendung kala itu. Aku mencoba berbicara dengan ayahku, namun tentu beliau menolak dan sangat menentang keinginanku untuk mengikuti apapun bentuk tes masuk perguruan tinggi. 

Bermodalkan kepercayaan diri dan tekad yang kuat untuk bisa melanjutkan pendidikan, akhirnya aku mengurus segala keperluan yang dibutuhkan untuk mengikuti seleksi sendirian. Mulai dari persiapan bidikmisi, persiapan SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Mengurus berbagai berkas sendirian, harus rela bolak – balik ‘warnet’ untuk mendapatkan username dan lainnya. 

Banyak yang menertawakanku saat itu. Yah, untuk bersaing dengan seluruh siswa di Indonesia tentu tidak mudah, apalagi tes yang kuambil adalah jenis campuran (Saintek dan Soshum), ditambah aku sama sekali tidak punya modal untuk mengikuti les di lembaga – lembaga besar atau sekadar membeli buku latihan – latihan soal SBMPTN. Belum lagi latar belakang pendidikanku yang berasal dari SMK tentu saja tidak mendapatkan pelajaran mencakup materi – materi SMA yang akan ada di SBMPTN. 

Bahkan, aku tidak tahu apa itu tes TPA. Sampai – sampai mendengar lelucon, “SMK Pasti Bisa! Bisa – bisa nangis lihat soal SBMPTN!” sudah menjadi makananku sehari – hari. Bermodalkan latihan soal di sosial media yang secara percuma dibagikan oleh orang – orang dermawan dan latihan soal di buku – buku UN aku mencoba mengejar ketertinggalan materiku yang pastinya sudah cukup jauh. Namun itu bukan halangan, aku tidak suka menyerah, aku tidak suka menggagalkan diri sebelum mencobanya sendiri, aku tidak peduli dengan semua yang meragukanku, yang penting aku puas dengan apapun
hasilnya nanti jika sudah berusaha semaksimal mungkin. 

Singkat cerita, saat itu tanpa pernah kuduga dan dengan ketakutan luarbiasa saat membuka website pengumuman, ternyata aku dinyatakan lulus pada program studi Perencanaan Wilayah dan Kota berstatus penerima beasiswa Bidikmisi. Hingga hari ini, aku masih sangat ingat betapa sangat berkontribusinya bantuan dari Bidikmisi untuk kugunakan sebagai biaya keberangkatan, biaya kost, dan biaya hidup yang kumodalkan menjadi usaha agar uang bantuan tersebut terus berputar.

Selama menjalani perkuliahan, aku semakin paham banyak hal. Salah satunya terkait peran fungsi mahasiswa sebagai seorang generasi perubahan, generasi pengontrol, generasi penerus, dan gerakan moral. Berbekal bagaimana manajemen diri sendiri, manajemen waktu, dan manajemen hidup yang dulu pernah kulewati saat di bangku sekolah serta pelatihan – pelatihan yang kudapatkan selama di kampus membuatku terus berpikir apakah aku hanya akan jadi seorang mahasiswa yang menghabiskan waktunya hanya untuk kuliah, belajar, lulus, lalu sudah, tidak ada pengalaman apa – apa.

Aku mulai tersadar jika salah besar jika orientasi untuk hidup hanya untuk memperkaya diri sendiri. Kaya, adalah ketika kita mampu membagikan sesuatu bagi orang lain, contohnya ilmu. Lalu, ilmu seperti apa yang mungkin bisa aku bagikan? Kepada siapa akan kuberikan? Toh orang – orang yang berada dalam lingkupku juga memiliki ilmu yang sama, justru mungkin saja lebih tinggi daripada aku. 

Pertanyaan – pertanyaan itu terus menghantui pikiranku. Hingga, suatu ketika aku membaca artikel  yang berisi hasil studi dari ‘Most Littered Nation in The World’ oleh Central Connecticut State University pada 2016, Indonesia dinyatakan menempati posisi ke 60 dari 61 negara dengan tingkat minat membaca yang rendah. Selain itu, ada pula data – data yang dihimpun dari Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud melalui proyeksi Badan Pusat Statistik, masih ada 2,068% (3,474 juta orang) mengalami buta aksara.

Tentu saja hal tersebut merupakan suatu permasalahan yang akan berdampak jika dibiarkan. Terlebih lagi, jika generasi muda tidak disadarkan sejak awal pentingnya literasi, khususnya membaca dan menulis yang menjadi modal bagi setiap pekerjaan yang dilakukan. Selain melihat data – data tersebut, aku seringkali menyaksikan langsung bagaimana sulitnya mengajak anak – anak usia dini untuk tertarik pada literasi baca dan tulis. 

Maka dari itu, melalui ketertarikan pada dunia literasi dan kepedulian pada masyarakat yang belum tersentuh literasi, terutama muda – mudi sebagai generasi penerus, aku berinisiatif untuk membuat sebuah kegiatan bertajuk ‘Selasar Pelita’ di lingkungan kampus, dimana sasaran utamanya adalah mahasiswa dan masyarakat umum. 

Pada kesempatan tersebut, agenda yang disampaikan di dalamnya yaitu opentalk terkait pentingnya literasi, bedah buku, musikalisasi puisi, akustik, dan bazar membaca buku gratis. Kegiatan tersebut dibantu oleh organisasi Keluarga Mahasiswa yang kuikuti serta diapresiasi dengan baik oleh mahasiswa maupun dosen serta komunitas membaca yang terdapat di Kota Balikpapan. 

Namun, saat itu aku merasa jika literasi yang kuperjuangkan belum benar – benar mengenai sasarannya dengan tepat. Aku memikirkan bagaimana nasib adik – adik yang kurang mampu untuk bisa bersekolah di luar sana dan bagaimana caranya mereka bisa ‘tersentuh’ langsung oleh literasi. 

Kembali seperti dahulu kala, bermodalkan tekad dan
keyakinan diri yang kuat, aku kembali mengadakan ‘Selasar Pelita’ dengan konsep Diskusi dan Mentoring Online untuk umum yang diisi langsung oleh pemateri kompeten di bidangnya masing – masing (cerpen, puisi, novel, artikel, membaca efektif, menjadi seorang penulis online) contohnya Editor Hipwee, Wulan Fadi, Chang yang merupakan Content Coordinator Talent Scouts ID dan Wattpad Studios Asia, Editor Jurnal Ilmiah ITRev Pingadi Abdi, dan masih banyak lagi. 

Melalui kegiatan ini, semua pegiat literasi diberikan kebebasan untuk melakukan sumbangan sukarela untuk bersama – sama membuka taman bacaan atau memberikan bantuan bagi taman bacaan keliling yang sudah ada berupa buku dan alat – alat tulis yang dapat dimanfaatkan oleh adik – adik usia dini. 

Saat acara tersebut berlangsung, Bidikmisi kembali memberikan bantuan yang berarti, bantuan beasiswa yang kudapat sebagian besar kusisihkan untuk membeli buku – buku bekas layak baca sehingga membantu pengembangan taman bacaan di Kota Balikpapan. Terimakasih Bidikmisi, atas dikari yang telah kupelajari.

Judul : Sinergitas Bidikmisi dan Literasi
Penulis : Muthia Nur Ipmasyari
Buku : Rangkaian Titik Kehidupan