Mencetak Generasi Rabbani di Era Milenial

Generasi RabbaniAna adalah titipan Allah Swt. kepada kita, yang nantinya akan dimintai pertanggungjawabannya sebagai orang tua. Allah mengamanahkan anak dalam keadaan suci maka sudah selayaknya ketika kita mengembalikan kepada Allah Swt pun harus dalam keadaan suci pula. 


foto: dream.co.id

Sedangkan seperti yang kita ketahui bahwa pergaulan diluaran sana dewasa ini sangatlah mengerikan. Maraknya LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender), pergaulan bebas, perkataan mengumpat yang kini sudah menjadi hal yang biasa, bahkan sering kali kita dengar dari mulut anak kecil, zina (pacaran) yang kini sudah tidak malu-malu lagi didepan umum atau bahkan di ekspose ke media sosial.

Sungguh keadaan ini sangatlah memprihatinkan dan menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua, bukan hanya untuk orang tua tapi ini adalah tugas kita semua, sebagai kakak, adik, paman, bibi, tetangga dan pemerintah. Bahkan walaupun kita tidak mengenalinya sekalipun, ketika kita melihat hal-hal yang bathil maka sudah menjadi kewajiban kita untuk mencegahnya. Rasulullah pun pernah bersabda: “Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, apabila belum bisa, maka cegahlah dengan lisanmu, apabila belum bisa, cegahlah dengan hatimu, dan mencegah kemungkaran dengan hati adalah pertanda selemah-lemah iman.”(HR.Muslim)

Lalu bagaimana caranya agar kita dapat menjadi orang tua yang amanah dengan apa yang Allah titipkan, supaya kita sebagai orang tua tau pendidikan yang harus ditanam sejak anak masih kecil agar membentuk karakter mujahid pada diri anak.

Pertama, kita tanamkan sifat Amanah. Kita latih anak dari kecil (usia mumayiz) untuk bisa memegang amanah, contoh kecil seperti harus mengerjakan tugas sekolah/PR, bertanggung jawab ketika setelah makan, kita latih anak setelah makan bekas piring dia harus di cuci sendiri, dan ketika bangun tidur untuk merapihkan sendiri tempat tidurnya. Memanjakan anak tentu boleh saja, namun memanjakan anak dengan berlebihan akan menjadi boomerang bagi orang tuanya juga, karena anak tidak diberikan pemahaman dan di latih dengan menjalankan amanah. Sehingga anak akan memiliki sifat yang lemah, setiap ada masalah pada dirinya dia akan merengek kepada orang tuanya atau dia akan menjadi pribadi yang mudah menyerah. Dengan anak yang di latih dari kecil, maka ia akan cepat matang pemikirannya dan kelak ketika dia besar menjadi orang yang bertanggungjawab juga cekatan.

Rasulullah Saw. telah mempraktekannya juga mengajarkan kepada kita, bahwa ketika beliau kecil pun, beliau sudah dilatih amanah. Rasul diberikan amanah untuk mengembala kambing.

Orang tua pun bukan hanya sebagai penasehat untuk anak-anaknya, akan tetapi orang tua harus menjadi contoh bagi anak-anaknya tentang amanah. Jangan sampai anak melihat orang tuanya melakukan perbuatan khianat, maka itu akan menghancurkan anak, karena tidak ada teladan lagi bagi dirinya.

Sifat yang kedua yaitu Menjaga Rahasia. Salah satu tanda orang bisa amanah maka ia akan bisa menjaga rahasia. Perangai ini penting sekali dan tanamlah sifat ini kepada diri anak dari ia masih kecil. Kita latih juga anak dari kecil, tentunya dengan rahasia-rahasia yang kecil, hal ini hanya untuk melatih anak dengan sifat dapat menjaga rahasia.

Kita dapat mengambil pelajaran dari kisah Anas bin Malik. Dikisahkan oleh Tsabit bahwa Anas pernah bercerita, “Rasulullah mendatangi saya ketika saya sedang bermain dengan anak-anak lainnya. Beliau mengucapkan salam kepada kami. Lalu beliau mengutusku untuk suatu keperluan, sehingga aku terlambat pulang ke rumah ibuku. Ketika sampai di rumah, ibu bertanya, “Kenapa pulang terlambat?” Aku menjawab, “Rasulullah mengutusku untuk suatu keperluan.” Ibu berkata,”Keperluan apa?” Aku menjawab, “Ini rahasia, bu.” Ibu berkata,”Jangan diceritakan kepada siapapun.” Anas berkata kepada Tsabit, “Demi Allah seandainya aku menceritakan kepada seseorang, tentu aku akan bercerita kepadamu.” (HR. Muslim : 2482)

Kemudian sifat selanjutnya yang harus ditanamkan adalah Menjaga Lisan. Biasakanlah anak untuk mengucapkan perkataan yang baik-baik, hal ini tidak bisa diajarkan dengan teori, tetapi harus dicontohkan oleh kedua orang tuanya. Karena pendidikan rumah sangat mempengaruhi. Ketika di luar, anak melihat dan mendengarkan berbagai perkataan kotor dan mengumpat, ketika ia kembali ke rumah maka ia akan steril kembali saat melihat akhlak orang tuanya atau lingkungan rumahnya yang baik.

Namun, jika orang tuanya sendiri teriak-teriak, kalau memanggil dengan tidak sopan. Misal seorang ayah memanggil istrinya dengan panggilan buruk, maka sepontan anak akan meniru apa yang sudah dilakukan orang tuanya, meskipun tidak diajari. Maka jangan heran jika anak mengucapkan perkataan yang buruk/mengumpat apabila orang tua atau lingkungan rumahnya pun sering mengucapkan hal yang buruk juga.

Oleh karena itu kita sebagai orang tua bukan hanya sebagai penasehat atau menjadi orang yang suka mengatur dengan berbagai hukuman-hukuman, tetapi kita juga harus menjadi teladan bagi anak-anak kita, karena kebutuhan yang penting bagi anak adalah sentuhan fisik antara anak dengan orang tua, peluk anak kita, cium anak kita. Karena jika dikeluarganya rusak, lingkungan diluar pun rusak maka rusak pula akhlak anak.

Penulis: 
Rodiyatul Maula
Mahasiswi STEI SEBI DEPOK

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel