Widget HTML Atas

Teatrikal Kehidupan Si Pengidap Myastenia Gravis

Teatrikal Kehidupan Si Pengidap Myastenia Gravis - Matahari yang matang telah tumbang di kaki langit, cahaya lembutnya membasuh hamparan benua, menyisakan siluet nan indah yang sebentar lagi hilang ditelan malam. Aku melihat banyak kendaraan hilir-mudik memperparah kemacetan sore itu. Riuhan anak jalanan dan gadis belia menjual lembaran korannya, para pedagang dari kaula muda hingga usia senja mulai menjunjung nampan berisikan makanan. 


Teatrikal Kehidupan Si Pengidap Myastenia Gravis


Teatrikal Kehidupan Si Pengidap Myastenia Gravis


Kemacetan yang merajalela dan berlangsung lama semakin memperparah neraka dunia sore itu. Jam menunjukkan pukul 17.52 WIB. Namun kondisi yang menyebalkan ini tidak juga lengkang dari pikiran tiap manusia termasuk aku. Izhar Syafawi. Aku anak ke lima dari enam bersaudara atas pasangan Aisyah Sitorus dan Legimin. Tanggal 16 maret 1998 aku diterima bumi untuk merajut takdir. 


Aku berasal dari keluarga yang dulunya berkecukupan, ibu dan bapakku mempunyai harta warisan dalam bentuk tanah yang luas, sehingga semua yang anak–anaknya inginkan akan terwujud seperti, sepeda motor, telepon seluler, komputer, kamera, dan barang–barang tersier pada masanya. 


Saat ini, sinyalemen di atas hanyalah sebuah histori, tidak lebih baik dari dongeng populer di tahun 2019. Sedari aku duduk dibangku kelas VIII perlahan kantong ekonomi keluargaku merosot drastis, tidak meninggalkan sisa sama sekali. Kami menjual setapak rumah dan bermigrasi pada sebuah desa berkembang di Sei Dadap. 


Sulit untuk beradaptasi, pasalnya kegelisahan saat panas matahari berdifraksi ke dalam rumah, saat hujan harus sedia beberapa ember untuk menanggulangi kebocoran sebab gemericik air menerobos atap, merajelela masuk tanpa izin penghuni rumah. Ditambah halaman rumah layaknya kebun binatang saat musim hujan tiba, banyak katak, ular kecil, nyamuk, laron, ayam dan bebek tetangga, juga sapi turut membentuk formasi tidak menyenangkan untuk dipandang dari jendela kamar. 


Aku memutuskan untuk bekerja sebagai guru ngaji, sejak pulang sekolah sampai pukul sembilan malam. Akupun mendapat gaji. Inilah madu kehidupanku yang terasa manis saat awal bulan tiba. Uang untuk membeli secuil kerupuk pengganjal rasa lapar saat pulang sore hari dan membeli setetes minuman segar saat panas mencekik leherku. Begitu pula biaya membuat tugas sekolahku. Pernah terbesit dibenakku untuk mencuri, karena iri rasanya terhadap mereka yang bisa datang–pergi dengan menggunakan mobil, ponsel dengan kamera bagus, sepatu mengilap dan baru, serta alat belajar yang lengkap. Sungguh, ingin berterik kencang hingga terdengar seantero dunia. 


Namun, aku sadar. Aku hanya seekor cacing kecil yang menyelinap di dalam usus tungau, sekencang apapun aku berteriak, tidak akan terdengar sama sekali oleh siapapun.

Aku memiliki empat orang kakak dan hanya dua yang bergelar sarjana. Awalnya aku tidak direstui oleh kedua orangtuaku untuk kuliah dengan alasan finansial dan kesehatan. Bagaimana tidak, jangankan untuk menyekolahkan anak – anaknya, untuk makan pun harus berpikir seratus kali. Itulah sebabnya sekolah adikku terancam sebab ia tidak mendapatkan beasiswa, berbeda dari aku yang sedari SLTP hingga kuliah saat
ini mendapatkan beasiswa. 

Beginilah pedihnya hidup yang ku jalani hingga di SLTA dan berlanjut di dunia perkuliahan. Menyayat sungguh. Dua puluh lebih prestasi akademik ku sumbangkan untuk almamater sekolah, dari tingkat kabupaten hingga nasional. Astaghfirullah, aku lupa menceritakan sebuah partisi hidupku. 


Aku penyandang Myasthenia Gravis. Adalah penyakit autoimun kronis yang menyebabkan gangguan neuromuskular, merupakan penyakit yang terjadi karena terputusnya komunikasi antara saraf dan otot. Setelah aku beraktivitas yang berlebihan maka penyakit ini akan mengambil perannya, sudah dapat di pastikan aku akan kejangkejang, pingsan atau lumpuh temporal lebih tepatnya. Aku tidak bisa menggerakkan anggota tubuhku. Apalagi menoleh, pun berbicara tidak kuasa. 


Sekujur tubuh di balut oleh rasa nyeri temporal. Tidak akan dapat merasakan apa- apa, walau ditusuk jarum, bahkan dibakar sekalipun. Kalimat defenitif yang tepat mendeskripsikan diriku adalah bangkai yang bernyawa. Empat sampai lima kali frekuensiku untuk menjadi bangkai bernyawa disetiap siklus mingguan, ditambah acara fisik kaderasi himpunan mahasiswa yang tergolong keras. Tidak dapat diungkapkan lagi dengan kata–kata, hampir saja aku menjadi bangkai jenazah. 


Bahkan rumah sakit sudah bosan kiranya menyambut kehadiranku yang dibopong mengggunakan tandu berwarna hijau dalam kendaraan kotak putih yang memiliki sirine merdu sepanjang zaman. Lima hari sebelum tanggal 31 Mei 2016 adalah registrasi mahasiswa baru secara langsung ke kampus, kejadian yang maha dahsyat terjadi. Ibuku, untuk yang kedua kalinya kecelakaan di jalan raya. Darah yang mengucur ditangan dan kakinya, patah tulang yang dideritanya. Kami tak mampu membawanya ke rumah sakit. 


Luka itu masih ada hingga sekarang, ia tiada kuasa untuk beraktivitas dan duduk terlalu lama, sebab back bone nya mengalami fraktura. Ditambah lagi kondisi ayahku, bronkitisnya semakin menjadi–jadi. Seandainya kalian bisa melihatnya dengan jelas, penyakit itu menggrogoti badannya, sehingga tampak kian mengurus, rasa sesak tiap harinya yang tak dapat kami atasi.


Bagaimana mungkin aku sebagai seorang anak lelaki paling besar meninggalkan mereka demi impianku ingin kuliah? Aku memutuskan, aku harus menjadi TKI agar dapat mengobatkan mereka. Seharian aku mengurus berkas untuk kelengkapan passpor dan permit. 


Ketika akan berangkat ke kantor ketenagakerjaan, mereka melarangnya. “Pinjamlah uang ke bank dan gadaikanlah rumah ini sebagai jaminan” ujar ibuku. Air mataku mengucur deras tak tertampung. Tidak ada proses kondensasi dipelupuk mataku. Mengalir dengan debit yang tak terhitung kecepatannya. Aku tidak mengetahui apakah ini rasa kesal mereka terhadap impian konyol yang ingin ku raih.


Bayangkan saja, akan tinggal dimana keluargaku? Jangan tanyakan hal demikian, pasti mereka akan sengsara sementara aku mengejar hedonisme dilingkungan akademik. Singkat cerita aku berupaya dengan keras agar dapat berkuliah dengan bekerja sebagai buruh harian lepas, menggarap ladang milik tetangga, bekerja di rental komputer dan mengajar pada malam harinya. 


Setiap malam ku pandangi tubuhku yang semakin gelap legam, banyak noktah-noktah luka akibat sayatan pisau, babat, cangkul, maupun reranting tanaman yang tidak bersahabat. Mata kananku juga pernah tertusuk sapu lidi hingga satu minggu tidak dapat melihat. Belum selesai, di dunia perkuliahan ternyata lebih kejam dari apa yang kubayangkan.


Aku terhambat di masa Tahap Persiapan Bersama (TPB), sebab ITERA adalah salah satu kampus binaan langsung dari ITB. Tak heran jika semua regulasinya terkesan sama dengan ITB. Poin 41 dan 39 adalah nilai perdana UTS-ku dimata kuliah Fisika dan Kimia Dasar, untuk menyeimbangkan nilai di UAS aku lebih tekun belajar dengan sering seat in dikelas regular lain. 


Malam harinya mengulang materi hingga larut malam dan bangun dini hari untuk kembali mengulangnya. Dinginnya pagi hari dikosan membuat Hipotermiaku beberapa kali kambuh. Inilah rutinitas yang kujalani hingga masa TPB berakhir dan akhirnya aku mendapat prediket lulus TPB terbaik peringkat kedua dan diberi penghargaan Ofyar Z. Tamim. 


Semasa TPB aku memberanikan diri untuk mengikuti kegiatan perlombaan menulis seperti essay dan karya tulis ilmiah. Beberapa momen aku berhasil seperti menjadi duta pendidikan anti korupsi nasional peringkat 12 di Makassar, menjadi finalis mahasiswa berprestasi di Unpab Medan, peserta LMD ITB 86, menjadi delegasi MTQMN yang di Jawa Timur, delegasi ON MIPA Biologi tingkat kopertis wilayah II. Tahun berikutnya, Juara I Nasional Lomba Inovasi di Pekan Baru, finalis Lomba Debat Pancasila di Bandar Lampung, dan beberapa kompetisi lainnya sehingga menghantarkanku seperti sekarang ini. Saat ini aku menyandang gelar mahasiswa berprestasi utama peringkat I Institut Teknologi Sumatera dengan IPK 3.72. 


Aku bukanlah tipikal orang yang menjual kelemahan dan kemiskinan agar orang bersimpati, bukan pula berupaya sombong atas capaian hedonisme, namun aku berusaha menunjukkan dan meyakinkan kepada mereka bahwa seorang penyandang Myastenia Gravis memiliki teatrikal kehidupan tersendiri. Akhir– akhir ini aku disibukkan dengan proyek pembuatan Pembangkit Listrik Tenaga Gempa Bumi (PLTGB) dan instrumen rontgen geofisika untuk menemukan bahan tambang dan mineral tanpa harus eksplorasi mahal. 


Satu hal yang ingin aku sampaikan kepada diri sendiri dan pembaca khususnya: “Tangguh bukanlah berarti bisa menaklukkan segalanya. Namun untuk berdiri tegak walau tubuh ini memberi sinyal untuk menyerah, lalu kita tetap gigih bertahan itulah yang dinamakan tangguh. Tangguh adalah sikap jujur dalam menjalani hidup, Memaksimalkan fungsi dirinya. Berani mengambil resiko dalam melaksanakan hal –hal besar dalam hidup. Berhenti mengeluh dan mengasihani diri”.


Judul : Teatrikal Kehidupan Si Pengidap Myastenia Gravis

Penulis : Izhar Syafawi 
Buku : Rangkaian Titik Kehidupan