Menjadi Baik Dengan Kebaikan-Nya

Sebuah kehidupan nyata dimana bumi telah krisis akan moral manusia. Sebuah bentuk kehilangan pondasi dari berdiri nya sebuah jati diri dan perilaku baik. Seakan-akan kebebasan adalah hakikat yang sesungguhnya. Bebas bertindak semaunya tanpa apa-apa. Apa benar itulah kebebasan, saat aturan dan norma berlaku tak diindahkan dan diacuhkan. Semata hanya karena sebuah kebebasan?. Bebas menentukan bagaimana hidup nya akan berjalan.


Adalah manusia, makhluk hidup yang menempati bumi dengan akal sehat nya. Hidup berdampingan dan saling membutuhkan antar sesama. Dari tangan-tangan nya pula terbentuk karakter, sikap, dan perilaku yang membungkus pribadinya dihadapan orang lain. Akan seperti apakah seseorang memandang pribadi orang lain?. Bukan sebuah kemunafikan jika manusia menilai kehidupan orang lain dengan hanya memandang sampul nya. Tidak semua, namun sebagian besar. Hal inilah yang membentuk sebuah kesalah pahaman dalam menentukan pribadi seseorang.

Hubungan manusia dengan sesama nya tentu berharap pada perihal yang baik-baik saja. Tak banyak orang yang ingin dan betah berlama-lama mengenal seseorang karena sikap buruk ataupun ketidakberuntungan nya. Seperti inilah keadaan yang melengkapi perilaku baik. Tidak ada baik kalau buruk tidak lahir. Lantas, seperti apakah nasib si buruk kemudian? Apakah sekedar menghirup udara pagi adalah sebuah kesalahan?
Si baik tak selamanya baik. Baik juga berada pada pilihan jalan hidup nya masing-masing. Baik yang ingin baik sendiri, dan baik yang tak ingin sendiri. Dengan pilihan nya itulah masing-masing dari kita dapat melihat seperti apakah seseorang berjalan. Sendiri atau beramai-ramai. Atau bahkan bergandengan dengan si buruk? Berbicara tentang si baik, coba kita ulas seberapa baik kah si baik.

Baik yang memiliki banyak keberuntungan dalam hidup nya, tidak pernah berbuat kriminal, rajin belajar, membawa bekal makanan saat sekolah dengan maksud tak ingin merepotkan orang tua, atau si baik yang suka mengikuti program acara berbagi bersama?. Mungkin seperti inilah baik yang sering kita temui pada perjalanan kehidupan. Baik yang berjalan dijalan nya sendiri. Baik yang berkelana dengan segala rencana panjang yang telah disusun nya sedemikian rupa. Namun bagaimana dengan si baik yang lain?

Si baik lainnya inilah sesosok yang istimewa. Kebaikan yang dibawa tidak semerta-merta untuk dirinya. Banyak orang lain yang berperan dalam hidup nya. Seseorang yang sama baik dengan dengan nya ataupun si buruk yang menjadikan dirinya seorang yang baik. Seperti saat memasak setengah wajan misalnya. Mungkin sudah cukup mengenyangkan baginya, tapi mengapa dia malah membawa kuali besar dan mengisi nya dengan berbagai masakan dengan porsi besar? Atau saat mereka rela menunggu seseorang di bawah air hujan dengan motor butut nya hanya untuk pulang bersama?.

Raga dan jiwa seperti inilah yang patut mendapat piala bergilir dari bapak gubernur provinsi tempat tinggal nya berada. Sosok-sosok langka yang tidak ingin kebaikan hanya ada pada dirinya saja. Sosok manusia yang kebaikannya ia berikan kepada banyak orang. Berbahagialah si buruk yang tak sendiri. Fahami dan bukalah mata selebar mungkin. Temukanlah diantara kawan hidup mu yang layak mendapat predikat si baik yang istimewa. Akan banyak sekali perubahan alur hidup dalam dongeng mu nanti.

Tetap baik lah si baik yang sendiri. Dan berbanggalah kamu si baik yang istimewa bagi para buruk yang sedang dalam perjalanan untuk menjadi seperti mu. Karena kebaikan dapat menjadikan seseorang bahagia dengan perubahan dalam hidup nya.

Oleh : Sarah Nabila/Mahasiswi STEI SEBI

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close