Widget HTML Atas

10 Jenis Wayang asal di Indonesia Lengkap dengan Gambar

Jenis Wayang yang ada di Indonesia Lengkap dengan Penjelasan dan gambarnya akan saya sajikan dalam kesempatan ini, untuk itu mari simak pembahasannya secara lengkap dan terperinci dalam perjumpaan artikel kali ini. Wayang adalah salah satu seni pertunjukan tempo dulu asli Indonesia yang sudah berkembang sejak lama di pulau jawa dan bali. 

Ada beragam jenis wayang yang ada di Indonesia, dari wayang kulit, wayang orang sampai dengan wayang golek dan wayang-wayang lainnya. Wayang ini sangat digemari oleh kalangan orang tua, karena isi dari ceritanya ini berisi cerita ramayana dan juga kisah kehidupan tempo dulu. Wayang biasa dipentaskan pada malam hari maka tak heran wayang ini dikenal dan diangkat UNESCO sebagai warisan budaya tersohor di Indonesia dengan kategori boneka bayangan.

Jenis-jenis Wayang yang ada di Indonesia


Jenis Wayang yang ada di Indonesia

Semakin tahun pertunjukan wayang semakin redup hal ini dikarenakan budaya konsumsi generasi sekarang ini sudah beralih ke dunia teknologi digital. Maka tak heran kalau ada pertunjukkan wayang di suatu acara baik khitanan, sasi suro maupun pernikahan mayoritas penontonnya adalah kalangan orang tua yang sudah lanjut uisa.

Maka dari itu, untuk memperkenalkan dan mempertahankan peninggalan leluhur nenek moyang kita maka sudah sepantasnya kita menjaga dan melestarikannya agar tidak di ambil oleh negara lain. Guna memperkenalkan kembali peninggalan sejarah ini, berikut akan saya rangkum jenis-jenis wayang yang ada di Indonesia, untuk itu mari simak ulasannya berikut ini !

Berikut 10 jenis Wayang yang ada di Indonesia lengkap dengan gambarnya :


1. Wayang Kulit



wayang kulit asli indonesia

Seni wewayangan yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur memang cukup populer. Adapun jenis wewayangan yang paling populer di daerah ini adalah wayang kulit atau  wayang kulit purwa. Wayang Kulit ini bentuknya pipih dan bahan baunya terbuat dari kulit kerbau atau kulit kambing. Pada bagian lengan dan kaki wayang ini bisa digerakkan. Biasanya pertunjukkan wayang di Bali dan Jawa sering kali menggabungkan dengan unsur cerita-cerita Agama Hindu, Budha dan Islam. Selain kisah-kisah religius yang diangkat,  ada juga cerita rakyat serta mitos yang sering digunakan dalam menciptakan jalannya cerita pementasan wayang kulit tersebut.


2. Wayang Beber



wayang beber asli indonesia

Wayang asal Indonesia yang kedua ada jenis Wayang beber. Wayang Beber ini merupakan salah satu jenis wayang paling tertua di Indonesia. Dalam sebuah pertunjukannya untuk narasi yang digunakan masih berupa lembaran gambar panjang kemudian dijelaskan oleh seorang dalang. Wayang beber ini menjadi wayang tertua yang bisa kita temukan di daerah Pacitan, Donorojo, Jawa Timur. Selain alur ceritanya dari kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana, wayang beber juga bisa menggunakan alur cerita tentang kisah-kisah dari cerita rakyat jaman dulu, seperti kisah asmara Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji.


3. Wayang Klitik (atau Karucil)



wayang klitik asal Indonesia

Jenis wayang yang ketiga ada wayang Klitik. Wayang ini berbentuk sangat mirip dengan wayang kulit teta[i ada perbedaanya dari segi bahan bakunya. Karena wayang Klitik ini terbuat dari kayu, bukan kulit. Biasanya masyarakat di daerah Jawa Timur juga menggunakan bayangan dalam sebuah pertunjukannya. Kata “klitik” sendiri berasal dari suara kayu, hal ini terinspirasi dari bersentuhan di saat wayang Klitik ini digerakkan atau saat adegan perkelahian di suatu pertunjukan wewayangan. Adapun untuk kisah-kisah yang digunakan dalam drama wayang Klitik ini berasal dari kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa Timur, seperti Kerajaan Kediri, Jenggala, dan Majapahit. Untuk cerita yang paling populer dalam pertunjukkan wayang klitik ini adalah tentang Damarwulan. Karena cerita ini banyak dipenuhi dengan kisah perseturan asmara dan hal ini sangat digemari oleh publik.


4. Wayang Golek



wayang golek

Jenis wayang yang ke-empat ada wayang Golek. Dari pertunjukan ini biasa dilakukan menggunakan wayang dengan jenis tiga dimensi yang biasa terbuat dari bahan kayu. Jenis wayang Golek ini paling populer di daerah Jawa Barat. Ada dua macam wayang golek yang populer di daerah Jawa Barat, yaitu wayang golek purwa dan wayang golek papak cepak. Adapun untuk jenis wayang golek yang sudah banyak dikenal orang adalah jenis wayang golek purwa. Kisah-kisah yang biasa di perankan dalam suatu pertunjukkan wayang golek ini sering mengacu pada tradisi Jawa dan Islam, seperti halnya tentang kisah Pangeran Darmawulan, Panji, dan Amir Hamzah, pamannya Nabi Muhammad a.s.


5. Wayang Wong / Wayang Orang



wayang wong atau wayang orang

Jenis wayang yang ke lima adalah Wayang Wong atau Wayang Orang. Jenis wayang ini adalah dalam bentuk sebuah drama tari yang mana diperankan atau menggunakan manusia untuk memerankan tokoh-tokoh wewayangan yang mana didasarkan pada kisah-kisah wayang tradisional pada umumnya. Unsur cerita yang sering digunakan dalam pertunjukan wayang orang adalah  Smaradahana. Pada awal mulanya pementasan wayang orang ini hanya diperuntukkan sebagai hiburan bagi para bangsawan kerajaan, namun ternyata hingga saat ini makin menyebar luas dan menjadi bentuk kesenian yang cukup populer di Indonesia.


6. Wayang Suket




Wayang Suket dari Solo

Jenis wayang yang ke-6 ini sebenarnya sama halnya seperti wayang Kulit. Tetapi jenis wayang satu ini terbuat dari bahan rumput maka istilah bahasa jawanya biasa disebut dengan wayang suket, karena suket ini yang berarti rumput.

Cara memainkan wayang suket juga hampir sama dengan memainkan wayang kulit. Wayang suket ini dibuat oleh seorang seniman asal Tegal yang bernama Slamet Gundono. Beliau adalah seroang Tokoh yang ada di Tegal dan berusaha mengangkat dunia wewayangan dengan cara berbeda yaitu dari bahan baku wayang itu sendiri.


Slamet Gundono adalah seorang lulusan STSI Pedalangan yang memang spesialis mendalami akan budaya jawa, tinggal beliau sekarang masih berada du Solo. Dalam memainkan wayang Suket, Slamet Gundolo mengandalkan unsur teatrikal dan kekuatan dalam bercerita. Maka tak heran dalam pementasan wayang suket ini banyak masyarakat yang suka menonton.



Seperti halnya pertunjukkan wayang kulit, dalam pementasannya wayang suket juga di isi dengan beberapa alat musik yaitu ada alat petik, gamelan, tiup, dan alat musik tradisional lainnya yang khas meletak akan dunia wewayagan.


7. Wayang Gedog



wayang gedog

Diantara kalian pasti ada yang tidak familiar dengan jenis wayang yang satu ini. Wayang ini adalah bernama wayang Gedog. Wayang Geog memiliki alur cerita dari serat Panji, yaitu dimana kisah ini terjadi sejak zaman Majapahit kuno. Bentuk dari wayang Gedog juga hampir sama dengan wayang purwa. 

Wayang Gedog ini menceritakan tentang tokoh-tokoh kesatria Mataram yang mana dulu mereka selalu mengenakai tekes dan rapekan.

Untuk tokoh rajahnya biasa mengenakan Garuda Mungkur an Gelung Keling. Dalam cerita Panji ini tidak ada tokoh kera da raksasa. Adapun untuk menggantikan tokoh ini maka terdapat tokoh Prabu Klana dari Makassar yang mana sang Prabu ini memiliki tentara dari Orang-orang suku Bugis.


Wayang Geog ini diciptakan oleh Girindrawardhana pada tahun 1485. Dalam pementasannya wayang Gedog ini juga di iringi dengan tabuan Gamelan dengan berlaras pelog. Wayang Gedog ini dapat kita jumpai di Surakarta, karena di daerah ini ada dua jenis wayang Gedog yaitu dari Bapak Subantar dan Bapak Bambang Suwarno. Dimana mereka ini adalah salah satu desainer dari wayang Gedog ini yang masih mampu bertahan hingga sekarang.


8. Wayang Purwa


Wayang Purwa


Jenis wayang yang ke-8 adalah wayang Purwa. Pasti diantara kalian sudah ada yang tidak asing lagi dengan jenis wayang yang satu ini. Wayang Purwa ini memang berbeda bentuknya dengan wayang kulit lainnya. Jadi, wayang Purwa ini adalah wayang yang paling tua dinatara wayang-wayang lainnya yang ada di Indonesia. Arti dari Purwa sendiri adalah Awal maka tak heran kalau wayang ini mempunyai usia yang paling tua, karena wayang ini sudah ada pada prasasti pada abad ke 11 di zaman kerajaan Erlangga kuno.

Orang jawa kuno memang terkenal sangat dalam dalam memaknai sebuah wewayangan, maka tak heran ada pribahasa Jawa yang mengatakan "Hanonton ringgit manangis asekel muda hidepan, huwus wruh towin jan walulang inukir molah angucap" yang artinya : ada orang yang melihat wayang itu menangis, kagum, serta sedih hatinya, walaupun sudah mengerti bahwa yang mereka lihat itu hanya kulit yang di pahat dalam bentuk orang yang bergerak dan berbicara.


Sejarah mula munculnya wayang sendiri dikenal di pulau jawa pada masa pemerintahan harmawangsa Airlangga di Kerajaan Kediri. Wayang ini biasanya menggunakan cerita Ramayana dan Mahabarata. Sedangkan untuk cerita Panji biasanya di sajikan dalam wayang Gedog. Wayang ini terbuat dari bahan baku Kulit Kerbau yang di tatah atau dipahat. Untuk tangkainya berbahan tanduk kerbau bule yang sudah di oleh sedemikian rupa dan biasa disebut dengan cempurit yang terdiri atas tuding dn gapit.


9. Wayang Gambuh



Wayang Gambuh


Jenis wayang yang ke-9 berikut ini adalah wayang Gambuh. Pasti diantara kalian ada yang baru tahu ada wayang yang bernama Wayang Gambuh. Wayang Gambuh adalah wayang yang berasal dari Bali. Wayang ini adalah jenis wayang kulit yang melakonkan cerita Malat. Seperti halnya pangeran P{anji yang ada di Pulau Jawa.


Lakon dari wayang Gambuh ini adalah Dramatari Gambuh. Dalam pertunjukkan wayang ini juga di iringi dengan tabuhan gamelan dan ucapan-ucapannya. Konon bahwa perangkat wayang Gambuh ini tersimpan di Blahbatuh yang mana dari pemberian dari seorang Raja Mengawi yang mempunyai gelar I Gutsi Agung Sakti Blambangan. Hal ini terjadi pada tahun 1634. Dalarang yang terkenal dalam memainkan wayang Gambuh ini adalah I Ketut Rinda beliau adalah salah satu dalang angkatan terakhir spesialis wayang Gambuh. Sebelum beliau meninggal dunia sempat menurunkan keahliannya kepada I Made Sidja dan I Wayan Nartha.


10. Wayang Dupara


Wayang Dupara

Jenis wayang yang ke-10 adalah Wayang Dupara. Wayang ini adalah salah satu jenis wayang yang sudah ada pada jaman kuno.  Wayang Dupara ini diciptakan oleh R.M. Danuatmaja, beliau adalah keponakan dari Sri Mangkunegara IV dari Solo pada tahun 1894. 

Wayang Dupara ini menceritakan akan lakon-lakon pada persitiwa Babad Demak, Babad Pajang, dan juga Babad Mataram. Wayang Dupara ini juga menceritakan hingga sampai pada masa Kartasura (masa Perang Diponegoro). Nama dari Dupara ini berasal dari kata Andupara, yang memiliki arti "aneh".


Wayang Dupara ini terbuat dari bahan kayu, dan ada juga yang terbuat dari bahan kulit, misalnya pada koleksi milik Museum Sonobudoyo yang terbuat dari kayu dan berbahan kulit.

Baca Juga : 20 Contoh Tari Tunggal Asal Indonesia

Nah, itulah beberapa jenis wayang yang populer di Indonesia dan asli dari Indonesia. Semoga dengan adanya ulasan ini dapat bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan bagi generasi bangsa di Idonesia agar tidak lupa dengan sejarah dan peninggalan budaya ini. Mungkin hahya ini yang dapat saya persembahkan untuk pembaca setia, sekian dan sampai jumpa di pembahasan yang lainnya.